Hubungan Anak dan Ayah (2)

(sambungan)

Ada ayat penting untuk diingat para ayah yang sudah saya sampaikan dalam beberapa renungan kemarin. “Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.” (Mazmur 127:4-5). Anak-anak adalah bagaikan anak panah di tangan seorang pahlawan. Selayaknya pahlawan yang sedang memanah, ia harus pintar mengarahkan busurnya ke arah yang dituju, bukan menembak sembarangan. Apa yang bisa dipetik sebagai hasilnya bukan saja bermanfaat bagi masa depan anak-anak saja, melainkan orang tuanya pun kelak akan merasakan kebahagiaan lewat mereka. Orang sering lupa bahwa anak bukanlah hasil dari hubungan suami istri semata, tetapi seperti apa yang dikatakan Firman Tuhan, anak adalah merupakan warisan atau pusaka dari Tuhan. “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah.” (Mazmur 127:3) Tentu bukan hanya anak laki-laki, tetapi anak perempuan pun merupakan pusaka yang indah dari Tuhan. Jika kita menyadari kehadiran mereka sebagai anugerah yang sangat indah, bukankah itu berarti bahwa kita harus mensyukurinya dengan bertanggung jawab penuh atas mereka?

Jika pahlawannya Tuhan adalah para orang tua yang mampu mengarahkan anak-anaknya ke sasaran yang tepat, Firman Tuhan juga berkata bahwa ada sesuatu yang melebihi pahlawan, yaitu orang-orang yang sabar. “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” (Amsal 16:32). Dalam hal mendidik dan memberi waktu kepada anak, kesabaran tentu menjadi sebuah faktor yang sangat penting untuk kita miliki. Dan Tuhan menghargai kesabaran kita dengan begitu tinggi, karena selain dalam kasih itu memang terdapat kesabaran (1 Korintus 13:4) dan kita harus mengaplikasikan kasih dalam segala hal, kita pun harus sadar pula bahwa tanpa kesabaran kita bisa terjerumus melakukan banyak hal yang akan kita sesali di kemudian hari.

Bagi anda para pria, semua ini tentu tidak mudah, bahkan bisa jadi sangat sulit. Anda bisa merasa seakan-akan tidak berhak untuk beristirahat dan memiliki waktu-waktu bersantai sama sekali. Tapi apa yang sebenarnya bisa dilakukan adalah dengan membuat sebuah manajemen waktu. Orang tua butuh memiliki hikmat Tuhan agar bisa mendidik anak-anak mereka dengan bijaksana. Dan Firman Tuhan Untuk itu kita butuh hikmat , dan Alkitab berkata bahwa “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” (Amsal 9:10). Jadi kita bisa mulai dengan rasa segan dan hormat akan Tuhan, dan dari sana melangkahlah maju dengan memberi waktu, perhatian dan pujian kepada anak-anak kita agar mereka bertumbuh dalam pengenalan yang baik akan Firman tuhan.

Jika ada di antara teman-teman yang sempat atau pernah menyakiti hati anak-anak anda atau belum membagi waktu untuk bermain bersama mereka dan mendengarkan cerita-cerita mereka, perbaikilah segera. Jika perlu, berbesar hatilah untuk mengakui dan meminta maaf kepada mereka dan mulailah lembaran baru. Bersama Tuhan, pulihkanlah kembali hubungan antar keluarga termasuk antara orang tua dan anak-anaknya. Jadilah bentuk keluarga-keluarga teladan yang bisa menginspirasi banyak orang. 

Beri waktu yang cukup bagi anak-anak karena mereka menerjemahkan ‘kasih’ lewat kata ‘waktu’

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.