GOTAUS, Kisah Sejarah Selayang Pandang (4)

EMBRIO Gerakan Orang Tua Asuh Untuk Seminari (GOTAUS) bermula dari sekelompok karyawan muda katolik i Bank Indonesia (BI) pada pertengahan decade tahun 1980-an yang setiap tanggal gajian berkumpul menyisihkan ‘uang receh’ untuk disatukan dan dikirimkan ke Seminari Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Sistem gajian waktu itu masih dengan cara menerima amplop berisi uang tunai dengan segala pecahannya.

Sekelompok karyawan muda itu, setelah menghitung hasil saweran, lalu gantian secara relawan pergi ke kantor pos terdekat untuk mengirimkan ke alamat Seminari Menengah Mertoyudan, melalui moda pengiriman yang saat ini praktis sudah tidak dikenal, yaitu pos wesel. Karena kiriman uang yang sebenarnya sangat kecil jumlahnya ini, membuat pimpinan Seminari Menengah Mertoyudan dapat saling kontak per surat (telepon masih langka dan mahal) dengan beberapa karyawan muda tersebut.

Kunjungan ke Seminari Mertoyudan
Pada tahun 1996, Rektor Seminari Menengah Petrus Kanisius Mertoyudan waktu itu –Romo Maryana SJ– mengirim surat kepada beberapa pribadi di Jakarta, termasuk para karyawan muda Bank Indonesia di atas. Romo Maryana SJ memberitahukan keadaan bangunan Seminari, khususnya atapnya yang hampir roboh. Sementara dari pihak Keuskupan Agung Semarang memberi sinnal agar pihak seminari mencari dana sendiri untuk melakukan perbaikan.
Hal ini mengharuskan Rektor Seminari memeras otak untuk mendapatkan sumber dana yang dibutuhkan.

Mungkin (bukan) suatu kebetulan yang sangat menggembirakan, saat sebuah tim kecil para pimpinan Bank Indonesia dari Jakarta dalam perjalanan dinas ke Yogyakarta menyempatkan mampir berkunjung ke Seminari Mertoyudan. Dipandu oleh Romo Rektor Seminari Maryana SJ, tim kecil ini menyusuri lorong-lorong, melihat aktivitas di seminari, dan akhirnya singgah di kapel.

Suatu gambaran kesimpulan melekat, bahwa seluruh sarana dan prasarana seminari membutuhkan perbaikan secara struktural.

Kelompok Semangat
Sesampainya di Jakarta, tim kecil ini menghubungi rekan-rekan seiman, dan ternyata gayung pun bersambut. Permasalahan yang dihadapi Seminari Menengah Mertoyudan ini singkatnya dapat dibantu secara penuh dan terselesaikan dalam waktu relatif sangat pendek melalui gotong royong yang mengagumkan.

Dalam perkembangannya, muncul pemikiran bahwa kalau Seminari di Jawa saja, yang menyandang nama besar dan dikenal luas, kondisinya begitu memprihatinkan, lalu bagaimana dengan nasib seminari-seminari yang lain, termasuk di luar pulau Jawa?
Maka realitas tersebut memacu kelompok kecil peduliwan ini untuk terus bergerak tetap bersemangat mengetuk hati rekan-rekan dan sahabat dari mulut ke mulut, menyampaikan berita keprihatinan ini.

Kelompok ini menamakan diri Kelompok Semangat.

Menjelang dan sekitar krisis tahun 1997, situasi politik nasional sangat tidak menguntungkan bagi umat kristiani, sehingga gerakan yang murni kepedulian awam ini mulai dituding yang aneh-aneh. Beberapa peduliwan malah ditempa issue kesana kemari mencari keuntungan pribadi atas nama Gereja. Tuduhan dan gosip keliru tersebut sempat terangkat ke sebuah koran, yang menyebabkan gerakan ini membekukan kegiatannya.

Ketika krisis perbankan nasional menerpa, tiupan angin kencang bersamaan dengan ambruknya ekonomi nasional, banyak lembaga keuangan tutup, diikuti perusahaan-perusahaan barang dan jasa. Banyak peduliwan sekolah seminari lalu kehilangan jabatan dan atau pekerjaan. Di tengah kegetiran yang mendalam itu tetap saja ada yang membanggakan, ternyata sedikit tabungan yang pernah terkumpul sampai menjelang krisis ekonomi, tetap terjaga dan terpelihara dengan baik dan rapi.

Dari tabungan inilah Kelompok Semangat meneruskan perhatiannya ke seminari-seminari.

Kebutuhan gizi seminaris
Dari ide awal para peduliwan Kelompok Semangat yaitu perhatian terhadap perbaikan sarana dan prasarana seminari menengah, ternyata di tengah krisis yang memporak-porandakan sendi-sendi ekonomi, permasalahan sekolah seminari yang terungkap semakin dalam. Yang mendesak diperlukan oleh seminari menengah adalah perbaikan kebutuhan sehari-hari para seminaris.

Sebagai gambaran, dari 33 Seminari Menengah di Indonesia hampir 90% mengalami kekurangan dan rendahnya mutu fasilitas belajar, pembinaan rohani dan kepribadian. Bahkan beberapa seminari terpaksa merelakan tenaga pengajar pindah ke sekolah lain karena tidak mampu membayar gaji yang layak. Belum lagi mengenai kualitas asupan gizi yang diperoleh, mengingat keterbatasan dalam menyediakan menu harian yang cukup (dalam jumlah maupun kualitas).

Hal ini khususnya mencuat di luar Pulau Jawa. Ketika hal ini dibicarakan dalam pertemuan-pertemuan muncullah pemikiran agar tujuan awal oleh para peduliwan tetap tidak berubah maka semangat ini perlu dilipatgandakan atau ditularkan kepada umat lain secara lebih luas.

Dari Semangat ke GOTAUS
Atas dasar pemikiran tersebut, maka lahirlah GOTAUS (Gerakan Orang Tua Asuh Untuk Seminari) pada 10 Mei 2001. Idenya adalah keinginan kuat untuk berpartisipasi memecahkan permasalah di atas. Inti dari pemikiran awalnya adalah agar permasalahan kebutuhan sehari-hari yang dihadapi sekolah seminari dapat menjadi bagian dari kepedulian awam yang lebih luas, sehingga meski secara individual umat berkontribusi kecil, namun dengan kebersamaan, kontribusi bersama itu tentu menjadi berarti.

Dalam perjalanannya, GOTAUS berkembang menjadi mitra resmi Komisi Seminari KWI (Konferensi Wali Gereja Indonesia). Hal ini kiranya menjadi simbol terbukanya ‘pintu’ hati mereka sekalian yang bertanggungjawab atas pembinaan panggilan, baik kalangan hirarki maupun dikalangan awam.

Adalah sebuah impian dan harapan besar bahwa ‘pintu’ yang terbuka ini bukan hanya di kalangan KWI dan para pengurus GOTAUS di Jakarta saja, tetapi sangat diharapkan dapat menular dan mengetuk ‘pintu-pintu hati’ umat di setiap keuskupan di seluruh Indonesia, agar lahirlah juga Gerakan Peduli Seminari di setiap ‘jantung’ Keuskupan.

Ketika tulisan ini diedit kembali pada pertengahan tahun 2014, GOTAUS telah secara rutin mengirim bantuan tahunan ke seluruh Seminari Menengah di Indonesia sebesar sekitar Rp 3 milyar per tahun.

Yang lebih menggembirakan tentu saja kenyataan bahwa gerakan peduli seminari yang juga menggunakan nama GOTAUS telah berdiri di Surabaya, Pangkal Pinang, Batam, dan bahkan di Melbourne, Australia.

Para penasihat mengharapkan agar gerakan ini menjadi symbol gotong-royong umat katolik di Indonesia, sebagai perwujudan pesan Pahlawan Nasional Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegijapranata SJ: 100 % katolik dan 100 % Indonesia.

Jakarta, Juni 2014

Photo credit:

  • HY Susmanto (Yayasan Bhumiksara/Royani Lim)
  • Para Uskup seluruh Indonesia dan beberapa aktivis GOTAUS (Dok. Diana Lawanto)

Tautan: 

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.