HR Kenaikan

HR Kenaikan Yesus: Kis 1:1-11; Ef 1:17-23; Luk 24:26-43
“Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu
harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan
kekuasaan dari tempat tinggi."
Acara perpisahan sering diadakan bersama di tempat kerja atau tugas
atau tinggal kita masing-masing. Di sekolah-sekolah atau perguruan
tinggi acara perpisahan dapat terjadi karena pelepasan lulusan dari
sekolah atau perguruan tinggi yang bersangkutan atau pergantian
pimpinan atau guru/dosen. Di tempat kerja antara lain dalam acara
pelepasan pensiunan atau pergantian pimpinan, sedang dalam masyarakat
dapat terjadi dengan pergantian pimpinan. Dalam perpisahan ini pada
umumnya yang akan pergi memberi evaluasi, refleksi atau pesan kepada
yang ditinggalkan dan apa yang disampaikan pada umumnya didengarkan
dan diusahakan untuk ditindak-lanjuti dalam program kegiatan yang akan
datang. Hari ini kita kenangkan Yesus naik ke sorga, meninggalkan para
murid serta memberi pesan kepada para murid, kepada kita semua yang
beriman kepadaNya. Maka marilah pesan tersebut kita renungkan atau
refleksikan.
“Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu
harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan
kekuasaan dari tempat tinggi." (Luk 24:49).
Mulai besok diselenggarkan Novena Roh Kudus sampai dengan Hari Raya
Pentakosta, kenangan akan anugerah atau kedatangan Roh Kudus kepada
umat yang percaya kepada Yesus Kristus. Novena Roh Kudus ini kiranya
merupakan perwujudan iman akan sabda Yesus :”Kamu harus tinggal di
dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat
tinggi”. Maka dengan ini kami berharap kepada segenap umat yang
percaya kepada Yesus Kristus untuk berpartisipasi dalam Novena Roh
Kudus yang diselenggarakan di gereja-gereja atau kapel-kapel. Dalam
berpartisipasi dalam kegiatan Novena Roh Kudus diharapkan ada
keterbukaan hati, budi, jiwa kita agar kita siap sedia menerima
anugerah-anugerah Roh Kudus.  Ada tujuh anugerah atau karunia Roh
Kudus, yaitu : Roh Hikmat, Roh Pengertian, Roh Nasihat, Roh
Keperkasaan, Roh Pengenalan akan Allah, Roh Kesalehan, Roh Takut akan
Tuhan (lih Puji Syukur no 93). Maka sebelum kita menerima karunia
tersebut, baiklah kita mempersiapkan diri dengan baik.
Salah satu cara mempersiapkan diri agar layak menerima karunia Roh
Kudus antara lain adalah hidup dan bertindak tidak dengan semangat
materialistis atau duniawi, melainkan senantiasa mengusahakan
nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang menyelamatkan jiwa.
Maka kami berharap sekali lagi kepada para orangtua untuk dengan tekun
dan setia mendidik dan membina anak-anaknya tidak bersikap mental
materialistis, dan tentu saja anda sebagai orangtua dapat menjadi
teladan atau inspirator. Sekiranya anda tidak mungkin berpartisipasi
dalam Novena Roh Kudus, baiklah entah di dalam keluarga atau pribadi
berdoa kepada Roh Kudus, dan doa itu kiranya dapat ditemukan di dalam
Puji Syukur atau Madah Bakti atau buku-buku doa lainnya.
Perkenankan dari tujuh karunia Roh Kudus di atas secara sederhana saya
mencoba menjelaskan dua karunia yang hemat saya penting masa kini,
yaitu Kesalehan dan Takut akan Allah, yang hemat saya bagaikan mata
uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan. Saleh
dalam bahasa Jawa adalah sumeleh, yang berarti orang sungguh pasrah
pada situasi dan kondisi atau Penyelenggaraan Ilahi, sehingga berusaha
dengan rendah hati untuk menemukan dan mengimani kehadiran Allah dalam
hidup sehari-hari dalam dan melalui ciptaan-ciptaanNya, entah dalam
diri manusia, binatang maupun tanaman atau tumbuh-tumbuhan. “Allah
tinggal dalam ciptaan-ciptaanNya, dalam unsur-unsur, memberi ‘ada’nya,
dalam tumbuh-tumbuhan, memberi daya tumbuh, dalam binatang-binatang,
daya rasa, dalam manusia, memberi pikiran, jadi Allah juga tinggal
dalam aku, memberi aku ada, hidup, berdaya rasa dan berpikiran” (St
Ignatius Loyola, LR no 235).
Memang pertama-tama dan terutama marilah kita imani dan hayati
kehadiran dan karya Allah dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini,
sehingga kita juga akan menjadi orang yang takut akan Allah. Dengan
kata lain marilah kita senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan
kehendak dan perintah Allah kapan pun dan dimana pun serta dalam
kondisi dan situasi apapun. Kita semua diharapkan dapat menemukan
Allah dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Allah.
        “Supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti
pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya
kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan
betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan
kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan
Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di
sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan
kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan
hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Dan
segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia
telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang
ada.Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi
semua dan segala sesuatu” (Ef 1:18-23).
Kutipan di atas ini cukup panjang dan memang sulit untuk diputus, maka
saya kutip apa adanya. Paulus mengingatkan umat di Efesus agar mereka
mengimani dan menghayati bahwa Allah hidup dan berkarya di dalam diri
mereka. Efesus adalah kota pelabuhan masa itu, sebagaimana kita dapat
lihat dan perhatikan bahwa kehidupan warga di daerah pelabuhan pada
umumnya diwaranai persaingan demi keberhasilan usaha bisnis dan
pendapatan/hasil, dengan kata lain suasana bisnis dan mencari
keuntungan pribadi alias sikap mental materialistis dan egois sungguh
mendominasi kehidupan bersama.
Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk mengimani dan
menghayati bahwa Allah hadir dan berkarya dalam segala sesuatu agar
segala sesuatu, dan tentu saja terutama manusia ‘takluk’ kepadaNya,
sehingga terciptalah persaudaraan atau persahabatan sejati. Di sekitar
pelabuhan pada umumnya juga tumbuh dan berkembang tindakan amoral,
misalnya pelacuran. Maklum para awak kapal atau pelaut telah sekian
lama terapung-apung dalam perahu di tengah lautan luas, yang pada
umumnya adalah laki-laki semuanya. Begitu perahu merapat di pelabuhan
mereka langsung berusaha mencari hiburan, entah minum-minum atau ke
pelacuran guna memenuhi kehausan kenikmatan seksualnya. Dengan kata
lain terjadi komersialisasi manusia, manusia bagaikan binatang saja.
Kenangan akan Kenaikan Yesus ke sorga mengajak dan mengingatkan kita
semua agar hidup dan bertindak tidak sekedar mencari pemuasan nafsu
saja, entah nafsu makan dan minum maupun seksual. Manusia adalah
gambar atau citra Allah, maka hendaknya relasi antar manusia saling
menghormati dan menghargai, tidak melecehkan atau merendahkan harkat
martabat manusia. Kepada mereka yang memiliki tugas pelayanan di
daerah pelabuhan maupun bagi para pelaut, kami harapkan bekerja giat
dan kerja keras mengingatkan bahwa manusia adalah gambar atau citra
Allah, jangan ada seorangpun melecehkan harkat martabat manusia.
Marilah kita ingat, sadari dan hayati bahwa kita harus hidup dan
bertindak saling mengasihi satu sama lain, kapan pun dan dimana pun.
“Allah telah naik dengan diiringi sorak-sorai, ya TUHAN itu, dengan
diiringi bunyi sangkakala. Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah,
bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah! Sebab Allah adalah Raja
seluruh bumi, bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran! Allah
memerintah sebagai raja atas bangsa-bangsa, Allah bersemayam di atas
takhta-Nya yang kudus”
(Mzm 47:6-9)
Ign 9 Mei 2013

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.