Hubungan antara Diberi dan Memberi

Ayat bacaan: 1 Petrus 3:9
====================
“…hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat…”

Berapa uang yang kita keluarkan ketika kita hang out atau have fun bersama kekasih, pasangan atau teman-teman? Untuk ukuran hari ini, mungkin angka seratus ribu rupiah terbilang kecil untuk itu. Nonton, lalu duduk di cafe atau restoran, kemudian belanja sedikit, lihat-lihat butik dimana terkadang ada yang membeli sesuatu karena takut malu jika tidak membeli apa-apa, itu bisa menghabiskan total uang yang jumlahnya bisa cukup besar. Kita berpikir bahwa itu toh hasil jerih payah kita, terserah kita dong bagaimana kita mau memakainya. Benar, itu adalah hasil keringat kita. Tapi terpikirkah oleh kita bahwa ada campur tangan Tuhan dalam keberhasilan itu? Jika ya, pernahkah kita berpikir apa sebenarnya suara hati Tuhan atau keinginanNya terhadap kita untuk mempergunakan berkatNya?

Kenyataannya banyak dari kita yang tidak kunjung juga menyadari hal itu. Kita malah tidak tahu untuk apa kita diberkati. Selain menjalani hidup dalam kemewahan, ada banyak pula yang cenderung terus menumpuk harta untuk diri sendiri. Semakin diberkati malah semakin pelit. Semakin banyak yang dimiliki, semakin banyak yang dirasa belum punya. Untuk berfoya-foya kita tidak merasa pelit, tapi melebihkan sedikit untuk tukang kebun, petugas parkir, tukang atau buruh dan sebagainya beratnya bukan main. Padahal mereka seringkali mengeluarkan tenaga yang jauh lebih besar ketimbang orang-orang yang dengan mudah kita beri tip besar ketika berada di tempat mewah. Berkat membuat kita bukannya semakin terpanggil untuk memberkati orang lain, tetapi justru semakin pelit dalam memberi. Apakah cukup karena kita kerja keras maka semua itu mutlak menjadi hak milik kita dan kita tidak perlu tahu apa yang menjadi keinginan Tuhan kemana berkat itu harus kita pergunakan?

Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa ada hubungan sebab akibat dalam hal diberi dan memberi. Alkitab jelas berkata bahwa kita diberi untuk memberi. Kita diberkati untuk memberkati. Kita bekerja keras untuk mencukupi nafkah hidup kita dan keluarga, itu benar, tapi bukan itu saja. Ada pesan Tuhan yang penting pula agar kita memberi, menolong orang-orang lain yang tengah kesusahan. Dan sesungguhnya, untuk itulah kita diberi. Perhatikan kata Petrus berikut ini: “…hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat…” (1 Petrus 3:9). Apabila kita memperoleh berkat tetapi tidak mau memberkati, maka itu artinya kita tidak menghargai berkatNya dan mengabaikan panggilan Tuhan atas berkat yang Dia beri kepada kita.

Selanjutnya kita bisa melihat bagaimana cara Paulus dalam menyampaikan pesan yang sama. Sebuah perikop penting dari surat rasul Paulus menjabarkan lebih lanjut mengenai ini. “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”(2 Korintus 9:6-7). Paulus tidak berhenti sampai disitu. Ia lebih jauh menjelaskan bahwa Tuhan sanggup melimpahkan segala kasih karuniaNya bahkan hingga berkelebihan, dan ini semua bukan untuk memperkaya diri, menyombongkan diri dan dinikmati sendiri dengan serakah, melainkan untuk beramal, memberkati orang lain. “Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” (ay 8). Dalam versi BIS dikatakan “Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal.  Tuhan berkuasa memutuskan untuk melimpahi kita dengan berkat, tetapi penting bagi kita untuk mengetahui untuk apa itu diberikan. Selain agar kita mampu memiliki apa yang kita butuhkan dalam hidup, tetapi terlebih pula itu ditujukan agar kita punya sesuatu untuk BERBUAT BAIK dan BERAMAL. Paulus ternyata menegaskan juga tentang hakekatnya mengapa kita diberkati, dan itu sama seperti apa yang dikatakan Petrus dalam kesempatan lain seperti yang bisa kita baca di atas. Tuhan bisa melimpahkan kita dengan berkatNya yang dikatakan bisa sampai melimpah ruah, tapi itu bukan untuk ditimbun atau dihamburkan sia-sia, melainkan untuk berbuat baik dan beramal.

Ingatlah bahwa berkat-berkat yang kita peroleh adalah titipan Tuhan, yang harus kita pakai untuk memberkati sesama kita, untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Apakah itu berkat kekayaan, berkat kesehatan, talenta-talenta yang kita miliki, semua itu hendaklah kita pergunakan untuk menjadi berkat buat orang lain. Apapun yang kita lakukan buat membantu orang lain bernilai sangat tinggi bagi Tuhan. Demikian firman Tuhan: “Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.” (Matius 25:45). Kita harus mengerti bahwa kekayaan yang ada pada kita sebenarnya merupakan titipan Tuhan. Karena itu kita harus mempergunakannya untuk sesama kita, siapapun mereka, apapun latar belakangnya, dimana Tuhan dimuliakan disana. “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima. (Kisah Para Rasul 20:35). Perhatikan, semakin dalam kita masuk ke dalam hadiratNya, semakin dekat kita pada Tuhan, maka prinsip kebahagiaan pun berubah. Jika dulu kita berbahagia ketika kita diberi, maka kini kita akan jauh lebih berbahagia ketika bisa memberi kontribusi kepada orang lain. Kita akan merasa sangat bahagia ketika bisa membahagiakan orang lain. Itu jauh lebih membahagiakan dibandingkan ketika kita memperoleh sesuatu. Kita memperoleh berkat adalah agar kita bisa memberkati orang lain lewat segala yang kita miliki. Singkatnya, kita diberkati untuk memberkati.

Rugikah jika kita banyak memberi? Percayalah, kita tidak akan pernah kekurangan dan menjadi susah karena itu. Jika kita memberi dengan hati yang tulus semata-mata karena mengasihi Tuhan dan sesama, kita tidak akan menjadi berkekuangan, malah akan semakin banyak lagi menerima berkat. Itu sejalan dengan ayat dalam Amsal berikut ini: “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.” (Amsal 11:24). Pelit, tamak atau serakah dan sejenisnya tidak akan pernah membawa hasil apa-apa selain kerugian buat diri kita sendiri. Kita harus tahu untuk apa Tuhan memberkati kita, dan kita harus memiliki kerinduan untuk melakukannya. Kita harus menyadari bahwa kita harus mulai melakukan sesuatu, bekerja keras agar kelak mampu membantu sesama, menjadi terang dan garam yang mampu menyampaikan kasih Allah kepada orang lain. Kita harus tahu mengapa kita diberkati dan kemana kita seharusnya mempergunakannya. So, let’s work hard, and when God gives you His blessings, use it to help others. Mulailah memberi, maka Tuhan akan terus mencurahkan berkatNya memenuhi lumbung-lumbung anda agar anda bisa memberkati lebih banyak lagi

Kita diberi untuk memberi, kita diberkati untuk memberkati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.