“I, Frankenstein”, Saatnya Manusia Menjadi Tuhan

< ![endif]-->

KALAU saja Dr. Victor Frankenstein tidak sampai mati terbunuh, bisa jadi sekali waktu ia akan menjadi ‘tuhan’ beneran. Itu karena Victor Frankenstein berhasil menjadi ilmuwan yang mampu ‘menciptakan’ manusia-manusia baru berbahan dasar sekumpulan daging mayat.

Sama seperti Tuhan sebagaimana dikisahkan oleh Kitab Kejadian yang ‘menghembuskan’ roh nafas kehidupan kepada Adam dan Hawa, maka Dr. Victor Frankenstein berhasil ‘memberi nyawa’ kepada mayat hingga kemudian menjadi ‘mayat hidup’ (baca: manusia).

Mayat hidup

Sayangnya, dalam kisah mitos ini Victor Frankenstein akhirnya mati beku. Ia tak berhasil mengejar dan melenyapkan ‘mayat hidup’ hasil kreasinya sendiri, setelah terlebih dahulu melihat istrinya dibunuh oleh monster mayat hidup hasil kreasi di laboratorium kedokterannya. Namun, ia meninggalkan jurnal atau buku harian tentang bagaimana memroses mayat-mayat hingga kemudian berhasil ‘diberi’ roh dan menjadi mayat hidup/manusia.

Buku jimat inilah yang diperebutkan oleh dua kekuatan yang menguasai dunia.

i-frankenstein-2014-movie-poster-620x320

Kekuatan baik direpresentasikan oleh Ordo Gargoyle pimpinan Lenore (Miranda Otto). Sementara kekuatan jahat muncul dalam diri sekawanan iblis yang telah menyaru diri menjadi manusia modern  berprofesi sebagai pengusaha kakap  bernama Charles Wessex (Bill Nighly). Padahal, Charles sejatinya adalah Pangeran Naberius, pemimpin gerombolan kekuatan jahat/iblis yang ingin menguasai dunia dengan memanipulasi robot sebagai mesin pembunuhnya.

Jurnal peninggalan Dr. Victor Frankenstein menjadi harta tak ternilai bagi Wessex lantaran tanpa henti dirinya selalu terbakar oleh ambisinya ingin bisa memberi ‘roh kehidupan’ terhadap ribuan robot yang tengah diproses oleh  ilmuwan andalannya yakni Dr. Terra Wade (Yvonne Strahovski). Untuk misi yang lain, Lenore yang memimpin pasukan berani mati Ordo Gargoyle juga punya maksud sama: menguasai ilmu ‘kreasi manusia’ ciptaan Victor Frankenstein melalui jurnal ilmiahnya.

Tak beridentitas

Monster tanpa nama (Aaron Eckhaart) muncul dalam pusaran pertarungan antara kekuatan jahat dan kekuatan baik yang direpresentasikan oleh Wessex vs. Lenore. Sekalipun sempat menjadi ‘tawanan’ Lenore untuk kedua kalinya, namun akhirnya monster tanpa nama ini akhirnya bersekutu melawan Wessex, tak lama setelah mendapatkan nama julukannya yakni Adam.

Adam dan Dr. Terra dipertemukan oleh satu kepentingan sama, namun dengan perspektif berbeda.

Adam ingin tahu ‘sejarah hidupnya’: darimana dia berasal dan siapa ayah-ibunya. Untuk itu, dia butuh Dr. Terra untuk menerangkan asal-usulnya secara ilmiah. Sebaliknya, dokter cantik ini butuh Adam karena monster manusia tanpa “roh” ini menjadi bukti nyata bahwa memang manusia bisa ‘menjadi Tuhan’ karena berhasil membangkitkan mayat menjadi mayat hidup (baca: manusia).I Frankenstein Dr terra

I, Frankenstein menjadi menarik, justru karena saya menontonnya dengan perspektif di atas. Terutama bagaimana manusia –sang kreator pemberi kehidupan pada mayat—sekali waktu memang bisa ‘menjadi Tuhan’. Yang kedua, di dunia ini selalu ada pertarungan tanpa henti antara kekuatan jahat melawan kekuatan baik. Lenore dan Wessex mewakili dua kutub berseberangan ini.

Tanpa perspektif itu, saya yakin film  I, Frankenstein menjadi tontonan yang membosankan.

Photo credit: Istimewa

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.