Gelombang Pembaharuan Kuria Vatikan Mulai Bergerak

paus fransiskus tersenyum lebar di kursi

DI samping pemilihan nama Fransiskus yang baru pertama kali, Paus Fransiskus “Mario Bergoglio” juga telah sangat mengesankan dunia tentang bagaimana ia menjalankan pemerintahan Pusat Gereja dan pembaruan Vatikan yang sudah senantiasa dinantikan dengan penuh penasaran, kalau bukan malah dengan kecemasan!

  • De-birokratisasi dan de-arsipikasi

Keputusan Paus Fransiskkus untuk tidak mau menempati Istana Kepausan, melainkan tetap tinggal di Domus Santa Marta itu sendiri sudah memutuskan kebiasaan para Paus yang mendahuluinya.  Secara praktis itu berarti bahwa Paus secara fisik dapat membebaskan diri dari tekanan birokratis Vatikan yang seandainya Paus masuk ke dalamnya maka Ia akan terjebak di dalamnya dan mengganggu efektivitas kepemimpinannya.

Sangatlah menarik bisa mengetahui bagaimana tindakan Paus itu telah menurunkan secara drastis dokumen-dokumen kesekretariatan yang harus menumpuk di meja Paus untuk dipelajari, disetujui atau digarisbawahi dst.

Bukanlah khayalan belaka untuk memikirkan bahwa gaya hidup yang sederhana dari Paus Jesuit pertama dalam sejarah ini akan memaksa para pegawai Sekretariat Vatikan untuk mengurangi birokrasi pada tingkat yang minimum dan menyeleksi masalah apa saja yang memang perlu dan mendesak untuk mendapat perhatian Paus.

  • Uskup Roma- Gembala Universal

Gaya kepemimpinan yang inovatif dari Paus Fransiskus ini juga menimbulkan beberapa pertanyaan tentang bagaimana ia akan mewujudkannya dalam sektor-sektor spesifik kepemimpinan Gereja Universal. Karena Bergoglio lebih suka menyebut dirinya sebagai Uskup Roma, namun pada saat yang sama ia bertindak dan bergerak sebagai Paus dengan hak penuh atas Gereja Universal.

Sebagai contoh ia dengan cepat memilih penggantinya sendiri sebagai Uskup Agung Buenos Aires, dan ia melakukan itu dalam kapasitasnya sebagai Gembala Gereja Universal.

Pengangkatan itu tentu saja tidak melalui seleksi dari Kongregasi untuk para Uskup, dan juga tanpa melalui konsultasi dengan para uskup atau di kalangan para klerus di Buenos Aires, karena Ia mengenal siapa yang harus diangkatnya.

Pengangkatan kedua setelah Uskup Agung Buenos Aires itu adalah Uskup Agung yang baru untuk Lithuania. Paus Fransiskus engangkat seorang imam terbilang muda untuk ukuran kardinal yakni Mgr. Gintaras Grusas yang baru berusia 52 tahun dan  sejak tahun 2010 menjadi pastur militer di negara Baltik dan menjadi pengawal Kardinal Audrys Backis (76) tahun yang mengundurkan diri karena usia.

  • Pengangkatan para Kardinal: Jumlah dan asalnya

Setelah pengangkatan-pengangkatan itu, akan menarik sekali untuk mengikuti praktii Paus baru ini tentang pengangkatan para uskup di seluruh dunia dan tentang pengangkatan para kardinal baru. Apakah Paus Fransiskus akan terikat pada batas jumlah Kardinal 120 yang punya hak memilih Paus baru seperti peraturan selama 50 tahun terakhir ini?

Apakah ia akan mengangkat para kardinal lebih banyak dari Gereja-gereja lokal dan bukan dari kalangan anggota Curia Roma?

Apakah ia akan melanjutkan kebiasaan memberikan jabatan Kardinal sebagai hadiah kepada seseorang yang berjasa? Atau juga apakah jabatan kardinal itu akan diberikan terlebih kepada personnya, daripada keuskupannya?

Jadi biarpun bukan Uskup Agung di kota metropolis, kalau personnya cocok jadi Kardinal, akan diangkat menjadi kardinal? Apakah Italia tetap akan memiliki 9 keuskupan yang uskupnya otomatis adalah Kardinal? Dan apakah Orang-orang Italia juga tetap akan mendominasi posisi dalam kolegium para Kardinal itu?

  • Paus Fransiskus dan Gereja Italia

Khusus menyangkut Gereja Italia, akan sangat menarik untuk melihat bagaimana Paus Fransiskus, yang juga memiliki gelar Primat Gereja Italia, yang punya hak untuk memilih Ketua dan Sekretaris Konverensi Para Uskup Italia, akan tetap menggunakan hak itu, atau menyerahkan kepada para uskup Italia sendiri untuk memilik ketuanya? CEI (KWI-nya Itali) Converenza Episcopale Italiana adalah satu-satunya di dunia yang para fungsionarisnya diangkat oleh Paus langsung.

Dalam kasus ini ada peristiwa terkenal tahun 1983 ketika Yohanes Paulus II bertanya kepada para uskup Italia apakah mereka sendiri akan memilih ketua dan sekretaris CEI, dan mayoritas menyetujui kemungkinan itu, namun tidak bisa terwujud dengan cara itu.

Siapa tahu, demi semangat kolegialitas, masalah itu akan diangkat kembali, dan dengan cara yang mana: dengan pemilihan langsung oleh para uskup Italia itu sendiri; atau dengan cara para uskup menyerahkan nama-nama calon kepada Paus, dan nanti Paus memilih salah satu.

  • Peran Kongregasi Ajaran Iman

Perubahan lainnya bisa terjadi menyangkut Kongregasi Ajaran Iman.

Pada masa Joseph Ratzinger, pertama sebagai Kardinal dan kemudian sebagai Paus, Kongregasi Ajaran Iman telah memainkan peranan sangat besar dalam pemerintahan Gereja Universal.

Baik menyangkut pengerjaan dokumen-dukumen yang diperuntukkan bagi masalah-masalah yang tidak bisa dilakukan kompromi seperti Instruksi Donum Vitae 1987 dan Dignitatis Personae 2008, Catataan doktrinal mengenai orang-orang katolik yang terlibat dalam politik (2002) dan masalah legalisasi perkawinan sejenis (2003);

Maupun masalah peringatan keras bagi sekitar 20 karya teologis, beberapa di antaranya ditulis oleh para Jesuit, khsusnya Anthony de Mello SJ (1998); Jacques Dupuis SJ (2001), Roger Haight SJ (2004) dan Jon Sobrino SJ (2006);

Dan juga menyangkut tindakan tegas berkaitan dengan kejahatan berat (delicta graviora), termasuk pedophilia, dengan norma-norma hukum yang keras yang disahkan tahun 2001 dah direvisi tahun 2010.

Sekarang, apa yang akan terjadi dengan Paus Fransiskus?

Dalam suatu pernyataan yang tidak biasa tanggal 5 April 2013, setelah pertemuan Paus dengan Ketua Kongergasi Ajaran Iman Uskup Agung Gerhard Ludwid Miller, Kongregasi itu dengan hati-hati menekankan bahwa perang melawan sexual abuse yang dilakukan oleh para klerus terhadap anak-anak, tetap akan memakai norma yang telah diterapkan oleh Paus Benedictus XVI.

Barangkali  penegasan itu untuk menghidari kesan tentang diskontinuitas dengan Kepausan sebelumnya dalam menangani masalah-masalah itu. Namun sekarang ini apa yang akan terjadi tentang hal-hal itu di bawah pemerintahan Paus Fransiskus?

 

Akankah Kongergasi itu tetap mempertahankan cara kerja sentralistik menyangkut issu-issue tersebut, atau akan mendelegasikannya sebagai tugas untuk masing-masing Uskup Gereja Lokal?

 

Apakah Kongregasi Ajaran iman itu juga akan terus mengintervensi persoalan sekitar hidup manusia (human life) dan hidup keluarga (family life), atau merasa sudah cukup dengan dokumen-dokumen Kepausan sebelumnya tentang masalah itu yang telah diterbitkan?

 

Apakah Kongergasi itu juga terus akan membuat sensor atas kesalahan-kesalahan teologis, atau membatasi diri pada peran untuk menyampaikan himbauan (an exhortative role)?

 

Dan lagi, apakah Kongregasi Ajaran Iman akan memeriksa terlebih dahulu (review) teks-teks khotbah atau sambutan Paus Fransiskus seperti dilakukan untuk para Paus sebelumnya?

 

Singkatnya, kita sedang menantikan dan beberapa tanda-tanda rupanya sudah kelihatan  untuk dilakukannya suatu pembaruan dan perubahan peran Kongergasi Ajaran Iman itu.

  •  Peran Dicasteri bagian Liturgi dan Hidup Religius

Selama Kepausan Benedictus XVI dilakukan pembaruan liturgi yang menuai banyak perlawanan. Misalnya, dalam Motu Proprio Summorum Pontificium yang menghidupkan kembali ritus liturgi Latin sebelum Konsili Vatikan II. Dan juga tuntutan tegas untuk terjemahan teks Liturgis yang sesuai dengan teks asli dari bahasa Latinnya.

 

Bagaimana semuanya itu sekarang di bawah Paus Fransiskus?

Apa pula yang akan dilakukan oleh Paus Fransiskus –Paus pertama dari Tarekat Religius sejak pertengahan abad 19  tentang visitasi apostolik (pengawasan apostolik) terhadap para suster di Amerika itu yang dilakukan oleh Kongrergasi Vatikan untuk urusan religius pada tahun-tahun terakhir ini? Secara khusus, apa tugas baru dari Sekretaris Kongregasi itu yang adalah seorang ransiskan dari Spanyol, Jose Rodriguez Carballo, yang diangkat Paus tgl 6 April 2013 lalu?

  •  Kelompok Tradisionalis dalam Gereja Katolik

Topik lain lagi tentang dialog dengan Komunitas St. Pius X yaitu para pengikut Uskup Lefebvre? Dan juga tentang Konsili Vatikan II di mana Paus Fransiskus sendiri tidak mengikutinya dan Ia ditahbiskan imam sesudah Konsili itu. Ia sepertinya tidak terlalu berminat tentang perbedaan penafsiran tentang hermeneutik dokumen-dokumen Vatikan II, seperti Ratzinger. Di Keuskupan Buenos Aires sendiri Ia menunjukkan sikap yang toleran terhadap para imam tradisionalis. Bagaimana sikapnya sekarang sebagai Paus?

Itulah beberapa pertanyaan yang bisa diajukan berkaitan dengan gaya kepemimpinan dari Paus Fransiskus yang tampil beda secara mengesankan pada awal pontifikatnya.

  •  Uskup Romero

Dan satu tambahan lagi:  apakah beatifikasi terhadap Uskup Oscar Romero  yang diblok oleh Kongregasi Ajaran Iman di bawah Ratzinger, kini akan dibuka lagi?

Jawaban-jabawannya kita tunggu saja. Dan kejutan-kejutan tidaklah sedikit.

Sumber terjemahan diambil dari tulisan Sandro Magister dengan tautan:  http://chiesa.espresso.repubblica.it/articolo/1350494?eng=y

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.