Hampir Sajak Sebelum Malam

Sebelum fajar, aku pernah ingin jadi gorden cerah warna kesukaanmu.
Menggantung di cendela kamar tidurmu. Setiap pagi, ada orang yang mencintaimu
perlahan-lahan membuka tubuh belahku, mempersilahkan matahari pagi mengecup
hangat ujung jari kakimu, hingga bulu mata engkau yang masih rebahan, supaya sehat.

Sebelum siang, aku pernah ingin jadi sepasang alat bantu dengar yang suka menempel
di sepasang telinga tua yang tapi masih manja: ingin mendengar engkau selamanya.
Tugasku sederhana: memperjelas getar-getar puisi lirih, kicauan sedih, lagu senja
atau sekedar kata iya.

Sebelum senja, aku pernah ingin jadi kotak musik yang kauputar di sepanjang.
Berbunyi-bunyi menyusuri lorong-lorong tersepi, relung-relung tersembunyi
tempat luka-luka masa lalu betah tinggal di sana. Di sanalah aku bernyanyi
: tidurlah sayang, tidurlah, sembuhlah sayang, sembuhlah
sayang berulang ulang.

Dan sebelum malam, kita tidak tahu malam seperti apa
tapi setiap malam punya langit. Aku suka mencari
engkau adakah di sana.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.