Gober Bebek

Ayat bacaan: Matius 6:19-20
======================
“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.”

gober bebek

Salah satu tokoh kartun yang menarik buat saya pada waktu kecil adalah Paman Gober, atau dalam bahasa Inggrisnya oleh Walt Disney dinamakan Uncle Scrooge. Nama Scrooge sepertinya diambil dari tokoh ciptaan Charles Dickens yang pelitnya minta ampun dalam bukunya A Christmas Carol. Hampir pada setiap kesempatan Paman Gober akan berurusan dengan kecintaannya yang luar biasa kepada gudang uangnya. Dia akan mempertahankannya dengan segala cara meski ancaman pencurian ia hadapi dari musuh-musuhnya. Di sisi lain, harta yang dimilikinya ternyata tidaklah membuat Paman Gober menjadi sosok murah hati. Justru sebaliknya, seperti nama Scrooge karya Charles Dickens, Paman Gober dikenal dengan kepelitannya yang luar biasa. Kita mungkin tertawa melihat tingkah Paman Gober ini, namun dalam kehidupan nyata ternyata ada banyak orang yang sikapnya sangat mirip. Uang, harta kekayaan, aset-aset mewah, semua itu menjadi sesuatu yang paling penting buat mereka. Dan tingkat kepuasan terhadap harta pun biasanya relatif. Artinya manusia akan cenderung tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya saat ini. Terus memburu harta, terus menimbunnya, lalu hidup stres karena selalu takut hartanya hilang atau musnah akibat berbagai hal. Bukannya bahagia, namun sebaliknya justru sulit tidur dan selalu ketakutan.

Tidak pernah ada kata cukup dalam kamus mereka yang mengejar harta. Apapun siap dikorbankan demi mengejarnya. Jujur atau curang, semua dihalalkan agar pundi-pundi bisa terus bertambah. Membantu orang? Itu artinya membuang uang. “Enak saja, kalau mau punya uang yang kerja sana..” dengan ringan mereka akan bisa berkata seperti itu tanpa melihat latar belakang kesulitan orang-orang yang kekurangan terlebih dahulu. Sadar atau tidak, ketika pola pikir menjadi berubah ke arah seperti ini, mereka sudah masuk ke dalam jebakan mamon. Dan kita tahu apa kata firman Tuhan mengenai hal ini. “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24). Memilih mengikut mamon, menghamba kepada uang berarti memilih untuk meninggalkan Tuhan.

Jika anda berpikir bahwa banyak uang akan membawa kebahagiaan, pikirkanlah sekali lagi. Kebahagiaan yang sejati hanyalah berasal dari Tuhan dan tidak akan pernah berasal dari harta. Harta yang ada jika tidak dikelola dengan baik sesuai apa yang diinginkan Tuhan justru hanya akan membawa kehancuran bagi kita. Berorientasi kepada harta hanyalah akan membuat kita menjadi tamak dan melupakan untuk apa sebenarnya Tuhan memberkati kita di dunia ini. Bukan uang lagi yang menjadi hamba kita, tetapi kitalah yang menjadi hamba uang.

Yesus mengingatkan kita agar jangan salah fokus dalam mengumpulkan harta. “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19). Harta di bumi yang dikumpulkan, tidak peduli sebanyak apapun akan tetap beresiko lenyap cepat atau lambat. Ngengat dan karat bisa merusaknya, pencuri pun siap merebut semuanya. Ini adalah harta yang tidak kekal, sangat rentan terhadap kemusnahan. Lantas dimana seharusnya kita mengumpulkan harta? “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (ay 20). Mengumpulkan harta di surga, itu artinya memberi dan menabur di dunia, bukan menimbun, seperti cara mengumpul harta duniawi. Terus mengasihi dan menjadi terang dan garam di dunia lebih dan lebih lagi hingga kita mendapati bahwa adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima. Paulus pun menyampaikan pesan ini sebagai sesuatu yang penting ketika ia menyampaikan salam perpisahan kepada para penatua Efesus. “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35). Surga adalah tempat yang teraman dalam mengumpulkan harta, dimana tidak ada satupun yang bisa merusak dan mencurinya, dan semua itu akan berlaku kekal bagi kita. Tidak ada investasi yang lebih menguntungkan selain di surga.

Dari tokoh Gober bebek kita bisa melihat bahwa timbunan harta dunia tidaklah serta merta membuat kita berbahagia. Fokus pengumpulan harta yang Alkitabiah bukanlah di dunia, melainkan di surga. Tuhan tidak menyuruh kita untuk hidup miskin serba kekurangan, karena Dia telah menjanjikan segalanya bagi kita, mulai dari janji untuk mencukupkan hingga memberi kelimpahan. Dia menjanjikan semuanya, bahkan yang tidak pernah terpikirkan oleh kita. “Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Korintus 2:9). Namun ingatlah bahwa esensi dari berkat Tuhan turun atas kita bukanlah untuk ditimbun sendiri melainkan dipakai untuk memberkati orang lain atas nama Kerajaan Allah. Itu artinya kita sedang berinvestasi di surga dan itulah yang aman serta membawa manfaat kekal bagi kita. Di mana anda menimbun harta saat ini?

Berinvestasilah di surga dan bukan di dunia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. khotbah 2 Korintus 3:12-4:2
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: