Hukuman Suspensi dan Revolusi Mental Gereja

Ilustrasi (Ist)

BEBERAPA  pihak menyayangkan mengapa Sesawi.Net mengambil sikap ‘tega’ merilis berita soal pemberian hukuman suspensi kepada seorang pastor di KAJ. Intinya, mereka sedikit memrotes mengapa surat konfidensial seperti itu bisa bocor kepada publik.

Mereka ini berpendapat, sebaiknya hal-hal konfidensial seperti itu –demikian isi bunyi ‘protes’ sebagian pembaca kepada kami—tetap dirahasiakan agar tidak membuat Sang Pastor X lalu kehilangan muka. Menurut mereka, ini masalah sensitif bagi Gereja.

Baca juga: 

Sedikit kilas baliknya

Perkenankan kami memberi sedikit gambaran latar belakang dan histori mengapa akhirnya kami merilis berita tersebut.

Uskup Agung Keuskupan Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo. (Ist) Foto jepretan surat pemberian hukuman suspensi itu semestinya memang hanya boleh beredar di kalangan terbatas yakni para imam lingkaran dalam di KAJ. Namun, pada kenyataannya foto jepretan itu sudah telanjur beredar meluas di jalur medsos sepanjang Rabu sore kira-kira pukul 17.00 WIB dan barangkali juga jam-jam sebelumnya. Intinya, sudah goes viral kemana-mana.Redaksi juga menerima kiriman foto jepretan tersebut dari beberapa aktivis Komsos KAJ dan beberapa pembaca kira-kira baru pukul 17.30-an WIB. Mereka semua menanyakan kebenaran ‘isi’ jepretan surat konfidensial tersebut. Ketika menerima kiriman jepretan foto tersebut di jalur medsos, kami sungguh terkejut dan terus-terang menjawab: “Tidak tahu dan berilah kami waktu untuk minta konfirmasi kebenaran isi sebaran medsos itu kepada Keuskupan.”

Mengerem ekses berlebihan dan tidak proporsional

Daya sebar medsos itu sungguh luar biasa dan tentu saja juga menimbulkan multi tasfir yang akan melebar kemana-mana tak terkontrol. Karenanya, tergerak oleh kepentingan Sentire cum Ecclesiae (semangat bersepaham dengan Gereja) maka sudah menjadi kebijakan Redaksi sejak awal ketika portal berita katolik Sesawi.Net ini kita dirikan di bulan April 20111 lalu, maka kami berketetapan hati  untuk segera mengerem laju sebaran medsos tersebut. Kami memilih prinsip dengan  terlebih dahulu minta konfirmasi dan mencari kebenaran-tidaknya isi sebaran medsos tersebut.Kontak kami dengan Bapak Uskup KAJ terjadi sekitar pukul 20.00-an WIB, sementara isi sebaran medsos itu kian menggila dan telah melebar kemana-mana. Ketika Bapak Uskup dengan jelas dan tegas mengatakan isi sebaran medsos itu benar dan memang begitu adanya, maka lalu diambil keputusan final segera membuat berita ringkas secara proporsional.Fokusnya, bukan tentang siapanya melainkan bicara tentang apa itu hukuman suspensi dalam Hukum Gereja (Kitab Hukum Kanonik).Pertimbangannya  sangat strategis: daripada isi sebaran medsos itu melebar kemana-mana dan menjadi issue besar yang tidak proporsional, maka jauh lebih bijak membuat berita netral tanpa bermaksud mendiskreditkan pihak yang terlibat di dalamnya namun mendudukkan kasus itu pada proporsinya.Sudah barang tentu kehebohan besar segera menyeruak. Tanpa ada berita rilisan dari Sesawi.Net pun, kegaduhan itu pasti juga akan muncul. Maka, kita harus mengambil sikap yang jelas dan proporsional.Ini juga kami lakukan dengan membuat berita berbeda dari media mainstream ketika telah terjadi miskomunikasi mengenai materi press release hasil-hasil Sidang Tahunan KWI November 2014. Di situ terjadi ‘jurang pemahaman’ yang tidak sinkron antara pernyataan bernada harapan yang disampaikan Sekjen KWI (waktu itu) alm. Mgr. Yohannes Pujasumarta dengan awak media yang menghadiri temu pers tersebut. Ketika itu, sungguh jelas dinyatakan oleh alm. Mgr. Pujasumarta yakni konteks harapan KWI yang bermaksud ingin mengundang Bapa Suci Paus Fransiskus kalau-kalau saja  berkenan mau datang mengunjungi Indonesia dalam rangka Asian Youth Day 2017.Namun, karena cakupan wawasan awak media yang mungkin terbatas atau tidak terlalu paham dengan konteks susunan hirarki gerejani, maka pernyataan alm. Mgr. Pujasumarta dalam konteks harapan dan keinginan KWI yang ingin mengundang Paus Fransiskus itu telah dimengerti salah. Harapan dan keinginan KWI itu lalu  dengan gagah perkasa lalu ‘diterjemahkan’ oleh sebuah media berbahasa Inggris sebagai pernyataan afirmatif: Paus Fransiskus akan datang mengunjungi Indonesia dalam rangka Asian Youth Day 2017.Ketika Redaksi Sesawi.Net memberitahu KWI telah terjadi salah paham pemberitaan dan telanjur dikutip di banyak media mainstream maupun non-mainstream, maka hebohlah dunia persilatan di tanah air. Media senang karena mendapat berita bagus tentang rencana Bapa Suci Paus Fransiskus akan datang mengunjungi Indonesia di tahun 2017 bersamaaan dengan Asian Youth Day. Padahal, pihak KWI hanya menyampaikan undangan dan harapan siapa tahu Paus berkenan datang.Berita simpang-siur inilah yang kemudian membuat repot alm. Mgr. Pujasumarta dan Mgr. Ignatius Suharyo dalam kapasitasnya sebagai Sekjen dan Ketua KWI. Uskup Agung Keuskupan Semarang dan Uskup Agung Keuskupan Jakarta ini harus bolak-balik menerangkan kekisruhan dan kekeliruan penafsiran awak media itu kepada Nuntio Dubes Vatikan untuk Indonesia Mgr. Antonio Guido Filipazzi.Barulah kemudian dilakukan ralat oleh media, namun pemberitaan salah itu sudah telanjur goes viral kemana-mana tanpa bisa kita setop. Bahkan belakangan juga masih juga muncul berita-berita bombastis mengenai hal itu bahwa Paus akan datang ke Indonesia. Ketika hal itu kami sampaikan kepada yang memberi pernyataan, beliau baru menyadari bahwa konteksnya adalah undangan dan belum tentu juga Vatikan menyetujui undangan KWI tersebut.

Belajar dari pengalaman

Atas pengalaman harus mengendalikan issue agar jangan sampai melebar kemana-mana itulah, Redaksi Sesawi.Net mengambil kebijakan merilis berita soal suspensi tersebut. Itu pun masih ada risiko dikritik sebagai tidak ‘berbelarasa’ dengan korban. Sejujurnya, kami juga tidak kenal korban dan tidak tahu derajad kesalahannya sampai akhirnya kami mengontak beberapa pastor senior untuk minta keterangannya.

Pembaca pun juga kena semprot.  Anne, seorang pembaca alumnus Kolese Gonzaga di Pejaten Jakarta Selatan misalnya, mengaku di-bully pembaca lain yang mengritiknya kenapa telah tega membagi tautan berita tersebut kemana-mana. Namun, pada saat yang sama juga ada banyak pembaca lain punya sikap sangat berbeda.

Ya memang inilah dunia teknologi komunikasi modern zaman sekarang. Kejujuran, akuntabilitas dan transparansi sudah tidak bisa dibendung lagi.

Semua serba transparan

Kisah-kisah rahasia dinamika hidup Gereja yang dulu mungkin masih bisa ditutupi rapat-rapat  kini sudah dengan mudah ditembus oleh yang namanya gadget. Dunia kita sekarang ini seperti ikan dalam sebuah akuarium dengan air tenang dan jernih sehingga banyak orang bisa melihat isi akuarium itu dari luar apa adanya. Tanpa tedeng aling-aling.

Pertanyaannya, apakah Gereja Katolik Indonesia baik jajaran hirarki maupun umat katolik kita semua siap menerima kenyataan zaman modern yang memang sudah tidak seperti dahulu lagi?

Gereja Katolik Semesta pun dibuat terperangah beberapa tahun terakhir ini, ketika tiba-tiba saja bermunculan berita-berita tidak sedap tentang kelakuan busuk anggota Hirarki Gereja. Tiba-tiba kita dibuat terperangah kaget dan susah percaya bahwa ada  kardinal, uskup, para pastor melakukan hal-hal di luar kenalaran hidup selibat sebagai seorang tertahbis yang harus menjaga kaul kemurnian, ketaatan, dan kemiskinan. Apa yang dulu masih bisa disimpan rapat-rapat di balik tembok biara, keuskupan atau provinsialat, kini tiba-tiba saja bisa menyeruak muncul sebagai berita di koran, majalah, atau kantor-kantor berita.

Tiba-tiba saja kita mendengar bahwa si Uskup X ini ternyata ‘penjahat kelamin’ dengan memakai anak-anak sebagai budak seks-nya dan menjadi pedofilia. Atau si Uskup Y tiba-tiba ketahuan membangun kompleks keuskupan super mewah. Lalu, si Pastor X ketahuan punya perempuan simpanan dan punya anak dan demikian seterusnya.

Kehebohan dan gaduh

Maka sejurus kemudian,  kehebohan pun lalu  terjadi. Vatikan juga telah dibuat pusing ketika dokumen-dokumen rahasia dibocorkan oleh seorang butler Istana Vatikan.  Tahta Suci menjadi repot ketika harus  merespon tuduhan dan berbagai macam klaim (tuntutan) dari  pihak-pihak yang selama ini telah menjadi korban ‘kejahatan’ anggota hirarki Gereja (Uskup, Pastor, Diakon) dan para calon imam muda (frater). Dulu, hal-hal itu nyaris tidak pernah ada seperti itu, namun sekarang tiba-tiba saja bisa muncul.

Konon, salah satu penyebab mengapa Paus Benedictus XVI sampai pada keyakinan diri dan kemudian  memutuskan  lengser keprabon meninggalkan Tahta Suci adalah karena tekanan publik seperti itu. Di usianya yang makin renta, begitu mungkin isi hati dan pikiran Paus Benedictus XVI waktu itu, sekarang waktunya Vatikan membutuhkan sosok paus yang lebih yunior, matang rohani, namun sederhana dan punya ketegasan merespon perkembangan zaman. Vatikan butuh seorang Paus yang cakap merespon perkembangan dan kebutuhan seperti zaman sekarang. Bagaimana misalnya merespon mencuatnya kasus-kasus ‘gelap’ yang dulu nyaris tidak pernah muncul namun kemudian terekspose di panggung publik dan kebutuhan segera memperbaharui mental Gereja yang semakin tergerus erosi zaman.

Sekarang ini, kita telah menghadapi kenyataan: semuanya sudah menjadi cetho welo-welo alias terbuka, terekspose apa adanya terang benderang.

Fenomena Paus Fransiskus

Untunglah Gereja Katolik Semesta  mendapatkan sosok tepat sebagai pengganti Paus Benedictus XVI sekaligus mengisi sede vacante di Tahta Suci paska mundurnya mantan Kardinal Joseph Ratzinger. Sosok tepat pemberian Roh Kudus itu adalah Kardinal Jorge Maria Bergoglio SJ, mantan Provinsial Jesuit Provinsi Argentina.

Sebagai Uskup Agung Keuskupan Metropolitan Buenos Aires, sosok Kardinal Bergoglio adalah tipe seorang Jesuit populer bukan karena mengambil posisi diri sebagai seorang selebriti. Ia menjadi terkenal karena memilih sikap hidup jelas yakni hidup kesehariannya dilakoni dengan sangat bersahaja, merakyat, berani ambil risiko, dan punya gayanya sendiri dalam berpastoral.

Gereja Katolik sungguh harus berbangga, sekarang ini kita punya seorang paus revolusioner seunik Paus Fransiskus. Berbagai hal tabu yang dulu tidak pernah bisa terjadi di lingkaran dalam Vatikan tiba-tiba bisa muncul begitu saja.

Dengan kesederhanaannya dan ketegasannya merespon isu-isu yang berkembang, Paus Fransiskus melahirkan revolusi baru. Mungkin cocok menyebutkannya sebagai ‘revolusi mental’ Vatikan yang membuat dunia sungguh tercengang. Antara kekaguman luar biasa dan kecemasan telah bercampur aduk dengan batas tipis.

Revolusi Mental Vatikan dimulai dari Paus Fransiskus yang menggeser hal-hal yang selama ini ditabukan oleh Vatikan. (Ist)

Orang dibuat terbengong-bengong melihat Paus Fransiskus dengan ‘cuek-nya’ namun dengan semangat keramahan luar biasa telah membiarkan anak-anak muda berdekatan dengan beliau dan ber-selfie ria. Seorang anak lelaki kecil dibiarkannya bermain-main dengan ujung jubahnya dan mempersilahkan anak itu menduduki kursinya, ketika beliau tengah berpidato.

Ia mendobrak kebisuan yang selama ini membeku terlalu ama di jajaran birokrasi Vatikan: mengampuni mereka yang hidup perkawinannya  ternyata mengalami kegagalan dan mengimbau jajaran hirarki Gereja Semesta mengikuti jejaknya memberi layanan pastoral keluarga yang semakin manusiawi dan penuh kerahiman.

Ia berani tegas menghukum seorang mantan dubes Vatikan di Amerika Latin karena diam-diam menjadi pesakitan pedofilia dan beberapa Uskup atau pastor  lainnya. Ia berani mencopot pejabat Vatikan dan Uskup yang dinilai tidak berlaku bermartabat layaknya seorang imam tertahbis dan pejabat Gereja yang mestinya hidup sederhana, menjaga komitmen hidup selibater, dan taat kepada Pimpinan Gereja. Mereka yang ‘keluar jalur’ diberikan arahan dan bimbingan. Bila tetap bersikukuh tidak mau berubah dan bertobat atau malah sudah terlalu jauh kebablasan, Paus Fransiskus dengan tegas mencopot mereka dari panggung kekuasaan.

Paus mencium kaki pasien. (Ist)

Namun, ia juga sungguh sangat berperilaku manusiawi. Ia memeluk pasien penyakit kritis dengan sentuhan kasih yang amat tulus dan menyentuh kalbu. Semua dilakukannya dengan semangat berbagi kasih dan menunjukkan kerahiman ilahi –wajah Kristus yang selalu memberi ruang untuk pengampunan dan maaf bagi mereka yang bersalah, melakukan hal-hal tidak semestinya namun juga ingin memperbaiki diri.

Hukuman suspensi

Keputusan tegas Uskup menjatuhkan saksi hukuman suspensi kepada pastornya telahmembuka mata hati kita semua. Pastor wajib kita jaga dan rawat gaya hidupnya agar jangan sampai kebablasan meninggalkan fungsi dasar imamatnya dan terlanjur hanyut diri pada perspektif egonya sendiri. Pastor wajib kita ingatkan jangan sampai jatuh dalam pelukan wanita saking tidak bisa membawa diri dan memberlakukan perimeter moral antara boleh dan tidak boleh. Pastor wajib kita tegur dengan kasih apabila keseharian hidupnya tidak mencerminkan laku hidup seorang imam yang mestinya taat dan patuh kepada Pimpinan (Uskup atau Provinsial), hidup penuh loba, tidak bisa hidup sederhana, dan celamitan tidak karuan kalau bergaul dengan umat.

Hukuman suspensi bukan akhir dari segalanya. Ini adalah tahapan pembinaan lanjut bagi seorang imam mana pun pasca mereka bertahun-tahun menerima tahbisan namun kemudian ‘melenceng’ keluar jalur karena tidak mawas diri dan lupa jatidirinya sebagai imam yang selibater, miskin dan taat.

Mari kita doakan para pastor kita yang tengah galau. Namun doa kita juga harus kita sampaikan guna mendukung mereka yang tetap tekun melakoni hidup imamatnya dengan sangat setia di tengah godaan besar yang bisa  menyeret mereka ke arah kelobaan, mabuk popularitas, nyaman tinggal di zona amannya karena hidup serba berkecukupan.

Semoga di Tahun Kerahiman Ilahi ini semua mata hati kita dibukakan pintu maaf dan kesalingan memberi kasih dan ungkaan kerahiman untuk membawa kembali mereka yang telah keluar jalur kembali jalan yang benar.

avatar Co-founder dan chief editor Sesawi.Net; Konsultan Media & Communication di lembaga internasional mhariyadi@sesawi.net, mhariyadi@yahoo.com

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.