Hidup Dengan, Dalam dan Untuk Kemuliaan

Ayat bacaan: Mazmur 8:6
=====================
“Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.”

Kita bisa mengatakan siapa diri kita menurut kita sendiri, tapi siapa diri kita yang sesungguhnya akan terlihat dari cara kita hidup di dunia ini. Apakah kita hidup dengan dalam kegembiraan, penuh sukacita, tidak pernah pesimis, tidak penuh keluhan dan senantiasa memberkati orang, atau sebaliknya kita hidup dipenuhi kecemasan atau ketakutan, fokus kepada beban hidup, gampang emosi dan tersinggung, atau juga terus mengejar kekayaan dan menghalalkan segala cara untuk itu, semua itu akan menunjukkan siapa diri kita dan kepada siapa kita menghamba. Gambaran itulah yang akan dilihat dan diingat oleh orang lain. Alangkah ironisnya jika kita mengaku sebagai orang percaya tetapi cara hidup kita sama sekali tidak menunjukkan kualitas seperti itu. Tidak saja orang akan tertawa melihatnya, tapi itu juga akan menjadi semacam ‘bad campaign’ dari Tuhan yang kita sembah. Banyak orang yang tentu saja menyadari hal ini, tetapi masalahnya mereka tidak mampu berbuat apa-apa untuk merubah perilakunya. Dengan kata lain, mereka ini sesungguhnya tidak menyadari jati diri atau hakekat manusia sejak semula ketika diciptakan. Seperti apa dan untuk apa sebenarnya manusia diciptakan menurut pandangan Tuhan sendiri?

Mari kita lihat kitab Mazmur pasal yang ke-8 dengan judul “Manusia hina sebagai mahluk mulia.” Pada saat itu kelihatannya langit sangat cerah sehingga Daud pun tertarik untuk merenung sambil memandang keindahan langit. Hasil perenungannya tertulis demikian: “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mazmur 8:4-5). Daud saat itu tengah memandang keindahan langit dan mengagumi keindahan bulan dan bintang-bintang gemerlap di langit dalam merepresentasikan kemuliaan Tuhan. Tapi meski langit terlihat penuh untaian kerlap kerlip yang indah, ia tahu bahwa manusia ternyata dipandang jauh lebih penting dari semua itu. Manusia yang terus menerus berbuat dosa menyakiti hati Tuhan seharusnya tidaklah sebanding dengan desain Tuhan atas alam semesta ini yang begitu luar biasa indahnya. Tetapi nyatanya Tuhan membuat manusia sebagai ciptaanNya yang begitu istimewa. Kita manusia adalah ciptaannya yang spesial. We are His masterpiece, lebih dari apapun yang ada di kolong langit ini. Apapun yang kita lakukan tidak akan pernah bisa mengubah keputusan Tuhan dalam menciptakan diri kita secara istimewa, satu-satunya ciptaanNya yang dibuat tepat seperti gambar dan rupaNya sendiri. Lihatlah apa kata Daud berikutnya: “Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.” (ay 6). Sadarkah kita akan hal ini? Manusia diciptakan dengan kemuliaan, dalam kemuliaan dan untuk kemuliaan. Manusia sejak awal diciptakan secara khusus. Tuhan menaruh langsung kemuliaanNya ketika menciptakan manusia. Kita bukanlah ciptaan asal jadi, tetapi dikatakan bahwa kita telah dibuat dengan kemuliaan dan hormat yang berasal langsung dari Tuhan. Ini adalah sebuah kenyataan yang sangat besar artinya, tetapi sekali lagi, berapa banyak dari kita yang benar-benar menyadarinya?

Hidup dalam kemuliaan Allah berarti hidup dengan bobot dan kualitas Allah. Tuhan meletakkan kemuliaanNya atas diri kita, itu sama artinya dengan meletakkan kualitas diriNya pada kita. Dan karenanya sudah seharusnya kita berjalan dalam bobot dan kualitas Allah dengan membuat atau mengambil keputusan-keputusan yang benar dalam hidup. Kita bukan diciptakan sebagai robot, namun kepada kita diberi kehendak bebas. Itu jelas-jelas merupakan salah satu bentuk kemuliaan yang diberikan Tuhan kepada kita. Lalu untuk apa kehendak bebas itu seharusnya dipergunakan? Apakah itu artinya kita bisa berbuat seenaknya? Tentu saja tidak. Tujuan Tuhan jelas, yaitu agar kita bisa memutuskan segala sesuatu sesuai dengan kualitas Tuhan. Tapi seringkali yang kita lakukan justru sebaliknya, berbuat sesuka hati kita, mementingkan dunia dan tidak mau mengisinya dengan kualitas Tuhan.

Sebuah contoh orang yang hidup dengan kualitas Tuhan bisa kita lihat lewat kisah hidup Yusuf. Kita tahu bagaimana kuatnya Yusuf menghadapi masalah beruntun yang sama sekali tidak ringan dalam perjalanan hidupnya. Yusuf tidak mempunyai faktor apapun sebagai manusia biasa untuk bisa menunjukkan karakter sekuat itu. Tapi lihatlah bahwa keputusannya untuk hidup dengan kualitas Tuhan membuatnya mampu tampil kuat tanpa kehilangan harapan walau masalah terus silih berganti menghampirinya. Pada akhirnya kita tahu bagaimana Yusuf menjadi orang paling berkuasa kedua di seluruh Mesir. Ia dipercaya untuk mengelola dan mendistribusikan makanan di masa sukar. Lihatlah bahwa dalam masa seperti itu, Mesir tetap berkelimpahan di tangannya. Dan itulah hasil yang dicapai oleh orang yang hidup dalam kualitas Tuhan, yang menyadari bagaimana sebuah kehidupan yang dipenuhi kemuliaan Allah.

Yusuf punya kebebasan sama seperti kita, tapi ia mengambil keputusan untuk hidup dengan kualitas Tuhan. Dengan kemuliaan Tuhan, dalam kemuliaan Tuhan dan untuk kemuliaan Tuhan. Hingga hari ini kita masih mengenal Yusuf sebagai seorang pria tangguh yang telah membuktikan bagaimana bedanya berjalan dengan kualitas Tuhan. Semua orang akan bisa melihatnya sepanjang masa, termasuk ayahnya sendiri, Yakub. Yakub dengan jelas berkata: “Yusuf adalah seperti pohon buah-buahan yang muda, pohon buah-buahan yang muda pada mata air. Dahan-dahannya naik mengatasi tembok. Walaupun pemanah-pemanah telah mengusiknya, memanahnya dan menyerbunya, namun panahnya tetap kokoh dan lengan tangannya tinggal liat, oleh pertolongan Yang Mahakuat pelindung Yakub, oleh sebab gembalanya Gunung Batu Israel.” (Kejadian 49:22-24). Itulah bentuk kesaksian sang ayah terhadap puteranya, yang tentu kita rasakan pula jika melihat kisah hidupnya.

Siapa kita hari ini? Apakah hari ini kita orang-orang yang mampu mempengaruhi atau dipengaruhi? Apakah kita mengalahkan masalah atau kesulitan hidup atau dikalahkan? Apakah kita berhasil atau gagal? Semua itu tergantung dari diri kita sendiri. Apakah kita mau hidup dengan kualitas Ilahi, dengan kemuliaan dan hormat yang telah Dia berikan kepada kita atau kita memilih untuk menolak itu dan terus berlaku menyakiti hatiNya. Satu hal yang pasti, kita akan menjadi orang-orang yang kuat dan tegar jika kita hidup dalam kualitas Tuhan dan mengimani benar bahwa kita diciptakan dengan kemuliaan dan hormat yang berasal daripadaNya. Sekali lagi, kita diciptakan dengan kemuliaan, dalam kemuliaan dan untuk kemuliaan. Ini saatnya untuk menyadari jatidiri sesungguhnya dari manusia seperti yang diinginkan Tuhan, dan mulailah hidupi itu dengan sungguh-sungguh.

Hiduplah dengan kualitas Tuhan dan muliakanlah Tuhan dalam segalanya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.