Hampir Sajak: 10 Gelinding Awan, 10 Butir Hujan, dan 10 Potong Bulan

10 Gelinding Awan
 
1
 
Angin tidak tidur. Apakah ia yang membangunkan matahari:
“Pagi, Bagaskara!, tiba waktu kita tuk memper-awankan air.”
 
2
 
“Awan itu apa?” tanya awan.
“Air yang pernah mengalir ke atas!” jawab siapa.
 
3
 
“Awan terbuat dari apa?” tanya air.
Dari air mata para pendoa serta air ludah para pendosa.
Langit kita agak luas, kosong.
Tak berkehendak menolak, tak ingin mengumpulkan apa-apa.
 
4“Lantas?” sela burung.
Andai  terbang merupakan cita-cita setetes air
maka segumpal awan merupakan sekelompok air sukses
yang pada waktunya akan kembali ke tanah tumpah airnya.
 
5
 
Ia tersenyum kepada awan gelap siang tadi
yang nyangking sebuah hari ulang tahunmu, yayi!
 
6
 
Siang itu, awan bergerak
kesana-kemari tanpa khawatir jika nanti
terpilih sebagai yang dijatuhkan paling akhir.
 
7
 
Awan yang pipinya kemerah-merahan itu
duduk tenang di langit sore. Tak ada yang ngaku:
“eh, dulu aku soda gembira di gelas sedihmu.”
 
8
 
Ia ingin berjalan pelan di lurung yang nanti becek itu
ketika awan beku di sudut mata soremu sedang mencair.
 
9
 
Ia memandangi awan sore di langit kenang menunggu suara
“hei, lindungi keningmu dari hujan dan payung kuning kita.
 
10
 
Pada suatu nanti, air yang sedang sibuk bekerja di tubuhku ini boleh keluar,
terbang jadi awan gelap yang bayang-bayangnya bertamasya di pekaranganmu.
 
 
 
 
 
 
 
10 Butir Hujan
 
 
1
 
“Hujan terdiri dari lima huruf saja: r, i, n, d, dan u.”
Pelangiku,seorang engkau tak mungkin nge-twit kalimat seburuk itu,
 
 
2
 
Jika langit dan bumi adalah sepasang pengasih,
dan awan merupakan surat dari bumi kepada langit,
serta hujan dan gerimis itu balasan dari langit kepada bumi
 
maka pelangi adalah puisi
tentang langit dan bumi
perihal jarak yang menciptakan ruang rindu
ditulis oleh matahari pada gerimis tipis
 
 
3
 
Ia pandai menyesuaikan diri dengan segala perlakuan.
Jika didiamkan, ia akan menjadi air yang berwujud cair;
jika dipanaskan, ia akan menjadi air yang berwujud gas;
jika didinginkan, ia akan menjadi air yang berwujud padat.
Itulah musabab terjadinya terjadi hujan.
 
 
4
 
Tiap tetes air mempunyai tempat dan tanggal lahir.
Tapi hujan turun tanpa sebelumnya perlu mendata
tempat dan tanggal lahir setetes air, misalnya begini:
matamu, tanggal ini / bulan itu / di tahun yang berlalu.
 
 
5
 
Hujan merupakan cara praktis untuk membersihkan bumi
dari debu-debu, meski nanti debu lagi debu lagi.
Pertemuan merupakan cara praktis untuk membersihkan hati
dari rindu-rindu, meskipun nanti rindu lagi rindu lagi.
 
 
6
 
Menguap adalah cara setetes air pergi ke langit.
Tetapi waktu tak membiarkan segalanya kembali
ketempat semula, dalam keadaan yang sama.
Setetes yang dari mataku dijatuhkan ke matamu.
 
 
7
 
Sejak tahun itu, setelah Sapardi menulis Hujan Bulan Juni,
titik-titik air yang dijatah jatuh pada bulan Juni tidak lantas
besar-besar kepalanya.
 
 
8
 
Aku berjalan pelan-pelan ke rumahmu sambil memikirkan hujan.
Di tengah jalan, pikiranku membilang: hujan cuma terdiri dari…
Hati membisiki: “eh, sama seperti rindu “. “Hush!” ketus hujan.
Ia cuma bilang “hush” dan aku harus menepi untuk berteduh.
 
“Dasar hujan” umpatku.
 
 
9
 
Sore itu, hujan menjatuhkan diri di halaman rumahmu,
menyegarkan rumput-rumput yang hampir layu kepanasan
mendengar umpatanmu siang tadi kepada hujan.
 
 
10
 
Sudah lebih dari sepuluh kali ia menulis kata hujan
tetapi halaman puisinya tidak basah-basah juga.
 
 
 
 
 
 
10 Potong Bulan
 
 
1
 
Aku benci bulan
waktu bundar bulan aku terkenang
engkau kutulis sampai hampir benci.
Menurutmu, apa lawan kata benci?
 
2
 
Konon ikan-ikan cemburu pada bulan
sebab bulan lebih sering disapa penyair.
Bulan kian bulat; ikan-ikan kian cemberut
menyelinap di terumbu gelap, ke dasar laut
 
 
3
 
Maka setiap kali purnama, nelayan enggan melaut
Mereka cuma membayangkan isrtri-istri jadi kapal
kasur jadi lautnya: mari kita main nelayan-nelayanan
Sambil terpejam mereka suka mimpi macam-macam.
 
 
4
Seorang piano bercerita tentang seorang bulan
yang selalu terlihat separo padahal ia tahu
bulannya tidak pernah tidak bulat penuh.
 
5
Separo bulan tepat di atas kepalaku itu tak juga berkabar
apakah yang separo bersinar pula, tepat di atas kepalamu .
 
 
6
 
bulan sapasi di atas kepalamu bulan sipit di saku sajakku
yang sepotong engkau simpan yang sepotong kubawa-bawa.
 
 
7
 
bulan tak pernah iri kepada matahari yang berbakat
melukis, pada gerimis kelabu, warna-warni bianglala.
 
 
8
 
Sinar bulan menerobos kerenggangan awan-awan,
sela-sela dedaunan basah dan kisi-kisi jendela
dingin menyusup ke kamar itu menerpa wajah sendu.
remang-remang terhalang kelambu dilihatnya cahyamu
berkilauan, memantul dari genangan-genangan.
 
 
9
 
Pada malam kemarau dingin yang berbulan mati
kutulis puisi gerimis yang berpurnama.
 
10
 
Tapi bulan tak pernah jadi lebih indah dan belum pernah jadi lebih buruk hanya karena sebuah puisi indah maupun narasi buruk tentangnya. Bulan itu dari dulu ya cuma begitu-begitu saja: tidak memiliki cahayanya sendiri, cuma memantulkan cahaya matahari sampai ke mata kita. Demikian juga engkau, demikian juga saya.
 
 
 
 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.