Harus Berani Menjadi yang Terakhir, Markus 9:29-36

< ![endif]-->

“Barang siapa ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan menjadi pelayan bagi semua orang.”

BANYAK orang punya kecenderungan untuk menduduki posisi yang tertinggi. Untuk itu mereka berusaha cara apa pun.Posisi dianggap sebagai kekuasaan untuk memerintah orang lain. Mereka lupa bahwa kedudukan itu sebenarnya untuk melayani.Maka tidak mengherankan  kalau di dunia sekitar kita, orang setelah berkuasa bertindak sewenang-swenang terhadap orang lain terutama orang kecil dan bawahannya. Ia lalu memperkaya diri dengan cara yang tidak benar.

Para Rasul ketika belum memahami makna Kerajaan Allah yang akan didirikan oleh Yesus dengan sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.Mereka mengira bahwa Yesus akan membangun kerajaan duniawi. Maka mereka mempersoalkan. Siapa yang akan menduduki posisi tertinggi? 

Hal ini juga terjadi bukan hanya pada zaman para Rasul, tetapi juga pada zaman sekarang. Banyak orang yang memandang Gereja sebagai organisasi atau lembaga, sehingga kedudukan dan tugas pelayanan juga dapat disalahgunakan. Maka Yesus memberikan nasihat kepada kelompok ini: “Orang yang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah Ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan menjadi pelayan bagi semua orang”.

Nasihat Tuhan Yesus ini benar. Namun banyak orang tidak dapat menangkap bahwa menjadi terakhir dan menjadi pelayan bagi orang lain dapat mengangkat martabat pribadi manusia. Dari pengamatan sehari-hari kita pun dapat menyaksikan sendiri, bahwa yang dihormati oleh banyak orang itu bukan orang yang punya kedudukan atau orang kaya, tetapi orang yang mau melayani orang lain. Semakin orang melayani banyak orang dan mencurahkan hidupnya bagi orang lain, orang itu akan semakin diterima dan dihargai oleh masyarakat.

Apalagi kalau orang itu mengorbankan hidupnya demi pengabdiannya bagi orang lain. Perawat atau guru yang bekerja di pedalaman dan melayani orang kecil bukannya orang pesimis dan merasa putus asa.Walaupun penghasilannya sangat kecil dan ia mau berkorban untuk orang lain ia akan bahagia dan merasa senang.Kalau orang lain belum dapat menghargainya, Tuhan sendirilah yang melihat pengabdian orang itu. (pcp)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.