Gua Maria Lawangsih: Ini Gua Lawa Beneran (1)

KALAU ditanya apa keistimewaan Gua Maria Lawangsih dibanding tempat-tempat ziarah lainnya? Jawaban saya serba tegas dan singkat: Ya, Gua Maria Lawangsih ini benar-benar sebuah gua asli. Tidak ada rekayasa bangunan fisik, melainkan merupakan sebuah gua alami yang terbangun dari sebuah bongkahan batu ukuran raksasa dimana ada semacam ‘terowongan’ menjorok ke dalam melalui lobang mulut gua.

Mulut gua itu aslinya hanya berukuran mungil.Hanya cukup untuk sekawanan binatang malam bernama kelelawar alias lawa dalam bahasa Jawa untuk bisa keluar-masuk sarangnya. Jumlahnya ribuan dan binatang nokturnal ini akan keluar-masuk mulut gua selepas petang hari menjelang senja tiba. Sebuah pemandangan alami yang tentu saja eksotik menyaksikan kerumunan lawa keluar-masuk sebuah gua bermulut mungil.

Tapi itu dulu.Sekarang, mulut gua itu sudah dibobok dan bongkahan batu sudah diurai alias dipecah-pecahkan agar kemudian ada akses masuk cukup lebar bagi orang untuk bisa menyusuri lorong panjang menuju ujung gua dimana dulu ribuan kelelawar suka bergantung di sarang alaminya ini.

Tempat semedi

Lorong panjang masuk ke perut gua alami bekas sarang kelelawar ini kini sudah bermetamorfose menjadi sebuah tempat devosional untuk berdoa, bersemedi, dan berkontemplasi. Sudah barang tentu, lokasinya sangat hening karena dinding-dindingnya terbuat dari bongkahan batu murni dan alasnya pun juga terbuat dari batu murni.

Di ujung lorong dalam gua inilah berdiri patung Yesus dimana di depannya bertengger kandelar gede untuk kegiatan devosional: sembayang bersemedi ditemani temaram nyala lilin. Di jalan menyusuri lorong gua sepanjang kurang lebih sepanjang 10 meter inilah, umat katolik bisa berdiam diri menikmati keheningan alam sembari melambungkan doa kepada Tuhan Yesus.

Tempat semedi di Gua Lawangsih ini benar-benar gua alami. Tidak ada rekayasa konstruksi bangunan, selain tindakan merapikan sanap-sini. Yang terpampang di depan kita justru sebuah bongkahan batu raksasa yang telah membentuk formasi gua dengan lorong menjorok ke dalam. Mulut lorong gua yang awalnya hanya mungil dan hanya cukup untuk kelelawar keluar-masuk, namun kini sudah dibuat lebih besar agar manusia dewasa bisa melewati akses utama ini.

“Tuk” Gua Maria Lawangsih

Persis di mulut gua yang kini menjadi tempat semedi ini berdiri cantik Bunda Maria Lawangsih. Di sinilah para peziarah bisa bersemedi melambungkan doa-doa kepada Bunda Maria ditemani gemericiknya air yang berasal dari tuk (sumber air) alami.

Saking melimpahnya tuk alami ini, pasokan air bersih untuk keperluan kamar mandi/WC yang terletak di bawah gua mampu terpenuhi secara berlimpah. Bahkan, penduduk desa sekitar Gua Maria Lawangsih tiada henti selalu memanfaatkan kemurahan alami tuk air di Gua Maria Lawangsih sebagai sumber kehidupan mereka sehari-hari. Terutama ketika sumur-sumur mereka mulai kering dan tidak ada pilihan lain, kecuali bertandang mencari air bening limpahan tiada henti sumber air yang terletak persis di belakang patung Bunda Maria Lawangsih. (Bersambung)

Photo credit: Mathias Hariyadi

Artikel terkait:  Gua Maria Lawangsih: Keheningan Berhias Nyanyian Alam Pegunungan Menoreh (2)


 

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.