Harga Sebuah Nyawa

Ayat bacaan: Matius 16:26
====================
“..Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”

harga sebuah nyawa

Berapakah harga sebuah nyawa? Seratus juta? Seratus miliar? Tentu sulit bagi kita untuk menyebutkan sembarang angka, bahkan angka yang mungkin besar sekalipun. Pada kenyataannya ada banyak orang yang tega menghabisi nyawa ibu/ayah, saudara atau temannya hanya gara-gara jumlah uang yang relatif kecil seperti yang kita baca di koran-koran. Hanya karena beda beberapa ratus rupiah orang bisa membunuh. Atau orang yang akhirnya mengakhiri hidupnya hanya karena tidak mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Saya pernah membaca sebuah berita seorang anak sekolah memilih untuk bunuh diri karena tidak kunjung dibelikan handphone oleh orang tuanya yang hidup pas-pasan. Jadi nilai sebuah nyawa di mata orang kelihatannya berbeda. Tapi seandainya kita menilai nyawa kita berharga sangat tinggi sekalipun, kita tidak akan bisa menentukan sebuah harga pasti yang kita anggap layak untuk menggantikan nyawa kita.

Yesus pernah mempertanyakan pertanyaan serius ini pada suatu kali. “..Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26). Hal ini ditanyakan Kristus mengacu kepada panggilanNya kepada orang percaya, ketika Dia memberitahukan syarat untuk mengikutiNya dan mendapatkan keselamatan. Kita tahu bahwa setiap kita orang percaya yang mau mengikuti Yesus harus siap menyangkal diri dan memikul salib. (ay 24). Segala harta benda kemewahan bisa kita peroleh di dunia ini. Tapi cukupkah itu untuk membayar nyawa kita untuk selamat? Dapatkah kita membayar Tuhan dengan sejumlah harta dengan imbalan untuk memperoleh keselamatan? Tentu tidak. Pemazmur juga pernah mengalami perenungan seperti ini ketika Penulisnya berhadapan dengan orang-orang sesat yang selalu memegahkan diri dengan harta kekayaan dan begitu mengandalkannya dalam hidup mereka. Pemazmur berkata “Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya.” (Mazmur 49:8-9). Harga pembebasan nyawa sesungguhnya sangatlah mahal, sehingga tidak ada harta yang sanggup membayarnya. Tidak heran jika Salomo pun menggambarkan kekayaan tanpa penyertaan Tuhan hanya akan berakhir sia-sia, seperti yang kita lihat dalam renungan kemarin. Yesus sendiri mengajarkan bahwa kita harus mengumpulkan harta di sorga dan bukan di dunia. (Matius 9:20). Semua ini telah mengajarkan kita bahwa berapa pun nilai harta yang kita miliki di dunia ini, meski memiliki seluruh dunia sekalipun, kenyataannya itu belumlah cukup untuk menebus nyawa kita supaya selamat.

Lalu bagaimana? Ketahuilah bahwa sebenarnya Tuhan telah terlebih dahulu menilai diri kita dengan sangat tinggi. Begitu tinggi, hingga Kristus pun diberikan kepada kita agar tidak satupun kita ada yang harus binasa. Penulis Mazmur dalam Mazmur 49 menjabarkan panjang lebar mengenai kebodohan dan kesia-siaan orang yang mengandalkan harta bendanya lebih dari keselamatan jiwa mereka. Tapi perhatikanlah ayat 16. Tuhan berjanji seperti ini. “Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku.” (Mazmur 49:16). Dan itu digenapi dengan kehadiran Kristus turun ke dunia Bukan dengan harta kekayaan kita, tapi melalui kasih karunia. Yesus hadir di dunia menebus lunas semua dosa-dosa dan kesesatan kita, mendamaikan hubungan antara manusia dengan Tuhan, dan semua itu terjadi sebagai kasih karunia atas besarnya nilai kita di mata Tuhan. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:13). Yes, no greater love than that. Dan Yesus telah memberi bukti langsung dengan memberikan nyawaNya kepada kita semua.

Lewat Paulus firman Tuhan berkata “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” (Roma 5:10). Jika yang masih dalam keadaan bermusuhan saja Allah begitu peduli dan mau mengambil inisiatif untuk berdamai lewat kematian AnakNya, apalagi kita saat ini yang hidup dalam masa ketika hubungan yang telah dipulihkan. Semua itu karena kasih Allah begitu besar kepada kita, begitu besar sehingga Dia mengaruniakan AnakNya yang tunggal untuk turun ke dunia, mengambil rupa seorang hamba dan menuntaskan tugas sepenuhnya lewat penderitaan hingga kematian dengan cara yang mengerikan. Dan ketika Yesus berkata: “Sudah Selesai”, di saat itu pula kita menerima perdamaian dan penebusan secara total atas kasih karunia, sebuah pemberian yang begitu luar biasa besarnya.

Tidak ada satupun nilai secara materi secara terukur yang mampu dipakai untuk menebus sebuah nyawa. Tapi kita sudah mendapat penebusan itu. Jika penebusan itu hari ini hadir kepada kita, semua itu adalah lewat karya Kristus yang menggenapi kehendak Allah atas dasar kasih yang begitu luar biasa besarnya kepada kita, manusia yang tidak layak ini. “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1 Petrus 1:18-19). Sebesar itulah nyawa kita bernilai di mata Tuhan!

Sudahkah kita menghargai nyawa kita sendiri dengan layak? Atau kita masih begitu mudah terjebak pada hal-hal yang sebenarnya sangat berpotensi untuk menghancurkannya, bukan saja di dunia yang fana ini tapi juga menuju ke dalam maut yang penuh siksaan kekal? “Seperti domba mereka meluncur ke dalam dunia orang mati, digembalakan oleh maut; mereka turun langsung ke kubur, perawakan mereka hancur, dunia orang mati menjadi tempat kediaman mereka.” (Mazmur 49:15). Jangan sampai hal seperti ini menjadi bagian kita, karena Tuhan sudah mengulurkan tangan dan berinisiatif secara luar biasa untuk memberikan kita jaminan keselamatan, untuk bersama-sama denganNya pada suatu saat nanti di KerajaanNya. Semua itu tergantung dari keputusan kita, apakah kita mau menyambut uluran tanganNya atau tidak, karena sesungguhnya kita begitu berharga dan bernilai sangat tinggi di mata Tuhan. Hari ini seandainya anda bertanya, berapakah nilai anda, pandanglah palungan Kristus di kandang domba dan salib yang terpancang di Golgota. Seperti itulah anda berharga di mata Tuhan.

Bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.