Ayat bacaan: 2 Timotius 2:3-4
=======================
“Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.”

memuaskan telinga

“Tidak mudah untuk berkotbah”, kata seorang pendeta pada suatu ketika. Ia bercerita bahwa yang paling enak adalah kotbah berkat. Kalau kotbah berkat, jemaat senang. katanya. Tetapi sebaliknya jika kotbahnya menyentuh area dosa, tidak jarang ia melihat orang menjadi bersungut-sungut atau bahkan tersinggung. Memang Tuhan menjanjikan banyak berkat, yang kalau dihitung bisa berjumlah ribuan di dalam Alkitab. Tetapi disisi lain, berbagai ayat pun menunjukkan apa yang akan terjadi kelak jika kita melakukan pelanggaran-pelanggaran dalam hidup kita. Orang memang cenderung lebih suka mendengar apa yang menyenangkan untuk didengar dan berusaha mengelak dari teguran-teguran yang sering dianggap menghalangi kesenangannya. Mereka mengira bahwa mengikuti Tuhan sepenuhnya sama dengan mengucapkan selamat tinggal kepada hal-hal yang menyenangkan dalam hidup. Bagi saya, mengikuti Tuhan sama sekali tidak menghilangkan rasa bahagia, justru sebaliknya, saya berani berkata bahwa saya belum pernah sebahagia ini sebelumnya. Memang ada hal-hal yang secara dunia terasa nikmat namun dibaliknya mengandung begitu banyak pelanggaran, tetapi tanpa itu pun hidup ini bisa terasa sangat indah, bahkan lebih indah dari yang bisa kita pikirkan. Persinggungan dengan dunia membuat kita bersentuhan dengan berbagai godaan yang menjanjikan begitu banyak kenikmatan, dan ketika kita sudah terjebak di dalamnya maka beratlah bagi kita untuk lepas darinya. Dan kotbah-kotbah yang “keras” yang mengingatkan bahaya jebakan dosa pun menjadi sesuatu yang tidak populer bagi banyak jemaat saat ini. Ironisnya ada banyak gereja yang berkompromi dengan hal ini. Mereka memilih jalan aman untuk menyampaikan apa yang disukai jemaat untuk didengar. Bukan lagi sebagai penyampai suara Tuhan, tetapi gereja-gereja ini sudah beralih fungsi sebagai sebuah panggung hiburan saja.

Fenomena ini sesungguhnya sedang melanda dunia. Ada banyak gereja besar di luar sana yang justru melakukan hal ini. Mereka hanya fokus kepada berkat dan kekayaan dalam kotbah-kotbahnya tanpa menyinggung untuk apa sebenarnya Tuhan memberi janji berkat seperti itu. Ironisnya di antara pendeta ternama dan populer pun ada yang memilih jalan seperti ini. Bisa dibayangkan bagaimana para jemaat yang masih belum mengerti betul akan kandungan Firman Tuhan bisa terjebak pada harapan akan kekayaan secara materi untuk diri sendiri. Seperti apa yang dikatakan Pendeta di atas, fakta saat ini pun menunjukkan hal yang sama. Kita bisa melihat pula bahwa gereja-gereja seperti ini ternyata bertumbuh pesat di luar sana. Orang cenderung memilih apa yang suka mereka dengar ketimbang mendalami betul apa bunyi Firman Tuhan sepenuhnya. Dan itu sebenarnya sudah dinubuatkan sejak dahulu.

Ayat bacaan hari ini menyatakan nubuat akan hal itu secara jelas.“Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” (2 Timotius 4:3-4). Inilah yang terjadi saat ini. Orang tidak mau lagi mendengar kebenaran dan hanya mau mendengar apa yang menyenangkan bagi telinga mereka, sesuatu yang membuai bagai mendengarkan dongeng. Karena itulah Paulus mengingatkan agar kita selalu siap sedia kapan saja untuk menyatakan apa yang salah dengan tegas, tetapi harus dalam kesabaran dan bukan dengan paksaan apalagi kekerasan. (ay 2). Sebab kalau bukan kita, siapa lagi?

Apakah hal ini mudah untuk dilakukan? Tentu saja tidak. Paulus pun tahu itu. Ia berkata “Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.” (2 Timotius 2:9). Tetapi dia tahu bahwa orang percaya seharusnya siap menanggung semua itu dengan penuh kesabaran agar orang lain pun berkesempatan untuk diselamatkan. “Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.” (ay 10). Pada kesempatan lain Paulus pun bersaksi: “Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa.” (2 Korintus 6:4-5). Semua itu rela ia lakukan demi menyelamatkan lebih banyak lagi, dan itulah sesungguhnya jati diri dari pelayan Allah yang sejati.

Ada saat dimana orang-orang yang baru bertobat masih memerlukan pengajaran yang lembut, tetapi ada pula waktu dimana mereka harus disapih dari itu dan beralih kepada makanan yang keras. Penulis Ibrani mengatakan hal ini secara tegas. “Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” (Ibrani 5:13-14). Pancaindera, termasuk telinga di dalamnya, haruslah siap mendengarkan Firman-Firman Tuhan yang bunyinya keras sekalipun agar kita benar-benar tahu dan bisa membedakan mana yang baik dan yang jahat. Bayi tidaklah bisa terus-terusan dikasih susu seumur hidupnya. Ada saat dimana bayi mulai bertumbuh besar dan disaat itu susu tidak lagi cukup untuk mendukung pertumbuhannya secara baik. Cukupkah susu saja bagi orang dewasa? Tentu tidak. Makanan keras akan menjadi makanan yang tepat bagi orang dewasa. Begitu juga pertumbuhan kedewasaan secara rohani tidak akan bisa tercukupi hanya dengan yang lembut-lembut saja. Ada kalanya kita harus diingatkan oleh teguran keras agar kita bisa tetap berada di jalur yang benar, atau kalau sudah terlanjur melenceng bisa kembali ke jalur tersebut.

Firman Tuhan berkata: “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (1 Yohanes 2:17). Ini merupakan pesan yang penting untuk kita perhatikan, terlebih pada jaman di mana orang lebih tertarik untuk hanya mendengarkan segala sesuatu yang nyaman bagi telinganya dan merasa risih bahkan tersinggung ketika ada Firman Tuhan yang terasa keras dalam teguran. Hanya orang yang melakukan kehendak Tuhanlah yang akan hidup selama-lamanya. Jika memang masih ada yang tidak benar dalam perbuatan kita, terimalah dengan penuh syukur segala teguran-teguran termasuk yang keras sekalipun. Sebab di dalamnya sesungguhnya ada tujuan yang baik untuk menghindarkan kita dari kematian selama-lamanya. Kita perlu menguji segala pengajaran yang kita terima, seperti kata Alkitab: “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik“. (1 Tesalonika 5:21). Kita tidak akan bisa menguji dan bakal menelan bulat-bulat seluruhnya termasuk yang salah apabila kita tidak memahami betul-betul isi hati Tuhan. Karena itulah kita perlu terus membaca dan merenungkan Firman Tuhan yang sudah tertulis lengkap di dalam Alkitab agar kita tidak gampang goyah seperti ranting yang ditiup angin kesana kemari oleh berbagai pengajaran yang salah. Meski Tuhan menjanjikan berkat berkelimpahan, kita harus memperhatikan benar segala bentuk pengajaran yang mengarah kepada hal-hal seperti itu karena belum tentu semua itu benar-benar sesuai dengan Firman Tuhan. Bagi yang melayani, tegaslah dalam mengingatkan, tetapi bersikaplah lemah lembut dan tidak kasar. Sampaikan dengan benar apa kata Firman Tuhan, meski belum tentu orang senang mendengarnya. Mungkin kita perlu menderita seperti halnya Paulus, tetapi jika itu membawa keselamatan bagi banyak orang, mengapa tidak?

Jangan hanya memilih yang enak didengar saja, tetapi sampaikanlah Firman Tuhan apa adanya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.