Hubungan Anak dan Ayah (1)

Ayat bacaan: Kolose 3:21
==================
“Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.”

Agaknya sudah menjadi kebiasaan para pria untuk salah kaprah dalam memberi kasih kepada keluarga terlebih anak-anaknya. Banyak yang mengira bahwa tanggung jawab ayah hanyalah sebatas menyediakan dan mencukupi kebutuhan-kebutuhan anaknya. Bisa sekolah di tempat yang terkenal, dilengkapi dengan baju-baju mahal, gadget terkini dan memberi apapun yang mereka minta, kalau bisa sebelum diminta sudah dikasih. Begitu kerasnya bekerja, para ayah sering sudah kehabisan ‘bensin’ (baca: energi) ketika pulang dan hal terakhir yang mereka mau dengar adalah keributan suara anak-anaknya. Mereka ingin anak-anak jangan ribut sedikitpun ketika mereka pulang dan tidak mengganggu waktunya beristirahat. Mereka tidak bisa mentolerir sedikit suara, segera marah jika anak-anaknya mendekati mereka. Tidaklah jarang kita melihat kondisi rumah yang berubah menjadi gelap dan suram begitu mendengar suara mobil ayahnya melewati pagar rumah. Semua anak-anak segera berlari ke kamar dan berpura-pura tidur supaya tidak dimarahi. Para ayah, sadarkah anda bahwa yang paling dibutuhkan anak-anak anda sebenarnya bukan itu? Jika para ayah menerjemahkan arti kasih dengan pemenuhan kebutuhan secara finansial, anak-anak sebenarnya menerjemahkannya dengan ‘time’ alias ‘waktu’.

Untuk membuktikan hal ini saya pernah melakukan ‘survey’ kecil-kecilan terhadap anak-anak dari teman saya yang usianya masih duduk di sekolah dasar. Saya menanyakan, apa yang paling kalian inginkan dari papa? Jawaban dari anak-anak ini hampir seluruhnya sama, yaitu waktu yang bisa dipakai untuk bermain dengan ayahnya. Mereka bercerita mengenai betapa bahagia rasanya jika bisa bermain dengan ayah sebelum tidur meski hanya sebentar. A father who’s willing to spend some quality time with them is what they need the most. Salah satu anak mengatakan kira-kira demikian: “seandainya saya boleh minta sesuatu, saya minta sedikit dari waktu papa untuk bersama saya… saya rindu bermain dengan papa karena papa belakangan sangat sibuk dan jarang pulang.” Si anak mengatakan sambil berkaca-kaca, dan ketika saya sampaikan kepada papanya, papanya memeluk si anak sambil menangis dan berjanji akan membagi waktu secara teratur tak peduli sedang sesibuk apapun.

Untuk menjadi ayah sejati, anda dituntut untuk tidak hanya mampu mencari nafkah tetapi juga harus bisa menyediakan sebuah ‘quality time’ bagi keluarga. Anda harus tahu bagaimana perkembangan mereka di sekolah, apa yang masih mereka butuhkan untuk bisa lebih baik lagi, dan disana seringkali pujian tulus dari ayah akan memberi makna besar sebagai pendorong anak-anak agar terus giat belajar.  Saya sudah bertemu dan mendengar cerita tentang banyak anak muda yang mati-matian berusaha hanya sekedar rindu mendapat sedikit pujian dari ayahnya. ADa banyak pula anak-anak yang terjebak kehidupan buruk seperti narkoba, premanisme dan berbagai bentuk hidup yang hancur lainnya yang setelah ditelusuri ternyata berawal dari kurangnya perhatian ayah sebagai kepala rumah tangga bagi mereka atau bentuk intimidasi berlebihan yang seringkali dianggap sebagai bentuk pendisplinan. Akibatnya mereka ini tumbuh menjadi anak-anak yang kehilangan figur ayah yang hatinya tawar bahkan pahit. Kepahitan hati seperti ini kerap menjadi penyebab gagalnya seseorang untuk berhasil baik dalam karir, keluarga dan aspek lainnya. Jika ini terus berulang seperti lingkaran setan ke generasi seterusnya, itu sangatlah disayangkan, terlebih ketika Firman Tuhan sebenarnya sudah mengingatkan sejak lama akan hal ini.

Alkitab mengingatkan agar para ayah mampu bertindak bijaksana terhadap anak-anaknya. “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” (Kolose 3:21). Bentuk menyakiti hati bisa berupa banyak hal. Sering melontarkan kata-kata kasar, bentuk kekerasan fisik, intimidasi mental, atau hal yang tampaknya sepele seperti terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu lagi buat para buah hati anda. Kita harus ingat bahwa hati yang terlanjur tawar atau sudah pahit akan sangat susah untuk dipulihkan. Jangan sampai karena tidak mampu menahan emosi atau lupa tanggungjawab para ayah merasa boleh bertindak melewati batas. Itu bisa meninggalkan luka di hati mereka untuk waktu yang cukup lama. Itu bisa berpengaruh besar terhadap masa depan mereka.

Pada kesempatan lain kita bisa mendapat rujukan dari ayat lainnya, kali ini lewat Paulus. “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 6:4). “Do not irritate and provoke your children to anger”, demikian bunyi pesan Paulus, “but rear them tenderly in the training and discipline and the councel and admonition of the Lord.” Mengajar atau menghukum anak bertujuan agar mereka menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi bukan untuk menyiksa atau menjadikan mereka tempat pelampiasan. Jangan terus kecewakan dan membuat hati mereka marah karena anda seakan tidak lagi peduli terhadap keberadaan mereka di rumah.

Apa yang baik menurut Paulus adalah dengan mendidik anak-anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan, dan para ayah diharapkan mengerti dan mengaplikasikan prinsip-prinsip kebenaran agar bisa menjadi teladan yang baik bagi anaknya. Berbagai bentuk kekerasan baik secara fisik maupun mental bukannya membuat mereka mengenal Tuhan, tetapi justru sebaliknya akan membuat mereka tawar dan sulit untuk percaya kepada siapapun, termasuk kepada Tuhan.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.