Harta atau Nyawa?

Ayat bacaan: Matius 6:24
======================
“Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

harta atau nyawa

Bayangkan seandainya anda berhadapan dengan perampok yang menodong anda dengan sebuah pisau, lalu berkata, “pilih harta atau nyawa”? Apa yang akan anda jawab? Sepintas jawabannya terlihat mudah. Tentu saja pilih nyawa. Harta bisa dicari lagi, tapi nyawa tidak ada cadangannya. Itu jawaban rasional yang mungkin akan menjadi jawaban kita ketika berhadapan dengan situasi seperti itu. Tapi tidakkah kita sering melihat ada banyak orang yang masih berusaha mempertahankan hartanya meski sedang dalam keadaan genting seperti itu? Meski nyawa berada di ujung tanduk sekalipun, mereka akan terus berusaha agar hartanya tidak berpindah tangan. Tidak jarang pula kita melihat nyawa seseorang berakhir akibat harta. Baiklah, mungkin kita tidak termasuk dalam kategori orang yang mau mati sia-sia seperti contoh di atas. Tapi dalam kehidupan kita, dimana posisi gelimang harta dan kemewahan saat ini? Apakah kita yang memegang kendali atas uang, atau sebaliknya uang yang memegang kendali atas kita? Sebab jika pertanyaan yang sama diajukan kepada kita tanpa kehadiran seorang perampok yang kasat mata, mungkin jawaban kita bisa sama seperti contoh di atas.

Uang memang memegang peran luar biasa penting di dunia. Dengan uang kita seakan bisa melakukan segalanya, termasuk memanipulasi hukum dan keadilan. Dengan uang kita bisa menguasai, dengan uang kita bisa menundukkan, itu memang yang terjadi menurut hukum dunia. Money talks. And it talks loud. Tapi sadarkah kita bahwa ada begitu banyak jebakan dibalik itu yang bisa menjerumuskan kita ke dalam kebinasaan? Dan Yesus sudah mengingatkan sejak jauh hari. Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. (Matius 6:24). Banyak orang menyalah artikan ayat ini sebagai sebuah perintah untuk hidup miskin, tetapi saya percaya bukan demikian. Karena Tuhan berulang kali menyatakan bahwa Dia sanggup menjaga kita dan melimpahi kita dengan segala sesuatu yang kita butuhkan. Jika kita membaca perikop selanjutnya mengenai Hal Kekuatiran (Matius 6:25-34), disana jelas bahwa Tuhan sanggup menyediakan segala kebutuhan kita. Bukan hanya sedikit atau sebagian, tapi firman Tuhan jelas berkata “semuanya”, “all these things taken together will be given”. Itu akan kita peroleh jika kita mementingkan terlebih dahulu untuk mendapatkan Kerajaan Allah dan kebenarannya lebih dari apapun. (ay 33). Atau lihat janji Tuhan lainnya “Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Korintus 2:9). Jika demikian, mengapa Yesus mengatakan bahwa ayat yang menyinggung mamon atau dewa uang di atas? Mencari uang itu tidak salah, uang itu tidak salah, namun menjadi “HAMBA” uang, itu yang salah.

Bacalah perikop “Orang Kaya Yang Bodoh” dalam Lukas 12:13-21 untuk lebih jelasnya. Disana ada perumpamaan yang sangat jelas mengenai kesia-siaan jika kita sibuk mengumpulkan harta di dunia ini. Tidak peduli seberapa bertimbunnya harta yang kita miliki saat ini, itu tidak akan pernah bisa menjamin keselamatan kekal. Mungkin di dunia ini kita bisa berbuat apapun, tapi tidak bagi Tuhan. Kita tidak akan pernah bisa membayar Tuhan dengan nilai harta berapapun besarnya. Dalam perikop ini Yesus berkata “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” (ay 15). Dalam perumpamaan yang diberikan Yesus, dikatakan ada seorang yang sangat kaya, yang terus menimbun dirinya dengan pundi-pundi harta. Begitu pongahnya, sehingga “Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” (ay 19). Tapi apa yang menjadi jawaban Allah kepadanya? “Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?” (ay 20). Untuk apa semua itu kelak ketika kita dipanggil menghadapNya? Semua itu tidak akan pernah bisa kita bawa. Begitu urusan di dunia selesai, maka itulah akhir cerita dari segala harta kekayaan itu. Dan Yesus pun menutup perumpamaannya dengan “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (ay 21). Itulah akhir dari setiap orang yang berusaha memperkaya dirinya sendiri secara duniawi tapi tidak berusaha menjadi kaya di mata Tuhan.

Kekayaan di dunia ini tidaklah sebanding dengan kekayaan di surga kelak. Apa yang seharusnya kita kumpulkan bukanlah harta secara duniawi, melainkan harta di surga. Itulah yang seharusnya menjadi tujuan kita. Yesus berkata “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19). Harta di bumi ini tidak akan pernah bersifat kekal. Setiap saat semuanya bisa sirna, tidak peduli sebanyak apapun yang sudah kita timbun, semua itu bisa lenyap dalam sekejap mata. Dan inilah yang seharusnya kita lakukan: “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (ay 20). Jika di dunia kita terus diarahkan untuk menimbun, menurut Kerajaan Allah justru sebaliknya, yaitu terus memberi. “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38). Kita diberkati bukan untuk ditimbun. Kita diberkati untuk memberkati. Itulah aturan mainnya. Terus memberi sehingga pada akhirnya kita bisa merasakan “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35).

Jika demikian bagaimana dengan kehidupan kita saat ini? Bukankah kita perlu uang untuk makan, untuk mencukupi keluarga, untuk hidup? Tentu saja. Kita memang harus terus bekerja untuk menyambung hidup, tapi kita harus berhati-hati agar tidak terjerumus menjadi hamba uang, hamba harta, hamba popularitas, hamba status dan lain-lain. Itu artinya menduakan Tuhan, dan sebagai seorang hamba kita harus memilih kepada siapa kita mengabdi. Bekerjalah dengan sebaik-baiknya, bahkan kita diminta untuk bekerja dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Lalu Tuhan akan memberkati kita dengan segala sesuatu. Bukan untuk ditimbun melainkan untuk dipakai memberkati orang lain. Dan itupun bukan untuk popularitas kita, tapi untuk kemuliaan Tuhan. Lakukan itu, maka itu artinya kita sedang mengumpulkan harta di surga, dimana tidak ada satupun yang mampu merusak atau mencurinya.

Sekali lagi, bukan soal uangnya, tetapi soal seperti apa posisi kita disana. Apakah kita yang memegang kendali atas harta atau sebaliknya kita diperbudak oleh gemerincing uang. Ingatlah bahwa harta duniawi hanyalah mampu berfungsi sebagai alat tukar yang tidak akan pernah kekal sifatnya, dan tidak ada perlindungan, kebahagiaan apalagi keselamatan di dalamnya. Apalagi Tuhan sendiri sudah berjanji untuk memberikan semua itu kepada kita, dan jelas Dia lebih dari sekedar sanggup untuk itu. Jika demikian buat apa lagi kita mengorbankan nyawa kita sia-sia? Alangkah ironis jika kita malah memilih harta duniawi yang tidak kekal lalu mengorbankan nyawa kita ke dalam kebinasaan kekal. Sekali lagi, Tuhan tidak melarang kita untuk mencari nafkah, memiliki pakaian, makanan atau kebutuhan-kebutuhan duniawi lainnya, tapi ingatlah bahwa di atas itu semua ada sesuatu yang lebih penting, yaitu kepemilikan kita atas harta yang tersimpan di surga, lengkap dengan segala kemuliaannya. Berhati-hatilah terhadap jebakan-jebakan yang bisa membuat kita meninggalkan Tuhan dan memilih untuk menghambakan diri menjadi budak harta atau hal-hal duniawi lainnya. Kita tidak akan bisa mengabdi kepada Tuhan dan harta sekaligus. Jadi jika pilihan “harta atau nyawa” itu diberikan saat ini, meski tanpa kehadiran perampok dengan sebilah pisau tajam, pastikanlah bahwa anda sudah memilih jawaban yang tepat.

Seorang hamba tidak bisa mengabdi kepada dua tuan. Apa yang menjadi tuan kita saat ini?

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.