“Hantu” di Pasturan Gereja Santo Antonius Purbayan, Solo (4)

PENGALAMAN  keempat pernah bertemu dengan “hantu”   terjadi waktu saya  menjalani TOP (Tahun Orientasi Pastoral) di Gereja Purbayan, Solo, tahun 1973/1974.

Saya menempati sebuah kamar di rumah induk (pasturan – bangunan Belanda) berukuran kira-kira 4 x 4 meter, berdampingan dengan kamar alm. Romo Wonomojo Groenewoud SJ di kamar sebelah depan, sementara  kamar Romo Sugiri van den Heuvel SJ  ada di  kamar sebelah belakang. Posisi kamar  saya di tengah.

Di samping Selatan rumah induk, dengan dibatasi oleh sebuah taman, ada bangunan tambahan sejajar dengan rumah induk dengan 3 (tiga) kamar yang ditempati oleh Romo  Stan von Wicheln SJ (?), Romo  Artur Waibel SJ, dan alm. mantan Romo Wukirsari, sedangkan di ujung sebelah Barat bangunan tambahan, terpisah oleh sebuah gang terletak kamar Romo Haripranoto SJ sebagai Pastur Kepala Paroki Purbayan.

Di samping Selatan gereja ada bangunan kuno yang pernah dimanfaatkan untuk menempatkan TaPol (PKI) wanita, dan setelah gedung itu diserahkan kembali ke paroki kemudian dijadikan Gedung Paroki. Gedungnya cukup luas dan kokoh hanya kelihatan suram dan tidak terpelihara. Lantai bawah kosong, sedangkan satu ruangan di lantai atas dipergunakan oleh almarhum Romo van Delft SJ untuk Kantor Yayasan Kanisius.

Banyak ceritera dari umat yang mengatakan bahwa pada malam dan jam-jam tertentu sering terdengar teriakan orang-orang (tahanan) yang disiksa, padahal kejadian itu (kalau ada) terjadinya beberapa tahun sebelumnya.

Kadang-kadang pada waktu malem Jumat Kliwon saya bangun tengah malam untuk mendengarkan kalau-kalau ada teriakan seperti yang dikatakan umat, namun sampai akhir masa tugas TOP tidak pernah mendengar suara itu.

Kejadian yang saya alami justru tidak seperti yang diinformasikan oleh umat.

Kira-kira sekitar jam 10 atau 11 malam saya siap-siap untuk tidur, naik ke atas tempat tidur dan bersila untuk berdoa malam. Keadaan hening, yang terdengar hanya suara-suara lembut binatang malam. Kemudian..di sela-sela suara lembut binatang malam itu ada suara lain yang berbeda..ritmis..dalam..seperti suara orang bernafas secara teratur, mula-mula lembut…lama-lama menjadi lebih keras seperti nafas seseorang yang sedang tidur, tetapi bukan ngorok, kedengarannya seperti berasal dari pojok sebelah Selatan kamar.

Saya berpikir iki mesthi ambegane wong Londo, karena kalau nafas orang Jawa biasanya tidak se-keras dan se-dalam yang ini.

Saya turun dari tempat tidur mencari dari mana asal suara itu, saya buka jendela yang mengarah ke bangunan tambahan tetapi tidak ada suara dari luar yang masuk ke kamar. Saya keluar kamar untuk mendengarkan, jangan-jangan suara itu berasal dari suara dua romo yang bersebelahan dengan kamar saya.

Ternyata sepi-sepi saja.

Jadi saya kembali ke kamar, naik ke tempat tidur dan berkata dalam hati, tolong temenin saya tetapi jangan ganggu ya, dan sayapun tidur dengan lelap.

Kejadian ini mirip dengan kejadian yang pertama yaitu bahwa roh halus yang datang cukup sopan, tidak menakutkan dan tidak mengganggu secara fisik, sedangkan yang membedakan adalah bahwa dari awal saya sadar ada sesuatu yang berbeda dari malam-malam biasanya.

Di kemudian hari saya baru tahu bahwa dalam kasus semacam ini mungkin ada roh-halus/jiwa yang ingin didoakan agar bisa memperoleh kedamaian abadi di rumah Bapa. (Mak.12: 42 & 45b.)

Secara resmi Gereja memang mengajak kita agar tanpa henti  selalu mendoakan arwah-arwah di api penyucian (purgatory) setidaknya  setahun sekali,  yaitu setiap tanggal 2 November. Adakah arwah yang masih berkeliaran di dunia tetapi belum berada di api penyucian namun membutuhkan doa kita? Belum ada jawaban resmi dari Gereja tentang ini. (Selesai)

Photo credit: Ist (Gema Ekklesia Blogspot; Holiskasaya Blogspot)

Artikel terkait:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.