Hindari Ketamakan

Ayat bacaan: Yakobus 2:15-16
======================
“Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?”

Tidak seorang pun ingin hidup susah. Kita ingin diberkati Tuhan secara melimpah. Kita bekerja dan berdoa agar Tuhan memberkati pekerjaan kita agar berhasil. Pertanyaannya, ketika kita diberkati melimpah, apa yang kita lakukan? Banyak orang yang berpikir untuk membeli barang-barang yang kita sudah lama kita idam-idamkan. Ada yang langsung merencanakan untuk pergi berlibur ke sebuah tempat yang mungkin sudah lama dibayangkan. Ada yang berpikir untuk mendepositokan, menanam investasi lagi dan sebagainya. Semua itu tentu tidak salah.  Tapi apakah kita hanya berpikir akan hak atas apa yang kita peroleh tanpa memikirkan kewajiban kita? seberapa jauh kita terpanggil untuk membantu sesama kita lewat berkat yang sudah kita terima dari Tuhan? Pada kenyataannya orang yang tidak pernah merasa cukup akan terus tidak puas terhadap apa yang mereka miliki. Mereka akan terus merasa kurang dan akan berusaha mencari lebih banyak lagi melebihi hak mereka. Akhirnya mereka akan terjatuh pada berbagai penyimpangan, penipuan dan kecurangan-kecurangan lainnya. Akankah itu cukup? Tidak, itu tidak akan pernah cukup, apabila rasa tamak sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Ada banyak orang yang keliru dalam menyikapi berkat yang diberikan Tuhan. Mereka berpikir bahwa semua itu adalah untuk membuat mereka bisa hidup mewah, berfoya-foya menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu benar. Di satu sisi memang kita berhak memakai berkat yang kita peroleh untuk membeli keperluan atau kebutuhan kita dan keluarga, tapi di sisi lain kita harus ingat juga bahwa Tuhan memberi berkat bukan untuk kita simpan sendiri atau dihambur-hamburkan sepuasnya tetapi untuk memberkati orang lain. Kita diberkati bukan untuk ditimbun dan dipakai semata-mata untuk kepentingan pribadi, kita diberkati untuk memberkati. Dalam kitab Yehezkiel dikatakan: “Kalau seseorang adalah orang benar dan ia melakukan keadilan dan kebenaran..tidak menindas orang lain, ia mengembalikan gadaian orang, tidak merampas apa-apa, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang, tidak memungut bunga uang atau mengambil riba, menjauhkan diri dari kecurangan..” dan sebagainya. (bacalah Yehezkiel 18:5-9) Dalam Perjanjian Baru pun pesan seperti ini disampaikan beberapa kali, misalnya lewat Yakobus. “Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?” (Yakobus 2:15-16). Perhatikanlah bahwa Tuhan menginginkan kita untuk menjadi saluran berkatNya. Tuhan memberkati bukan untuk membuat kita menjadi orang-orang yang serakah.

Sebenarnya berapapun yang ada pada kita saat ini bisa sangat bermanfaat untuk membantu orang lain yang tengah berkesusahan. Besar atau kecil nilainya, selama itu diberikan dengan hati yang iklas dan penuh sukacita maka Tuhan pun akan memperhitungkannya dengan sangat tinggi. Lihatlah kisah seorang janda miskin yang memberi persembahan dalam jumlah kecil, hanya dua peser alias satu duit. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan half a cent atau setengah sen. (Markus 12:42). Jumlah itu sangat jauh nilainya dibawah pemberian orang-orang kaya pada saat bersamaan pada waktu itu. (ay 41). Ketika itu Yesus tengah berada disana dan mengamati setiap orang yang memberi persembahannya. Apakah jumlah yang besar itu yang menarik perhatian Yesus? Ternyata tidak. Justru si ibu janda miskin inilah yang mendapat perhatian Yesus. “Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.” (ay 43). Mengapa Yesus mengatakan seperti ini? “Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (ay 44). Artinya, berapa pun jumlah yang ada pada kita, kita bisa mulai peduli dan tergerak untuk memberi, karena seringkali bukan masalah ada dan tidak ada atau cukup dan tidak cukup, melainkan masalahnya adalah hati kita, tergerakkah kita untuk menolong orang lain atau tidak? Pada akhirnya kita harus sampai kepada pola pemikiran yang tepat sesuai Firman Tuhan, seperti yang tertulis dalam ayat berikut ini: “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima. (Kisah Para Rasul 20:35).

Apabila anda diberkati hari ini dengan penghasilan yang besar, bersyukurlah untuk itu dan pergunakan untuk memberkati sesama. Membantu yang kekurangan, menolong yang kelaparan, memberi pakaian bagi yang kurang mampu, dan lain-lain. Semua itu adalah tugas dan kewajiban kita sebagai orang percaya. Mahatma Gandhi pada suatu kali mengatakan: “Earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed”. Jika diterjemahkan, ia mengatakan bahwa bumi cukup untuk memuaskan semua orang, tetapi tidak akan pernah cukup untuk satu orang yang tamak. Bumi ini sudah diciptakan Tuhan dengan begitu baik sehingga lebih dari cukup untuk semua manusia, terlebih ketika kita orang percaya bisa berfungsi secara benar sesuai panggilan Tuhan. Tetapi dunia dan segala isinya ini tidak akan pernah cukup bagi orang-orang yang tamak atau serakah, yang ingin selalu memiliki lebih dan lebih lagi tanpa pernah merasa berterimakasih atas segala yang mereka miliki. Yesus sudah mengingatkan: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” (Lukas 12:15). Hendaklah kita semua hidup dengan rasa cukup dan tidak dikuasai oleh sifat serakah. Dalam keadaan apapun tetaplah bersyukur dan ingatlah bahwa di atas segalanya Tuhan sendiri yang akan memelihara hidup kita. Sekarang saatnya untuk menjadi saluran berkat dari Tuhan kepada sesama.

Hiduplah dengan rasa cukup dan hindari sifat tamak

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.