Hari Raya SP Maria Dikanding Tanpa Dosa – Kej 3: 9-15.20; Ef 1:3-6.11-12; Luk 1:26-38

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

HR SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA: Kej 3: 9-15.20; Ef 1:3-6.11-12; Luk 1:26-38

 

“Dalam perkembangan sejarah, Gereja menjadi sadar bahwa Maria ‘dipenuhi dengan rahmat’ oleh Allah (Luk 1:28) sudah ditebus sejak ia dikandung. Dan itu diakui oleh doga ‘Maria dikandung tanpa noda dosa’ , yang diumumkan pada tahun 1854 oleh Paus Pius IX. Bahwa Maria ‘sejak saat pertama ia dikandung, dikaruniai cahaya kekudusan yang istimewa’ (LG 56) hanya terjadi berkat jasa Kristus: ‘Karena pahala Puteranya ia ditebus secara lebih unggul’ (LG 53). Lebih dari pribadi tercipta mana pun Bapa ‘memberkati dia dengan segala berkat RohNya oleh persekutuan dengan Kristus di dalam sorga’ (Ef 1:3). Allah telah memilih dia sebelum dunia dijadikan, supaya ia kudus dan tidak bercacat di hadapanNya” (Kamus Gereja Katolik no 491-492). Kutipan ini kiranya baik menjadi pegangan atau acuan kita dalam rangka mengenangkan pesta SP Maria Dikandung Tanpa Dosa.

 

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”  (Luk 1:38) 

 

Jawaban SP Maria atas panggilan Tuhan melalui malaikat sebagaimana saya kutipkan di atas ini kiranya sungguh merupakan jawaban luar biasa. Secara manusiawi kita dapat membayangkan bagaimana seorang perawan tiba-tiba mengandung, padahal belum bersuami, atau seorang gadis/perawan dengan sungguh dan tulus ikhlas dihamili oleh seorang laki-laki; aneka kritik, cemoohan dan kemarahan pasti akan tertuju kepadanya. Memang sungguh mujizat dan luar biasa bahwa SP Maria dengan rendah hati menerima panggilan atau tugas pengutusan dari Tuhan untuk mengandung karena Roh Kudus dan melahirkan Sang Penyelamat Dunia, yang dinantikan kedatangan atau kelahiranNya oleh banyak orang. SP Maria adalah teladan umat beriman, maka marilah kita renungkan jawaban SP Maria atas panggilan Tuhan tersebut.

 

Hamba Tuhan”  adalah orang yang sungguh taat dan setia pada kehendak Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun dan dimanapun. Sebagai umat beriman kita juga memiliki dimensi kehambaan dalam hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, demikian juga hamba Tuhan, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Jika kita sungguh mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan berarti kita hidup suci tanpa noda dosa: diri kita dan segala sesuatu yang kita miliki, kuasai atau nikmati saat ini kita persembahkan seutuhnya kepada Tuhan. Aneka harta benda atau uang, kekerampilan, kecakapan, kecantikan, ketampanan dst.. menjadi sarana atau wahana untuk berbakti kepada Tuhan; semakin kaya akan harta benda/uang, semakin pandai, semakin berpengalaman, semakin tambah usia dst. berarti semakin suci, semakin berbakti kepada Tuhan melalui sesamanya dimanapun dan kapanpun.

 

Orang beriman yang sungguh menghayati dimensi kehambaan kiranya juga dapat menjadi teladan bagi sesamanya di lingkungan hidupnya. Segala macam jenis sapaan, sentuhan, kritik, tegoran atau perlakuan dari orang lain dihayati sebagai kasih Tuhan, dan ditanggapi dengan penuh kasih dan syukur. Maka sungguh beriman dan menghayati kehambaan berarti hidup penuh syukur dan terima kasih, tidak pernah mengeluh, menggerutu atau marah. “Jadilah padaku menurut perkataanmu”  menjadi pegangan atau pedoman menanggapi kata-kata orang lain, entah itu enak atau tidak enak. Orang lain memberi pujian maka kita bersyukur, orang lain mengritik dan marah maka kita dengan rendah hati mawas diri, orang lain memberi tahu maka kita laksanakan atau jalankan dst… Dengan demikian cara hidup dan cara bertindak orang beriman yang menghayati dimensi kehambaan dimanapun dan kapanpun menjadi warta gembira, menarik, memikat dan mempesona, mendorong orang lain untuk semakin berbakti kepada Tuhan, hidup melayani sesamanya.

 

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.” (Ef 1:3-6)

Pujian syukur Paulus, sebagaimana saya kutipkan di atas ini kiranya baik kita renungkan atau refleksikan bersama. Kutipan di atas ini rasanya senada dengan apa yang ditulis oleh St.Ignatius Loyola di dalam Latihan Rohani (Azas Dasar), yaitu bahwa ‘manusia diciptakan untuk memuji, menghormati dan mengabdi Tuhan…demi keselamatan jiwanya..dan menggunakan segala ciptaan lainnya untuk membantu mengusahakan tujuan tersebut, yaitu keselamatan jiwa’.  Sejak semula kita dipilih dan diharapkan kudus dan tak bercacat di hadapan Tuhan.

 

Ketika kita masih berada di rahim ibu atau bayi kiranya kita sungguh kudus dan tak bercacat di hadapan Tuhan. Kehadiran dan keberadaan kita sebagai bayi mungil sungguh menarik, memikat dan mempesona. Namun sungguh sayang ketika kita menjadi dewasa semuanya itu pudar kena erosi, dengan kata lain kita kurang atau tidak kudus lagi serta penuh dengan cacat dan cela. Tambah usia dan pengalaman berarti bertambah pula dosa dan kekurangan maupun kelemahan. Meskipun demikian kita tetap dikasihi oleh Tuhan, maka baiklah kami ingatkan bahwa semakin tambah usia dan pengalaman hendaknya berusaha semakin rendah hati, karena juga semakin menerima lebih banyak kasih pengampunan atau kemurahan hati Tuhan.

 

Sebagai yang terpilih dan dikasihi memang tak akan lepas dari aneka macam tantangan atau masalah serta hambatan, sebagaimana telah dilihat atau diramalkan oleh penulis Kitab Kejadian, yaitu “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." (Kej 3:15). Ular adalah lambing kelicikan dan perempuan lambang kasih atau kerahiman (ingat perempuan memiliki rahim dan didalam rahim tumbuh berkembang buah kasih). Kelicikan berlawanan dengan kasih atau kerahiman itulah yang terjadi alam kehidupan bersama kita masa kini, atau kelicikan berlawanan dengan ketulusan atau kesucian hati. Memang licik tetapi tidak tulus atau tidak suci pasti akan merusak dan menghancurkan, sementara tulus atau suci tetapi kurang licik mungkin kurang berbuah, maka hemat saya untuk masa kini kelicikan dan ketulusan atau kesucian hati perlu disatukan atau diintegrasikan, sebagai penghayatan sabda Yesus “Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Mat 10:16). Semoga dengan mengenangkan pesta SP Maria Dikandung Tanpa Dosa hari ini kita semakin menjadi cerdas secara spiritual.

 

“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!” (Mzm 98:1-4)

 

Jakarta, 8 Desember 2010

   

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.