Hoax: Pengrusakan Patung Yesus dan Maria oleh Anak Pak Koster di Paroki Gondang, Klaten

Patung Bunda Maria ditemukan di dasar aliran Sungai Wedi, sementara patung Yesus ditemukan tertelungkup di lantai dasar gedung Gereja St. Yusup Pekerja Paroki Gondang, Klaten, 9 Agustus 2016. (Ist)

MARILAH hati-hati dengan ‘virus’ informasi yang menyebar cepat di jalur WA, namun kebenarannya sangat diragukan. Seperti yang terjadi sepanjang siang hari ini: pengrusakan patung Yesus dan Bunda Maria di Gereja St. Yusup Pekerja Paroki Gondang, Kab. Klaten konon kabarnya dilakukan oleh anak Pak Koster.


Berita tersebut adalah tidak benar alias kabar bohong. Demikian penegasan Pastor Kepala Paroki Romo Sukawalyana Pr menjawab Redaksi Sesawi.Net pada hari Kamis siang tanggal 11 Agustus 2016.


“Semua masih dalam proses penyidikan aparat kepolisian. Berita yang muncul di WA itu sama sekali tidak benar,” kata imam diosesan Keuskupan Agung Semarang kepada Sesawi.Net.


Penulis mengenal akrab Romo Sukawalyana Pr, karena kami berdua adalah kawan lama di Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma kurun waktu tahun 1990-an.


Bahasa dan isinya kacau


Dalam kabar bohong di jalur WA yang masuk kategori hoax ini disebutkan beberapa pokok berita yang kalau dirunut ‘cara berpikir’nya sama sekali tidak ada kaitannya.

Disebutkan bahwa dalam misa harian pagi hari tadi (Kamis ini) Romo Widyatmaka menyebutkan pelakunya adalah anak Pak Koster yang ngambek dan lalu ngamuk karena tidak dibelikan HP canggih.Siapakah Romo Widyatmaka ini?Hasil penelusuran Redaksi mendapati hal sebagai berikut. Bisa jadi, romo yang disebut dalam berita hoax di jalur WA itu mungkin adalah salah satu imam Jesuit bernama Widyatmaka SJ yang juga kami kenal.Romo Widyatmaka SJ adalah Pastor Paroki di Duren Sawit Jakarta Timur. Lalu, apa hubungannya Pastor “Jin” Widyatmaka SJ ini dengan kasus pengrusakan patung di Gondang, Klaten?Jarak pertemanan, kalau pun itu memang ada, antara Pastor Jin Widyatmaka SJ dengan Romo Sukawalyana Pr dari Keuskupan Agung Semarang ini sungguh terlalu jomplang dan jauh. Ada selisih jarak umur antara 10-15 tahun.Rekaaan kisah itu terkesan sangat asal-asalan, apalagi raga bahasanya juga amburadul.Disebutkan ada kotbah dalam misa pagi di Paroki Duren Sawit, padahal misa harian pagi tidak tidak ada homili.

Belajar dari hal-hal seperti ini, marilah kita berlaku hati-hati apabila ingin melakukan penerusan (foward) informasi-informasi yang tidak akurat melalui jalur WA.


Marilah kita semua jangan mudah berlaku  latah dan suka main gegabah.


Ikuti saja  informasi di media-media mainstream atau media katolik yang terpercaya.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.