Hati Sekeras Batu Cadas

Ayat bacaan: Markus 3:5
====================
“Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka…”

hati keras

Saya sore tadi membeli sebuah bakpau. Sewaktu dibeli rotinya masih terasa lembut karena si penjual memiliki kotak penghangat yang dipasang di motornya. Saya meletakkannya di meja dan baru akan memakannya beberapa jam kemudian. Ternyata rotinya sudah mengeras, sehingga tidak lagi enak dikonsumsi. Agar kembali lunak, saya pun harus mengukusnya lagi terlebih dahulu. Jika roti bisa mengeras menjadi tidak enak lagi, hati kita pun demikian juga.

Saya sudah pernah bertemu dengan banyak orang yang hatinya keras bagai batu cadas. Mereka sangat sulit menerima pendapat orang lain, cenderung merasa benar sendiri dan susah diajak bicara. Mereka lebih memilih untuk berdebat walau mungkin dalam hati mereka setuju dengan apa yang kita katakan. Pokoknya bantah dulu, argumen belakangan. Orang-orang seperti ini terus dikuasai oleh kekerasan hatinya sehingga tumbuh menjadi orang yang degil dan sangatlah susah untuk dinasihati atau diubahkan. Benar, kita memang tidak harus selalu setuju dengan pendapat orang. Tetapi alangkah baiknya jika kita mau mendengarkan nasihat yang benar, setidaknya memberi kesempatan dulu buat orang untuk mengutarakan pendapatnya. Orang-orang yang keras hati dan kepalanya susah untuk berubah. Kedegilan itu bisa membutakan.dan sangatlah merugikan. Dengan membiarkan hati tetap keras bukan menunjukkan kehebatan kita, tetapi itu hanya akan membawa kerugian kepada diri kita sendiri.

Lewat contoh orang-orang Farisi kita bisa melihat contoh nyata perihal kekerasan hati ini. Mereka memiliki keadaan hati yang sungguh mengecewakan Yesus. Hati mereka yang sangat keras mengakibatkan mereka tidak lagi peka, baik terhadap kebenaran, terhadap orang lain juga terhadap diri mereka sendiri. Dalam banyak kesempatan yang tercatat dalam Alkitab kita bisa melihat pameran kemunafikan mereka. Mereka merasa sebagai orang-orang yang paling rohani, paling suci,paling tahu segalanya, paling hebat, paling benar. Mereka rajin menghakimi orang lain tetapi tidak pernah introspeksi terhadap diri sendiri. Kepekaan pun lenyap dari diri mereka. Mari kita ambil salah satu contoh saja ketika Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat dalam Markus 3:1-6.

Pada saat itu Yesus bertemu dengan orang yang tangannya lumpuh sebelah di sebuah rumah ibadat. Melihat keadaan itu, tampaknya para orang Farisi seolah mendapatkan peluang untuk mencari-cari perkara terhadap Yesus. Mereka tahu bagaimana Yesus mengasihi manusia, oleh karena itu tentunya mereka sudah memperkirakan bahwa Yesus akan menyembuhkan orang lumpuh itu meskipun hari itu adalah hari Sabat, yang menurut hukum Taurat tidak boleh dipakai untuk mengerjakan apapun.

Betapa ironis. Tuhan hadir tepat ditengah-tengah mereka. Seharusnya mereka menyadari hal itu dan bersukacita. Jika mereka mengetahui seluruh hukum Taurat dan tulisan-tulisan para nabi terdahulu, mereka harusnya menyadari betul sosok yang berdiri di tengah mereka, sebab Yesus jelas-jelas memenuhi syarat setiap nubuat mengenai kedatangan Mesias yang sudah tertulis di sana. Tetapi lihatlah bagaimana kekerasan hati membuat mereka tidak lagi peka bahkan menjadi buta. Mereka sama sekali tidak mengenali jati diri Yesus. Bukannya bersyukur dan bersukacita mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan Yesus, mereka malah sibuk mencari-cari kesalahan. “Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia.” (Markus 3:2). Seperti itulah Injil mencatat perilaku mereka. Hati dan batok kepala orang Farisi ini bukan saja keras untuk menerima Yesus, tetapi juga keras dalam melihat tangisan memohon pertolongan orang-orang di sekitar mereka. Mereka lebih mementingkan tata cara, formalitas atau tradisi ketimbang mengasihi orang lain. Perhatikan apa saja tindakan orang Farisi pada saat itu. Mereka mengecam pekerjaan Tuhan, mereka lebih tertarik untuk melindungi tradisi keagamaan ketimbang mematuhi Firman Tuhan, mereka hanya mementingkan kesejahteraan mereka sendiri ketimbang orang lain, dan mereka juga lebih peduli akan pendapat orang ketimbang melakukan segala yang berkenan di hadapan Tuhan. Semua itu jelas tertulis dalam Markus 3. Mereka menampilkan sosok yang sepertinya sangat suci, berdoa di jalan-jalan umum agar terlihat begitu alim. Sementara perilaku mereka sama sekali tidak mencerminkan itu semua.

Sampai hari ini pun kita masih sering melihat orang-orang dengan tipe sama, atau jangan-jangan kita pun demikian. Ada banyak orang percaya yang terperangkap dalam sikap yang sama seperti yang dilakukan orang-orang Farisi pada masa itu. Mereka cenderung merasa diri paling suci, paling benar dan karenanya berhak untuk menghakimi orang lain. Mereka ingin terlihat sangat alim di mata orang lain padahal perbuatan mereka dibelakang sangatlah berseberangan. Mereka berpusat pada kepentingan diri sendiri dan tidak peduli atas penderitaan orang lain. Kalau tidak hati-hati, kita pun bisa menjadi mangsa dari kesalahan serupa. Kita bisa terlalu asyik dalam melakukan dan mengucapkan hal-hal yang “benar” sehingga kita membiarkan kehangatan kasih Tuhan yang lembut dalam hati kita perlahan berubah menjadi dingin. Kita merasa paling benar sehingga merasa berhak menghakimi.  Selanjutnya hati kita pun mengeras. Kita kemudian menjadi tidak lagi peka, dan itu sesungguhnya sangatlah berbahaya. Perhatikan reaksi Yesus terhadap sikap seperti ini. “Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka..” (Markus 3:5). Ya, itu mendukakan Yesus. Itu membuatnya kecewa, dan membuatnya marah. Jika orang-orang percaya terus melakukan hal seperti ini, bagaimana mungkin kita bermimpi untuk melihat transformasi di sekitar kita? Bagaimana mungkin kita bisa menyaksikan kegerakan Tuhan yang luar biasa sementara kita sendiri masih menjadi batu sandungan bagi orang lain? Tuhan rindu untuk mencurahkan RohNya dalam kuasa dan kelimpahan melalui kita, gerejaNya. Dia terus ingin kita dipenuhi, tetapi itu tidak akan bisa terjadi jika hati kita keras. Hati dan kepala yang keras, kedegilan, itu akan menghambat segala yang diturunkan Tuhan atas kita. Sebelum kita bermimpi untuk bisa mengalami ini semua, kita harus terlebih dahulu membuang jauh-jauh kedegilan dan kekerasan hati seperti yang memenuhi para orang Farisi pada masa itu.

Dalam Alkitab tertulis: “Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya.” (Amsal 14:8). Kekerasan hati bisa sangat menipu. Itu bisa membuat kita tidak peka atau terjebak pada kebodohan sendiri. Oleh sebab itu kita kemudian diingatkan “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif” (Efesus 5:15). Firman Tuhan juga jelas berkata “Tetapi apabila pernah dikatakan: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman” (Ibrani 3:15). Hati merupakan pusat kontrol dari segalanya, dan segala kecemaran itu timbul dari hati yang tidak terjaga dengan baik. sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” (Markus 7:21-22). Hari ini juga, jika kita menginginkan pencurahan Roh Kudus dalam hidup kita dan melihat langsung manifestasiNya dalam gereja dimana anda bertumbuh, kita harus terlebih dahulu memeriksa kembali keadaan hati kita masing-masing dan memastikan hati kita masih lembut. Jika kita menemukan ada bagian-bagian yang keras dalam hati kita, bertobatlah dan lembutkan secepatnya. Tanpa itu semua kita tidak akan bisa mencapai apa-apa dan hanya akan mendukakan Kristus dan mengecewakanNya.

Kekerasan hati bisa membutakan dan membahayakan hidup kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. contoh ilustrasi khotbah tentang kasih
  2. ilustrasi khotbah tentang kesombongan
  3. Contoh ilustrasi khotbah
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: