Hidangan dan Proses Penyajiannya

Ayat bacaan: Kejadian 39:5
=====================
“Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang.”

makanan

Berapa banyak makanan yang dihidangkan tepat di hadapan anda apabila anda duduk di sebuah rumah makan Padang? Semua terlihat nikmat, dan kita pun sering kesulitan memilih mana yang hendak kita makan. Tadi siang saya mengunjungi sebuah rumah makan Padang dan mengalami sendiri sulitnya menentukan pilihan dari sekian banyak makanan lezat yang terhidang di atas meja. Di saat bingung memilih, saya tiba-tiba terpikir betapa panjangnya jalur proses hingga makanan itu bisa sampai ke atas meja. Peternak ayam bersusah payah membiakkan ayamnya lalu sampai ke pasar untuk dijual. Pihak restoran, rumah makan atau ibu rumah tangga membelinya, dan di dapur ayam itu akan bertemu dengan berbagai bumbu dan sayuran yang menempuh proses yang panjang pula. Sayuran ditanam petani dengan susah payah, di bawah terik matahari dan harus berhadapan dengan berbagai hama atau cuaca buruk yang berpotensi merusak hasil taninya. Jika ditambah lagi dengan ikan, para nelayan harus menempuh berbagai resiko ketika melaut. Tidak jarang gelombang tinggi atau malah badai mengancam mereka, dan tidak jarang pula mereka harus meluangkan waktu lebih banyak untuk mendapat hasil tangkapan yang memadai. Ada supir yang bertugas mengantarkan produk ke pasar/supermarket hingga ke dapur, ada para pembantu dan koki yang bekerja memasaknya, ada penjual di pasar atau malah karyawan/karyawati supermarket yang siap membantu anda dalam membeli. Jika kita pikirkan, proses yang harus dilewati sungguhlah panjang. Kita mungkin hanya tahu beres, tinggal menyantap makanan lezat di atas meja saja, tetapi agar makanan itu bisa kita nikmati, selalu ada sebuah proses panjang yang melibatkan banyak orang di dalamnya.

Kita selalu diingatkan untuk berdoa sebelum makan, mengucap syukur dan meminta agar apa yang kita makan diberkati Tuhan sehingga menjadi sumber tenaga, kesehatan dan kekuatan yang menjauhkan penyakit dari tengah-tengah kita. Sebuah ayat dalam kitab Keluaran berkata: “Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN, Allahmu; maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu.” (Keluaran 23:25). Itulah sebabnya mengapa kita harus berdoa terlebih dahulu sebelum makan. Dan jika kita melihat ketika Yesus datang ke dunia, berkali-kali pula ia menunjukkan pentingnya mengucap syukur terlebih dahulu atas roti/makanan sebelum disantap. Bukan itu saja, tetapi alangkah baiknya apabila dalam doa kita itu kitapun mendoakan dan memberkati orang-orang yang terkait dalam proses panjang makanan itu. Mengapa? Sebab sebagai agen-agen Tuhan di dunia hari ini kita harus ingat tugas kita untuk menjadi saluran berkat dari Tuhan bagi orang lain.

Dalam ayat bacaan hari ini kita bisa melihat bahwa Yusuf bisa menjadi saluran berkat Tuhan atas Potifar. “Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang.” (Kejadian 39:5). Ayat ini jelas menunjukkan bahwa kita bisa menjadi saluran berkat seperti halnya Yusuf atas Potifar. Potifar dikatakan diberkati Tuhan dan jelas disana disebutkan bahwa itu “karena Yusuf”. Artinya lewat kita anak-anakNya yang percaya, Tuhan bisa memberkati orang lain. Kita bisa menjadi saluran berkat bagi banyak orang dan itu bisa kita lakukan dengan mendoakan orang yang memasak dan menghidangkan. Sayangnya banyak yang lupa bahwa sebenarnya butuh proses panjang agar makanan bisa terhidang dan melibatkan banyak pihak. Lupa bahwa mereka-mereka ini pun layak untuk kita doakan. Padahal apabila satu saja mata rantai itu terputus, makananpun tidak akan sampai ke atas meja kita dan kita tidak akan bisa menikmati sajian yang lezat itu.

Lebih sering cacian, prasangka dan tuduhan yang lebih sering keluar dari lidah ketimbang berkat bagi orang lain. Firman Tuhan sudah mengingatkan hal itu dalam banyak kesempatan, misalnya “dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.” (Yakobus 3:10). Kita sering lupa bahwa untuk menjadi diri kita sekarang ada banyak orang yang memiliki peran penting di sepanjang perjalanan hidup kita. Adalah jauh lebih mudah untuk mengingat sesuatu yang buruk daripada mengingat jasa dan kebaikan orang lain. Petrus pun mengingatkan kita untuk terus memberkati, karena kita dipanggil untuk memperoleh berkat pula. “Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab:Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.” (1 Petrus 3:9-10) Kita diberkati untuk memberkati. Karenanya kita harus menjadi saluran berkat pula untuk menjangkau orang lain secara luas, tanpa terkecuali dan tanpa batas. 

Jika esok anda melihat hamparan makanan lezat dihidangkan di depan anda, ingatlah bahwa semua itu butuh proses perjalanan yang panjang. Ada orang-orang yang sudah bersusah payah bekerja sehingga makanan lezat itu pun bisa terhidang di meja anda. Doakan dan berkatilah mereka yang terlibat di dalamnya, karena selain semua itu adalah hasil kerja mereka yang patut kita hargai, kita pun bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Seperti Tuhan selalu memberkati kita, kita pun harus memberkati lebih banyak lagi

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.