Hidup Di Tengah Masyarakat

Ayat bacaan: 1 Petrus 2:12
=====================
“Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.”

Hidup sebagai minoritas tidak mudah, apalagi jika berada ditengah orang-orang yang fanatismenya berlebihan. Bisa sangat sulit jika kita tidak tahu bagaimana menempatkan diri, kalau kita tidak sanggup bersosialisasi dengan baik, atau kalau kita merasa mereka sebagai orang tidak perlu dikenal. Sebaliknya bisa juga tidak sulit, jika kita tahu bagaimana menempatkan diri dan berada di tengah kelompok masyarakat dengan toleransi tinggi. Sebagai minoritas, sulitkah anda dalam bertetangga? Mudah-mudahan anda termasuk yang mudah bersosialisasi sehingga tidak menemukan kesulitan. Tapi satu hal, meski anda termasuk yang mudah atau sulit, satu hal yang pasti, siapapun kita, akan selalu ada orang lain yang mengamati seperti apa gaya dan cara hidup kita. Apalagi jika kita berbeda sendiri di tengah lingkungan tempat tinggal kita, maka kita biasanya akan semakin menjadi bahan perhatian orang.

Sekarang pertanyaannya, sosok seperti apa yang kita tunjukkan? sudahkah kita mencerminkan gaya hidup Kristiani yang benar? Sudahkah kita hidup dengan menyatakan kasih kepada tetangga dan orang-orang di sekitar kita? Puji Tuhan jika sudah, karena alangkah ironisnya ketika Yesus meminta kita untuk mewartakan kabar gembira ke seluruh dunia, jangankan melakukannya, banyak yang malah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Berbeda kepercayaan, berbeda status sosial, berbeda suku, bangsa, budaya atau bahkan bahasa sekalipun, tidaklah pernah bisa dijadikan alasan untuk menjauhi orang-orang yang ada disekitar kita. Apakah pagar rumah kita saat ini sangat tinggi, sehingga kita tidak pernah kenal siapa yang tinggal di sebelah rumah kita? Atau apakah disaat tetangga kita kelaparan, kita malah membuang-buang makanan atau berpesta di rumah tanpa sedikitpun mempedulikan mereka? Apakah kita lebih tertarik untuk mengadopsi bentuk kehidupan dunia yang suka memperbesar perbedaan dan menjadikan itu sebagai alasan untuk melakukan tindakan-tindakan buruk ketimbang menghidupi cara hidup yang baik dengan menjadikan kesamaan sebagai dasar untuk sebuah persatuan? Apakah kita masih suka sedikit-sedikit tersinggung dan langsung memusuhi, hanya menuntut hak sendiri tanpa mempedulikan hak orang lain? Atau apakah kita suka untuk ikut menggunjingkan orang lain dan membesar-besarkan kekurangan orang lain? Apakah keluarga kita sudah menjadi teladan di lingkungan sekitar atau malah hobi bertengkar dengan suara yang terdengar sampai radius beberapa rumah? Sikap kita, gaya, cara hidup kita ada yang memperhatikan. Bukan hanya manusia, tapi terlebih Tuhan. Dia akan melihat segala sesuatu yang kita perbuat dan lakukan.

Kehidupan sosial di tengah masyarakat sangatlah penting untuk diperhatikan. Bahkan di Alkitab pun peringatan ini sudah diberikan. Lihat kata Petrus berikut: “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.” (1 Petrus 2:12). Kita diingatkan untuk terus hidup suci dan taat ditengah-tengah masyarakat, terlebih ditengah-tengah orang yang belum percaya. Kita dituntut untuk menjadi terang dan garam dunia (Matius 5:13-16). Pesan ini bukan berarti kita bisa duduk santai tidak berbuat apa-apa atau yang lebih parah lagi menjadi batu sandungan bagi orang lain, karena jika demikian kita tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam bagi dunia. Terang itu nyata bedanya dibandingkan gelap, garam pun memberi perbedaan nyata dalam masakan. Artinya kita dituntut untuk melakukan tindakan nyata. Ada banyak orang yang mengira bahwa melayani Tuhan hanyalah ketika kita aktif berkotbah sehingga mereka dengan mudah bisa berkelit tidak punya kemampuan atau tidak terpanggil untuk melayani. Padahal yang jauh lebih penting adalah memperhatikan betul bagaimana kita hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Apakah cara hidup kita sudah sesuai dengan firman Tuhan, sudah mencerminkan Kristus yang penuh kasih, atau malah bertolak belakang? Serajin apapun kita menjalankan tata cara beribadah, sekuat apapun kita meneriakkan firman Tuhan, semua hanya akan sia-sia dan hanya akan jadi olok-olok apabila ternyata pola hidup kita bertolak belakang. Bersikap seolah-olah alim, tapi hidupnya ternyata berbeda dengan apa yang dipertontonkan di depan orang banyak. Sepertinya bijaksana ketika berbicara tapi hidup penuh penipuan dan suka merugikanatau mengorbankan orang lain. Sikap seperti ini dikecam langsung oleh Yesus dalam Matius 5:1-36. Intinya, mereka ini tidak melakukan apa yang mereka ajarkan. (ay 3). Ingatlah bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yakobus 2:20), bahkan lebih parah lagi, berarti mati. (ay 26).

Sadarilah bahwa kehidupan kita bisa menjadi sebuah kesaksian yang manis bagi saudara-saudara kita yang belum percaya. Mereka bisa mengenal siapa Yesus Kristus dan bagaimana kuasa Yesus sanggup bekerja secara luar biasa lewat hidup kita. Menjadi garam dan terang dunia, itulah yang seharusnya kita lakukan, dan itu sanggup membawa hasil jauh lebih baik dibandingkan hanya di mulut saja. Jika demikian, kita harus hidup sebagai pelaku firman, artinya mengaplikasikan firman secara nyata dalam kehidupan kita. Mengasihi tetangga dan orang-orang disekitar kita, membantu mereka dalam kesulitan, peduli kepada mereka, bersikap ramah dan penuh kesabaran, menunjukkan sikap bersahabat, mendahulukan kepentingan orang lain, siapapun mereka, apapun latar belakang mereka, tanpa terkecuali. Hanya dengan demikian kita bisa menjadi duta-duta Kristus yang baik, sehingga kita bisa mengenalkan pribadi Kristus yang benar beserta kebenaran yang Dia bawa dari Bapa Surgawi kepada mereka yang belum percaya. Pagar rumah kita boleh saja tinggi, namun janganlah ketinggian pagar itu menjadi pembatas kita dengan orang-orang yang bersebelahan dengan kita.

Hiduplah baik, sehingga orang bisa mengenal Kristus lewat kehidupan kita secara benar

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Published by Renungan Iman Katolik

Merenungkan sabda Tuhan di saat hening di pagi hari akan menjaga hati dan pikiran kita dari kuasa roh jahat. Berkah Dalem...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.