Gemerincing Uang

Posted on

Ayat bacaan: Matius 27:4
=====================
“Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.”

gemerincing uang

Gemerincing uang merupakan suara yang termerdu bagi banyak orang hari-hari ini. Hampir setiap hari kita bertemu dengan orang-orang yang menghambakan diri kepada harta, memprioritaskan harga lebih dari segalanya. Hendak mengurus sesuatu harus pakai uang pelicin, ingin lancar harus ada uang rokok atau uang kopi, sebelum pensiun buru-buru melakukan mark-up selagi masih sempat dan lain-lain. Kalau dulu hal ini dilakukan malu-malu atau sembunyi-sembunyi, kesepakatan dibawah tangan, saat ini orang tidak lagi merasa malu melakukan itu. Bahkan institusi pemerintah, lembaga dan abdi negara sekalipun tidak terlepas dari perilaku seperti ini. Hukum bisa dibeli dengan segepok uang. Di kalangan teman dan keluarga pun hal seperti ini masih berlaku. Friend is friend, family is family, but business is business. Itu kata seorang paman saya yang kepada keponakannya sendiri tega berhitung untung rugi hanya karena dimintai tolong sedikit saja. Saat ini orang tidak lagi takut untuk menggelapkan, menggelembungkan atau mengemplang uang yang bukan menjadi haknya. Hidup cuma satu kali menjadi ungkapan yang bukan lagi menggambarkan niat untuk berbuat yang terbaik selama kesempatan masih diberikan Tuhan, tapi sudah bergeser maknanya kepada menimbun harta sebesar-besarnya selagi masih ada kesempatan. Orang tidak lagi menganggap itu dosa. Karena jika mereka tidak ikut, toh orang lain juga akan melakukannya. Daripada orang lain yang untung, lebih baik lakukan juga sendiri. Cinta bisa dibeli dengan uang. Saya pernah mendengar bahwa demi membeli pulsa saja anak remaja rela menjual tubuhnya. Kondisi ini sungguh memperihatinkan. Kita tidak lagi heran melihat orang korupsi, tapi malah sebaliknya, heran jika melihat orang jujur. Gemerincing uang memang bisa membutakan mata siapapun.

Banyak orang mengejar harta kekayaan karena menganggap uang dapat membeli segalanya. Mereka lupa bahwa ada peribahasa yang mengatakan “Money can’t buy happiness”. Anggaplah uang yang banyak akan memberi kita banyak kemudahan duniawi, namun sebenarnya hati nurani manusia akan terus membuat kita dikejar rasa bersalah. Tuhan seringkali mengetuk pintu hati kita, berbicara lewat hati nurani kita, dan ketika apa yang kita lakukan melawan hal itu, maka perasaan kita pun akan menjadi tidak nyaman. Kita hidup dengan ketakutan, merasa tertuduh dan bersalah. Hal ini dialami oleh tokoh yang “menjual” Yesus bernama Yudas.

Bayangkan, hanya dengan imbalan 30 keping uang perak, ia tega menyerahkan sahabatnya, gurunya, sosok yang sudah berulangkali melakukan mukjizat di depan matanya, sosok yang begitu luar biasa besar kasihnya dan pengajaran-pengajaran yang belum pernah diberikan oleh siapapun sebelumnya. Semua itu dia gadaikan hanya dengan imbalan sejumlah uang. Gemerincing uang membutakan matanya. Dan Yesus pun dia khianati. Sebuah pilihan yang fatal. Tepat setelah ia menerima uang dan melihat Yesus dibelenggu dan dijatuhi hukuman mati, ia pun menyesal. Hidupnya tidak lagi tenang, tidak lagi ada sukacita melainkan diisi oleh penyesalan tiada habis dan ketakutan. Alkitab mencatat “Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua, dan berkata: “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” Tetapi jawab mereka: “Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!” (Matius 27:3-4). Perhatikan kata-kata Yudas: “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” Ketika membayangkan uang sejumlah itu akan diperoleh, Yudas mengira bahwa hidupnya akan indah. Namun setelah semuanya terjadi, gemerincing uang tidak lagi melambangkan hadiah baignya, tapi menjadi peringatan akan perbuatan jahatnya kepada Yesus. Setiap mendengar suara gemerincing uang ia pun ketakutan. Depresi berat akhirnya menguasai dirinya. Yang terjadi adalah: “Maka iapun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri.” (ay 5). Mengenaskan bukan? Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Dirinya dihakimi oleh hati nuraninya, begitu berat sehingga ia tidak mampu bertahan lagi dan memutuskan lebih baik mengakhiri hidupnya. Yudas pun mati membawa perasaan bersalah yang tidak lagi mampu ia atasi.

Suara gemerincing uang seringkali membutakan mata kita. Kitapun tergoda untuk masuk ke dalam perangkap dengan menjadi hamba uang. Padahal sekaya-kayanya kita, harta itu tidak akan pernah bisa kita bawa ke tempat yang menjadi tujuan kita selanjutnya. Mengapa kita harus tergoda untuk mementingkan kenyamanan hidup yang hanya sesaat ini ketimbang kehidupan kekal yang akan kita masuki selanjutnya? Bukankah harta yang diperoleh dengan cara curang ini, berapapun besarnya tidak akan pernah sebanding dengan sesuatu yang kekal yang akan kita hadapi nanti? Apakah itu kehidupan kekal atau kematian kekal, semua itu tergantung kita. Firman Tuhan berkata “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu (Ulangan 30:19). Artinya, apapun yang akan kita peroleh kelak akan sangat tergantung dari apa yang kita pilih atau putuskan hari ini.

Yesus sudah mengingatkan sejak awal bahwa kita harus fokus mengumpulkan harta bukan untuk di bumi, melainkan untuk di surga. Harta di dunia tidak pernah kekal, setiap saat bisa hilang dan musnah, namun sebaliknya harta di surgalah yang akan sangat bermanfaat karena tidak akan bisa lenyap. “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19-20). Dan ingatlah pesan Yesus berikut: “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. (ay 24).

Menghamba kepada uang sama artinya dengan mempertuhankan harta. Ini sama saja dengan menduakan Tuhan yang jelas merupakan pelanggaran yang sangat fatal. Ketika kita memilih untuk mengkhianati Kristus dengan melakukan pelanggaran, ketika kita memilih untuk menyisihkan kebenaran firman Tuhan hanya karena tergoda oleh gemerincing uang, hati kita tidak akan berisi sukacita lagi. Hati kita akan dipenuhi perasaan tidak nyaman, menderita, sedih dan bersalah. Dan akibatnya bisa menjadi sangat fatal seperti apa yang terjadi pada Yudas. Pantaskah ini kita lakukan ketika Tuhan sudah menunjukkan kasihNya yang tak terhingga besarnya dengan menganugerahkan Kristus untuk menyelamatkan kita dari kebinasaan? Betapa bodohnya kita jika kita membuang anugerah terbesar hanya demi kenikmatan sesaat. Tidak perlu korupsi untuk hidup berkelimpahan, karena Tuhan sendiri sudah berjanji bahwa Dia akan memberikan kita “negeri yang berlimpah susu dan madunya” apabila Tuhan berkenan atas hidup kita. Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.(Bilangan 14:8). Mendengarkan suara Tuhan dan melakukan dengan setia perintah-perintahNya dalam hidup kita, itu akan membawa kita untuk menerima berkat berlimpah disegala sisi. (Ulangan 28:1-14). Meskipun mungkin anda saat ini merasa tertekan akibat lilitan hutang atau kesesakan untuk memenuhi segala kebutuhan, jangan pernah tergoda untuk korupsi. Apa yang harus anda lakukan adalah menyerahkan segala masalah kepada Tuhan, sebab sesungguhnya Dia lah yang memelihara kita. “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). Tuhan sanggup melimpahi kita semua, namun kita harus hidup jujur dan taat, serta setia kepada perintah-perintahNya. Berkat-berkat yang diberikan Tuhan sanggup membuat kita hidup penuh kelimpahan tanpa harus korupsi atau menjadi mata duitan. Dan jika kita memperoleh itu semua dari Tuhan, kita akan berkelimpahan dengan penuh sukacita, tanpa harus dicekam rasa bersalah, ketakutan dan terus menerus tertuduh oleh hati nurani kita sendiri. Ketika pada suatu saat anda tergoda oleh gemerincing uang, ingatlah bagaimana makna gemerincing uang itu terhadap Yudas dan apa yang menjadi konsekuensinya. Hari ini marilah kita hidup dengan benar, menjauhkan segala keinginan menumpuk harta dan fokus sepenuhnya untuk melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan firman Tuhan. And the rest will surely follow.

Uang mungkin dianggap bisa membeli segalanya, namun tidak akan pernah mampu membeli kebahagiaan, kedamaian dan sukacita

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.