Gelisah dan Cemas

Ayat bacaan: Yakobus 4:8a
===================
“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.”

gelisah

“Seandainya tidak ada masalah, betapa tenangnya hidup ini..” kata seorang tetangga saya sambil tersenyum kecut. Sebenarnya tidak ada masalah serius yang tengah ia hadapi. Ia memiliki pekerjaan yang baik, kehidupan rumah tangganya rukun, anak-anaknya juga sehat dan bisa bersekolah tanpa kekurangan. Tetapi ia hidup terus dalam kecemasan. Ia tidak bisa merasa senang dan cepat merasa gelisah. Ketika saya tanyakan apa yang membuatnya gelisah ia berkata, “sejauh ini tidak ada sih..tapi siapa yang tahu besok bagaimana..wong hidup ini serba tidak pasti kok..” Ia tampaknya gelisah memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi di depan. Tidak ada yang pasti dalam hidup ini. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, lusa atau beberapa menit ke depan. Tetangga saya terperangkap dalam ketakutannya sendiri, yang ia sendiri pun tidak tahu alasannya. Ada banyak orang yang merasakan hal seperti ini di sekitar kita, atau bahkan kita sendiri mungkin pernah atau sedang merasakannya. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, duduk pun tak nyaman. Di antara anak-anak Tuhan sendiri pun tidak tertutup kemungkinan merasakan hal yang sama. Tetangga saya itu misalnya, ia pun orang percaya. Tetapi tetap rasa takut menguasai dirinya begitu besar. Sekali lagi, apapun bisa terjadi dan kita tidak punya kemampuan cukup untuk bisa melihat apa yang ada di depan. Tetapi itu bukan alasan bagi kita untuk hidup dengan ketakutan. Apa yang biasanya membuat hal ini terjadi adalah kesalah-kaprahan kita untuk membiarkan pikiran-pikiran negatif mencekam perasaan kita. Berhati-hatilah akan hal itu, karena itu akan menjadi lahan subur bagi iblis untuk menancapkan kukunya lebih dalam lagi, membuat kita bertambah takut, kalut dan gelisah.

Tidak ada satu manusiapun yang tidak pernah gelisah. Itu benar. Tetapi jika tidak hati-hati, kadar kegelisahan itu bisa menimbulkan masalah jika dibiarkan terus menerus mengganggu kita. Dalam tahap normal perasaan tidak tenang mungkin hanya membuat kita tidak betah duduk diam. Kegelisahan membuat kita terus mondar mandir tanpa arah yang biasanya dilakukan untuk mengurangi kadar kegelisahan itu.  Sedikit di atas ambang batas normal, kita mungkin akan mulai merasa mulas, keringat dingin, atau gampang tersulut emosi. Jika terus dibiarkan kita akan mulai mengalami kesulitan tidur, atau kalaupun tidur kita akan terbangun mendadak di tengah malam sambil berkeringat dingin dan berdebar, bermimpi buruk atau bahkan berteriak-teriak selagi tidur. Dalam kondisi paling ekstrim, ada juga orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena dihantui perasaan tidak tenang, dan itu sudah berulang kali kita dengar atau lihat. Manusia mempunyai perasaan, dan ketika ada sesuatu yang mengganggu perasaan kita maka kegelisahan bisa timbul. Sebanyak reaksi yang muncul berawal dari kegelisahan ini, sebanyak itu pula alternatif cara yang mungkin diambil untuk mengatasinya. Seberapa banyak dari kita yang memutuskan untuk lebih dekat lagi dengan Tuhan dalam mengatasi kecemasan? Sayangnya hal ini seringkali kita abaikan. Kita lebih suka mencari solusi lewat jalan-jalan pintas secara duniawi atau bahkan lebih mudah terbujuk solusi-solusi sesat ketimbang memilih jalur bersama Tuhan sebagai solusi. Bukannya makin dekat malah semakin menjauh. Kunci ketenangan bukanlah diukur dari ada tidaknya atau besar kecilnya masalah, tetapi akan sangat bergantung dari sedekat apa kita dengan Tuhan.

Daud mengetahui solusi terbaik untuk mengatasi kecemasan dalam hidupnya, dan ia menuliskan itu di dalam Mazmurnya. “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.” (Mazmur 62:2). Daud bisa menyimpulkan solusi terbaik agar bisa merasa tenang. Jika anda terus membaca kisah Daud sejak awal hingga akhir hayatnya maka anda tahu bahwa Daud sama seperti kita yang tidak terlepas dari masalah. Meski ia seorang raja, masalah tetap hadir pada waktu-waktu tertentu, dan dalam beberapa kesempatan masalah yang dihadapi Daud tidaklah ringan. Tetapi lihatlah Daud mengerti bahwa akan selalu ada masalah dalam hidup. Siapapun kita, apapun status kita, sebanyak apapun harta yang kita miliki, itu tidak pernah bisa menjamin diri kita akan terbebas selamanya dari masalah. Jika itu yang kita fokuskan, maka kita tidak akan pernah bisa merasa tenang dan damai. Mengapa? Karena bukan disitu kuncinya. Kunci ketenangan, kedamaian hidup bukanlah tergantung dari kondisi yang kita hadapi melainkan dari hubungan kita dengan Tuhan. Dalam hubungan yang erat dengan Tuhan kita akan selalu bisa mendapatkan kekuatan dan penghiburan sehingga tidak perlu menjadi tidak tenang karena  terus menerus menimbang berat ringannya masalah kehidupan. Tidak banyak yang menyadari hal ini. Mereka malah semakin lupa kepada Tuhan dan lebih tertarik untuk terus bergelut dalam kegelisahan tanpa jawaban pasti. Yesus sudah menyatakan kesediaanNya untuk meringankan beban kita dengan berkata “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28). Masalah boleh ada dan akan tetap ada, tetapi kita tetap bisa tenang dalam menyikapi atau menghadapinya jika kita mengetahui kunci dari ketenangan sesungguhnya terletak dalam hubungan kita dengan Tuhan.

Lantas pertanyaan selanjutnya. Sulitkah bagi kita untuk mendapatkan Tuhan? Alkitab mengatakan justru sebaliknya. “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.” (Yakobus 4:8a). Terdengar sederhana bukan? Dalam Perjanjian Lama lewat Yeremia kita bisa pula mendapatkan pesan Tuhan yang bunyinya demikian: “Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku.” (Yeremia 29:12-14a). Lihatlah bahwa Tuhan sudah menyatakan kesediaanNya untuk berada dekat dengan kita. Dia siap untuk meringankan beban kita, bahkan dengan senang hati membuka diriNya agar kita bisa menemukanNya. Tuhan tidak pernah terlalu sibuk untuk kita. Siapapun kita, semuanya adalah ciptaanNya yang spesial yang teramat sangat Dia kasihi. Tuhan hanyalah sejarak doa, atau sejarak Alkitab dimana kita bisa menemukan perkataanNya yang meneguhkan. Tetapi seringkali kita lah yang lupa untuk mencariNya karena terlalu sibuk mencari cara mengatasinya dengan mengandalkan diri sendiri atau berharap pada orang lain. Ada juga orang yang mengaku percaya tetapi sebenarnya ragu-ragu. Mereka tidak yakin Tuhan mendengar suara mereka, mereka tidak yakin Tuhan mau dekat dengan mereka, sehingga sambil berdoa mereka pun terus mencari cara-cara alternatif termasuk yang sesat dalam waktu yang sama. Atau mereka merasa hubungan dengan Tuhan tidak lancar, dan kerap kali itu terjadi karena kita masih saja sulit untuk melepaskan dosa-dosa yang membebani kita. Dalam Yeremia dikatakan “Kesalahanmu menghalangi semuanya ini, dan dosamu menghambat yang baik dari padamu.” (Yeremia 5:25). Hal yang sama bisa kita baca dari Firman Tuhan berikut ini: “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:1-2).

Perasaan tenang atau tidak bukanlah tergantung dari frekuensi atau intensitas masalah, tetapi dari hubungan kita dengan Tuhan. Jika berbagai bentuk perasaan yang mengganggu kerap datang, mungkin itu saatnya bagi kita untuk membenahi ulang hubungan kita dengan Tuhan dan kembali dekat kepadaNya. Mungkin kita sudah terlalu jauh dari Tuhan sehingga beban pikiran dan perasaan gelisah atau cemas bisa begitu menguasai diri kita. Tuhan sudah menyatakan bahwa Dia akan selalu siap memberi kelegaan, kembali menguatkan dan bentuk-bentuk pertolongan lainnya kepada siapapun yang mau datang kepadaNya, mencariNya dengan sungguh-sungguh. Apakah itu kegelisahan akan sesuatu yang belum jelas, apakah itu luka-luka atau kekecewaan di masa lalu, kenangan buruk, kondisi-kondisi traumatis akibat kegagalan di waktu lalu dan sebagainya, Tuhan lebih dari sanggup untuk melepaskan kita dari semua itu, tidak peduli seberat apapun. Jangan biarkan perasaan-perasaan negatif itu berlarut-larut. Ambil solusi yang terbaik agar kita tidak malah menambah masalah lebih banyak lagi lewat keputusan-keputusan yang salah.  Berusaha untuk mencari penyelesaian agar bisa kembali tenang itu baik sejauh tidak bertentangan dengan firman Tuhan tidaklah salah,  akan tetapi jangan lupa pula bahwa di dalam Tuhanlah sebenarnya ada jawaban yang memampukan kita untuk menyelesaikannya dan keluar menjadi pemenang. Anda dan saya bisa tetap tidur nyenyak dan tersenyum tanpa kehilangan sukacita meski masalah tengah melanda apabila kita memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan. Inilah saatnya untuk menyegarkan kembali hubungan pribadi anda dengan Tuhan. Jika anda merasa sudah dekat namun kegelisahan masih melanda, mungkin itu tandanya untuk mengaplikasikan iman yang di dalamnya terdapat pengharapan secara nyata dalam kehidupan rohani anda. Anda ingin mengalami hidup yang tenang, jauh dari kegelisahan tanpa terpengaruh oleh keadaan? Jawabannya ada pada Tuhan dan kedekatan anda denganNya.

Sumber sukacita yang sejati berasal dari Tuhan dan tidak tergantung dari ada tidaknya masalah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: