Hujan Berkat (1)

 Ayat bacaan: Yakobus 5:17-18
========================
“Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.”

Alkisah ada seorang petani yang memiliki lumbung besar. Pada mulanya ia malas-malasan sehingga saat ia butuh, tidak ada apa-apa yang bisa diambil dari lumbungnya karena tidak pernah diisi dengan serius. Ia pun belajar dari kesalahan pertama dan kemudian rajin mengisi lumbungnya dengan hasil tani melimpah. Maka lumbung pun kemudian penuh. Tapi lumbung yang sudah penuh itu tetap saja kita tidak berfungsi apabila si petani tidak memiliki kunci pembuka pintu lumbung tersebut. Ada isi tapi tidak ada kunci untuk membukanya, itu hanya akan membuat sebanyak dan seberharga apapun isinya sia-sia, hanya akan menumpuk berdebu atau bahkan rusak tanpa pernah mendatangkan manfaat bagi sang pemilik.

Elia dikenal sebagai satu dari nabi besar. Ia juga sering disebut sebagai nabi ‘api’ dan nabi ‘hujan’ alias the rain maker. Banyak predikat yang disandang oleh nabi Elia. Tapi disamping itu pada dasarnya nabi Elia juga manusia biasa, sama seperti kita. Lantas kalau begitu apa yang membuatnya bisa luar biasa? Dalam ayat bacaan kita hari ini kita bisa melihat bahwa apa yang membuatnya luar biasa adalah kesungguhannya dalam berdoa. Hubungannya dengan ilustrasi singkat di atas adalah pentingnya membangun kehidupan doa yang sungguh-sungguh sebagai kunci untuk membuka tingkap-tingkap langit, menurunkan hujan berkat yang membuat kita berbuah subur.

Mari kita fokus lagi kepada ayat bacaan di atas dengan penekanan pada ayat 18, “Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan, dan bumipun mengeluarkan buahnya.”. Ada tiga kunci penting dari ayat ini yaitu “berdoa”, “hujan” dan “buah”.

Pertama, mari kita lihat hal lumbung yang kosong. Banyak orang mengira bahwa untuk memiliki atau mengisi lumbung adalah dengan menerima. Itu adalah konsep pemikiran yang terus ditanamkan oleh dunia. Bahkan ketika kita berbuat baik pun kita butuh imbalan atau balasan dari yang diberi agar lumbung kita bertambah asetnya. Tapi prinsip Kerajaan Surga bukanlah demikian. Kalau dunia berkata bahwa kita bertambah dengan menerima, prinsip Kerajaan berkata bahwa itu adalah lewat memberi. Memberi, bukankah itu berarti mengurangi apa yang kita punya? Secara duniawi mungkin saja, tapi kalau kita mengacu kepada Allah sebagai sumber dari segala sesuatu, maka kita tidak perlu ragu akan kekurangan ketika memberi dan melakukan berbagai kebajikan. Pertama, Tuhan Yesus sendiri sudah mengingatkan kita agar tidak mengumpulkan harta di dunia karena semua itu bisa rusak dalam sekejap mata baik oleh ngengat yang memakan, karat yang merusak dan pencuri yang menghilangkan apa yang sudah kita kumpulkan dengan susah payah. Ayatnya berbunyi seperti ini: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19-20).

Apa yang dimaksud Yesus dengan mengumpulkan harta di surga bukan hanya berbicara mengenai keselamatan kita semata, tapi itu akan juga berhubungan langsung dengan apa yang akan kita peroleh dalam perjalanan hidup di dunia ini. Mengumpulkan harta di surga artinya memberi dan menabur di dunia, bukan menimbunseperti cara mengumpul harta menurut pandangan kebanyakan orang. Kita harus terus membiasakan diri untuk memberi yang bukan secara sempit hanya berbicara mengenai materi melainkan lewat apapun yang bisa kita beri seperti waktu, tenaga, otak/pikiran atau talenta-talenta lainnya terutama yang sesuai dengan panggilan kita, sampai pada akhirnya kita bisa mencapai sebuah tingkatan seperti yang dikatakan Yesus sendiri, yaitu “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35). Kita pun sudah diingatkan agar terus rindu untuk menabur bukan karena terpaksa melainkan dengan keikhlasan dan sukacita. “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”(2 Korintus 9:6-7)

Akankah kita kekurangan jika memberi? Tidak. Tuhan tidak berniat untuk membuat anda jatuh miskin dan memerintahkan anda untuk menghabiskan semua yang sudah dengan susah payah anda peroleh dengan diberi kepada orang lain. That’s not what He meant. Sebaliknya, justru Tuhan akan membuat anda mengalami kepenuhan bahkan kelimpahan agar anda bisa terus menjadi saluran berkat kepada orang lain, siapapun mereka. Ayat berikut ini menyatakan hal itu dengan jelas: “Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” (2 Korintus 9:8) Selain itu dalam Amsal dikakatan sebagai berikut: “Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki.” (Amsal 28:27). Artinya jelas, Tuhan tidak hendak merampok kita tapi justru ingin membuka perbendaharaanNya kepada kita lewat sejauh mana kita menabur memberkati orang lain. Itu sama dengan mengumpulkan harta di surga, dimana tidak ada ngengat dan karat serta pencuri yang bisa merusaknya seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.