Historiografi Skolastikat SCJ: Pusat Mendidik Biarawan SCJ (3B)

Kapel Skolastikat SCJ yang sekarang

Program Pendidikan Integral (1970-1980)

SEJAK  Desember 1967 sampai 1969, SCJ tidak mempunyai calon yang masuk sebagai postulan/novis. Pada tahun 1970 ada empat calon yang hendak bergabung dengan SCJ. Sementara itu, Pater Propinsial dan Dewannya mulai memikirkan sebuah model pendidikan calon imam yang baru.

Karena itu, sembari menunggu keputusan tentang model pendidikan yang baru, keempat calon itu diutus untuk tinggal di Skolastikat SCJ Yogyakarta. Alasan lain diutusnya keempat calon itu ke Yogyakarta adalah novisiat di Gisting dianggap terlalu terpencil untuk menjadi tempat inisiasi ke dalam hidup bakti dan karya pastoral SCJ. Selain itu, juga karena kurangnya tenaga formator. Di Yogyakarta, meski belum menjalani masa novisiat, keempat calon ini juga mengikuti kuliah bersama para frater lainnya. Demikian juga dengan para calon lain yang masuk sesudahnya.

Pada 1972 akhirnya diputuskan sebuah model pendidikan baru yang disebut sebagai ‘program pendidikan integral’. Secara praktis, para calon yang telah tinggal di Skolastikat SCJ sejak saat itu mulai menjalani masa pendidikan gaya baru ini. Model pendidikan gaya baru ini tepatnya dimulai sejak 15 Februari 1973. Ada 26 frater yang menerima jubah memulai masa postulat/novisiat gaya baru: satu orang dari tingkat IV dan 4 dari tingkat III memulai program novisiat yang dikenal sebagai masa ‘Novisiat Integral’. Dan 8 frater dari tingkat II dan 13 frater dari tingkat I masuk ke dalam program postulat.

Pater Propinsial menunjuk Pater G Zwaard untuk menjadi Magister Novis sampai tahun 1978. Sejak 1978, Pater Zwaard digantikan oleh Pater Andreas Lukasik. Para frater yang menjalani masa postulat dan novisiat ini tetap mengikuti kuliah di kampus. Sementara itu, konferensi-konferensi mengenai Kongregasi SCJ, Pendiri maupun inisiasi lainnya dilaksanakan sore hari atau setelah kuliah. Model pendidikan integral ini berlangsung hingga tahun 1980. Atas dasar keputusan Kapitel Propinsi pada tahun 1978, sejak Juli 1980 Novisiat SCJ dikembalikan ke Gisting, Lampung.

Visma Vijaya Praya (1973–sekarang)
Melalui Kapitel II Vice-Propinsi SCJ Indonesia yang diadakan pada tahun 1973 di Palembang, diputuskan untuk membeli rumah atau tempat baru yang terpisah dari Skolastikat SCJ. Kala itu, Rm Kees van Paassen SCJ sebagai Rektor Skolastikat SCJ diberi tugas untuk mencari kemungkinan-kemungkinan tempat atau rumah yang bisa dibeli. Dan pada akhirnya Rm Kwanten SCJ, yang saat itu menjadi Vice-Propinsial SCJ, memutuskan untuk membeli sebuah rumah yang berada di daerah Papringan.

Sebelumnya, rumah ini merupakan kandang ayam. Ketika dibeli, di sekitar rumah ini belum banyak rumah penduduk. Kala itu, di sebelah selatan dan utara rumah ini masih terdapat tanah datar yang lapang dan cukup luas, sementara di sebelah timur adalah ladang singkong dan jagung.

Lokasi rumah ini dirasa cukup cocok untuk menjawab kebutuhan para frater. Rumah ini dimaksudkan untuk para frater yang telah kembali dari menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) dan sedang mempersiapkan masa akhir proses pendidikan mereka. Dan keberadaan rumah yang tidak jauh dari kota ini memungkinkan para frater untuk terlibat dalam kegiatan pastoral di paroki-paroki di Yogyakarta pada akhir pekan.

Akhirnya pada 21 Oktober 1973, rumah ini secara resmi dibuka sebagai biara SCJ. Rumah ini diberi nama Visma Vijaya Praya (VVP), sebuah nama yang diberikan oleh Rm YB Mangunwijaya Pr. Visma Vijaya Praya berarti Sang Pamenang, yang menunjuk pada Kristus yang mati untuk menang. Nama ini secara etimologis berarti Visma (rumah), Vijaya (pemenang), dan Praya (kematian). Rm Wim Blok SCJ saat itu ditugaskan sebagai delegatus dan pemimpin komunitas ini.

Pada 9 Februari 1999 rumah ini mulai dibangun kembali. Awal tahun 2001 pembangunan selesai. Pada 14 Maret 2001, rumah yang baru ini diberkati oleh Mgr Ignatius Suharyo, Uskup Agung Semarang. Dalam homilinya, Mgr Suharyo mengatakan, “Rumah ini kokoh dan tampan, semoga ini bisa menjadi pusat getaran kasih Hati Kudus Yesus, dan memancarkan getaran-getaran kasih guna membangun dunia dan masyarakat di sekitarnya.

Keuskupan Agung Semarang merasa diperkaya dengan biara ini, karena kehadirannya dapat turut serta membangun gereja lokal. Kita berdoa agar apa yang telah dijanjikan oleh penghuni rumah ini dapat diungkapkan dalam hidup dan dalam segala hal mereka mencari kemuliaan Allah Bapa bersama Yesus; supaya mereka tekun berdoa bersama sebagai saudara, mampu melambangkan Gereja yang berdoa. Semoga mereka di bawah bimbingan Roh Kudus, masing-masing seturut panggilannya yang khusus, dengan tekun berusaha agar Kristus selalu berdiam di dalam hati mereka.”

Tautan:

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.