Hujan Masalah

TEMAN-temin, apa yang harus kita lakukan jika mengalami masalah berkepanjangan tak berujung? Satu problem belum selesai, sudah datang persoalan lain yang tak kalah pelik. Dan saat kita sedang sibuk memikirkan jalan keluarnya, tiba-tiba datang masalah lain yang tak terduga. Kita ingin segera menuntaskan masalah tetapi hidup seolah tak mau kompromi.

Hari-hari kita bagai dihujani masalah. Emosi dan pikiran kita teraduk-aduk. Energi terkuras habis dan kita lelah.

Selama 3 bulan ini saya mengalami hujan masalah. Kalau saya buat listnya ada sekitar 90 an masalah yang lumayan bikin sakit kepala. (Berarti rata-rata ada 30 masalah yang harus dipecahkan dalam satu bulan, means 1 masalah dalam sehari). Jadi betul pameo ini: Tiada hari tanpa masalah.

Persoalan itu datang dari keluarga besar, orangtua, suami, adik ipar, anak, kerabat, sahabat, tetangga, pekerjaan, boss, asisten rumah tangga dan sopir, klien, tempat pelayanan di gereja, teman-teman lama di masa lalu termasuk bayangan mantan (hehe) dan bahkan dari diri sendiri.

Yang saya rasakan waktu mengalami hujan masalah adalah kecemasan, ketakutan, kemarahan, kebingungan, kesedihan, kaget, sakit hati, berontak kepada Tuhan sampai sakit fisik karena stress. Tiada gairah hidup dan terasa sulit menerima kenyataan mengapa hidup saya tidak bisa bebas dari masalah. Hidup ini sangat tidak adil, pikir saya.

sorry-comments-43 by files wp

Mumet, puyeng, kacau hati dan desolasi. Irama hidup manusia kadang hanya bisa bilang “I am really sorry…” (Ilustrasi/Ist)

Saya lalu menyalahkan situasi, mencari kambing hitam, mengasihani diri dan mogok. Ibarat mesin mobil, saya sudah kehabisan bensin, tidak bisa start lagi. Harusnya mobil bisa start lagi karena didorong tetapi sayang tak ada seorangpun yang peduli. Tak ada teman dalam saat-saat duka saya. Mereka hanya berada di sisi saya saat saya happy. Akhirnya saya benar-benar mogok.

Saat mogok itulah jiwa saya yang sarat dengan sumpah serapah dan jeritan minta tolong itu tiba-tiba terasa amat kosong. Dalam kekosongan itu saya hanya mendengar dua suara, yang satu mengatakan Tuhan jahat dan suara satunya mengatakan Tuhan baik. Tidak mudah mengiyakan bisikan bahwa Tuhan baik dalam situasi buruk ini. Tetapi mengatakan Tuhan jahatpun saya tidak punya bukti. Kapan Tuhan jahat kepada saya, ciptaanNya sendiri?

Maka saya pun membuat list lain dengan maksud menemukan bukti-bukti “kejahatan” Tuhan kepada saya. Lama saya termenung dan menyadari bahwa ternyata investigasi saya terhadap “kejahatan” Tuhan hasilnya nol.

Yang saya temukan adalah sebaliknya. Kebaikan Tuhan yang tak ada habisnya dalam hidup saya, tak sejengkalpun langkah saya tidak dijagaNya. Bahkan saat saya terjatuh pun Tuhan menggendong saya tanpa saya sadari. Lalu yang membuat saya tercengang adalah kenyataan cara Tuhan membentuk dan mendidik saya, bukan hanya melulu melalui keberuntungan saja melainkan juga melalui tantangan, penderitaan, benturan, penolakan, kegagalan, dan kehilangan.

Teman-temin, saya tidak mampu melanjutkan tulisan ini karena saya begitu malu telah mencurigai Kasih Tuhan. Betapa hati Tuhan juga bisa terasa sakit melihat pemberontakan dan kedegilan hati saya.

Doakan saya, ya supaya bertobat dari kecenderungan suka mengeluh, menyalahkan, menyepelekan cintaNya dan tidak mempercayai berkat-berkatNya.

Tangerang, 26 April 2014
Veronika (yang seharusnya mengusap wajah Yesus di Jalan Salib, bukan memberatiNya dengan keluhan hidup)

Photo ilustrasi: Desolee, Puteng (Ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.