Historiografi Skolastikat SCJ: Pusat Mendidik Biarawan SCJ (3A)

Skolastikat SCJ

SKOLASTIKAT SCJ yang terletak di Jl Kaliurang Km 7,5 Yogyakarta ini bisa dikatakan sebagai kawah candradimuka. Dalam dunia pewayangan, kawah candradimuka merupakan tempat penggemblengan para ksatria. Skolastikat SCJ sebagai tempat pendidikan para calon imam dan biarawan SCJ pun bisa dikatakan sebagai tempat penggemblengan hingga didapatkan pribadi-pribadi yang siap diutus berkarya, baik bagi Gereja maupun masyarakat.

Tempat ini menjadi saksi bisu begitu banyak calon imam dan biarawan SCJ yang pernah dididik di sini. Dari antara mereka ada yang kemudian menjadi uskup, imam, bruder atau awam. Tahun ini Skolastikat SCJ memasuki usia ke-50 tahun. Sebuah masa yang penuh dengan bermacam warna dan pengalaman. Bagi setiap orang yang pernah berada di dalamnya, tempat ini menorehkan setitik warna bagi perjalanan hidupnya.

Usia 50 tahun Skolastikat SCJ ini dihitung dari tahun 1964, yakni keberadaannya di Yogyakarta. Pasalnya, sebelum tahun 1964 tempat pendidikan untuk para calon imam dan biarawan SCJ sudah ada dan belum menetap. Karena itu, untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai Skolastikat SCJ, berikut ini gambaran tentang perjalanan pendidikan para calon imam dan biarawan SCJ sebelum menetap di Jl Kaliurang Km 7,5.

Periode I: Benih-Benih Awal

Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ) mulai berkarya di Indonesia sejak 23 September 1924 dengan hadirnya tiga misionaris dari Belanda, yakni Pater HJD van Oort SCJ, Pater K van Steekelenburg SCJ dan Br Felix van Langenberg SCJ. Ketiga misionaris ini tiba dan berkarya di Tanjungsakti, Sumatera Selatan. Di tempat ini, mereka berkarya di tengah suku Pasemah.

Selain berkarya di tempat ini, para misionaris ini juga mulai mendirikan pos-pos misi di daerah sekitarnya. Dari sana kemudian muncul pos-pos misi pertama, yakni Palembang, Bengkulu, Tanjungsakti dan Tanjungkarang.

Sembari membuka wilayah misi baru, para misionaris ini juga memperhatikan segi pendidikan bagi masyarakat. Mulai berkembang sekolah-sekolah. Namun saat itu belum didirikan pendidikan khusus untuk para calon imam, meski sudah ada putera-putera pribumi yang ingin bergabung untuk menjadi imam SCJ. Mereka adalah Antonius Gentiaras dari Tanjungsakti, Aloysius Yohanes Slamet Saptaatmadja dan Maximus Martinus Wignyasoehardjo dari Jawa Tengah.

Karena SCJ belum mempunyai tempat khusus untuk pendidikan calon imam, ketiga calon tersebut menjalani pendidikan novisiat di Belanda. Akan tetapi Slamet Saptaatmadja meninggal dunia di Helmond, Belanda, pada saat menjalani masa novisiatnya pada tahun 1935.

Setelah menyelesaikan masa novisiatnya, Gentiaras meneruskan pendidikan di Seminari Tinggi Muntilan untuk belajar filsafat dan teologi. Seminari ini merupakan Seminari Tinggi pertama di Jawa (Indonesia) yang didirikan oleh Mgr Willekens SJ pada 15 Agustus 1936. Namun malang tak dapat dielakkan, pada 10 Januari 1939 Gentiaras meninggal dunia karena sakit dan dimakamkan di Muntilan. Sementara itu, Wignyasoehardjo yang ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1939 di Nijmegen, Belanda, juga meninggal dunia di Nijmegen pada tahun 1943.

Periode II: Seminari Menengah-Novisiat-Skolastikat
Perkembangan misi semakin maju. Kebutuhan akan tempat pendidikan bagi para calon imam pribumi mulai dirasakan kemendesakannya. Kebutuhan ini pada akhirnya dijawab dengan didirikannya Seminari Menengah di Pringsewu oleh Rm Padmoseputro Pr pada tahun 1947. Ada lima calon yang belajar di sana.

Sementara itu, pada 24 April 1947 di Pastoran Hati Kudus Palembang juga dimulai Seminari Menengah dengan empat calon yang belajar. Dan pada 1949 kedua seminari tersebut disatukan di Palembang. Setahun kemudian, para seminarisnya pindah lagi ke Lahat untuk mengikuti kelas 3 MULO (SMP St Yosep) yang dikelola oleh Suster-suster Carolus Borromeus sejak tahun 1939. Pada tahun 1951, mereka kembali lagi ke Palembang untuk sekolah di Sekolah Guru Atas (SGA) di bawah asuhan para Frater Bunda Hati Kudus (BHK). Mereka tinggal di asrama para Frater dari Utrecht ini sampai gedung Seminari St Paulus di Jl Bangau No 60 Palembang bisa ditempati. Pada 1953 akhirnya gedung seminari menengah bisa digunakan.

Pada 1954, empat orang pertama yang lulus seminari melanjutkan ke tahun postulat dan novisiat SCJ di Lahat. Mereka adalah Andreas Henrisoesanta (sekarang Uskup Emeritus Tanjungkarang), Petrus Abdi Putrarahardja, Josef Petrus Darmoseputro dan Petrus Abdullah Hasan. Magister Novis saat itu adalah Rm J. van der Sangen SCJ. Setelah angkatan pertama novis itu, baru dua tahun kemudian ada novis baru yakni Br Stefanus Purwasiswoyo.

Setelah menyelesaikan masa novisiatnya pada tahun 1956, Fr Henrisoesanta, Fr Abdi, Fr Darmo dan Fr Hasan harus belajar Filsafat dan Teologi. Para pengajarnya yakni Rm Frans Hovers SCJ (dosen Filsafat), Rm van Gisbergen SCJ (dosen Eksegese), Rm W de Witte SCJ (dosen sejarah Gereja) dan Rm van der Sangen SCJ (dosen Liturgi). Masa skolastikat ini masih dijalani di Lahat sampai tahun 1957.

Pada tahun 1957-1958 mereka belajar di Seminari Tinggi di Yogyakarta yang saat itu masih berada di Jl Code (sekarang menjadi IPPAK). Sesudahnya mereka dikirim ke Roma untuk mengikuti studi di Pontificia Universitas Gregoriana bersama dengan para calon SCJ dari negara-negara lain.

Rupanya pada tahun 1960 semakin banyak calon yang mau bergabung menjadi imam dan bruder SCJ. Sesuai dengan dekrit Jendral, Skolastikat SCJ dipindahkan dari Lahat ke Gisting pada tanggal 30 April 1960. Maka Novisiat dan Skolastikat berada di satu lokasi yang sama yakni di Gisting.

Pada 1 Juli 1960, Rm Frans Hovers SCJ diangkat sebagai rektor skolastikat yang baru. Ia juga sekaligus sebagai pengajar filsafat. Beberapa pengajar lain yang membantu adalah Rm Coenderman SCJ sebagai dosen Etika, Rm Charles Yost SCJ sebagai dosen teologi, Rm Tromp SCJ sebagai dosen Eksegese dan Rm J.E. Vranken SCJ sebagai dosen Liturgi. Masa skolastikat di Gisting ini berjalan hingga tahun 1964.

Periode III: Skolastikat SCJ di Yogyakarta

Pada tahun 1964 Skolastikat dipindahkan ke Yogyakarta. April 1964 dibeli sebuah rumah di Jl Ngadikan 1 (sekarang dipakai sebagai Bruderan MTB). Pada bulan ini juga Br Gabriel dan Br Alexius datang dari Gisting untuk mempersiapkan rumah tersebut. Rumah inilah yang secara resmi diakui sebagai Skolastikat SCJ oleh Pimpinan Tertinggi SCJ pada 23 Juni 1964. Dan pada 1 Agustus 1964, rumah ini mulai dipakai dan Pater Frans Hovers melanjutkan tugasnya sebagai rektor.

Angkatan awal yang menjalani masa skolastikat di Yogyakarta ini adalah Soedarsono, Fr Soejadi, Fr Busharun, Fr Y Hendra Aswardani, Fr AM Roosman, Fr C Bernardi. Kemudian pada 11 September 1965 datang 5 frater dari Gisting, yaitu Fr St Hannyadi, Fr Raphael Didiprijosuharso, Fr St Henykarjanto (St Endrakaryanta), Fr J Harsosusiswo dan Fr Ambrosius Dhani Indrata.

Satu tahun kemudian, pada 24 Agustus 1966 datang 6 frater yang baru selesai menjalani masa novisiat di Gisting:, yakni Fr Ag Senirang, Fr J Retapan Adi Swarman, Fr J. Abdi Darmosupraba, Fr Justinus Samudranugraha, Fr Ig Ciptaharsaya dan Fr Aloysius Sudarso (sekarang Uskup Agung Palembang). Para frater ini belajar Filsafat dan Teologi di Seminari Tinggi Jl Code 2 (sekitar 200 m dari Skolastikat SCJ). Kala itu Seminari Tinggi sudah menjadi Jurusan Filsafat Teologi pada Fakultas Keguruan Sastra Seni IKIP Sanata Dharma Yogyakarta.

Meski sudah menempati rumah di Jl Ngadikan, tampaknya sejak awal sudah direncanakan bahwa rumah tersebut hanya akan dipakai untuk sementara. Hal ini tampak ketika pater Vice Propinsial dalam bulan Maret 1964 datang ke Yogyakarta untuk mengurus perpindahan skolastikat dari Gisting ke Yogyakarta telah ditawari sebidang tanah di Jl Kaliurang. Tanah tersebut milik para suster Sang Timur (PIJ) yang rencananya akan dipakai untuk membangun novisiat mereka. Pada akhir April 1965 tanah ini pada akhirnya dibeli SCJ.

Sejak September 1965 pembangunan rumah baru untuk skolastikat dimulai. Tanah yang dibeli tersebut mulai dibangun tembok keliling. Dan selanjutnya, setelah kontrak pembangunan dengan Ir Lie Kok Gwan disepakati pada 14 Juli 1966, dimulailah pembangunan rumah baru. Sementara pembangunan rumah baru dilaksanakan, para frater masih tetap tinggal di rumah yang ada di Jl Ngadikan 1. Pada tahun ini juga, tepatnya pada 25 November 1966, terjadi pergantian rektor dari Pater Hovers ke Pater G Elling. Akhirnya, pada 7 Maret 1968 rumah baru di Jl Kaliurang Km 7,5 mulai dihuni. Sementara itu, rumah lama dijual kepada Kongregasi Bruder MTB.

Tautan:

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.