Garang Asem

Garang_asem

SALAH satu pintu utama menuju persatuan dengan Tuhan adalah pengendalian lidah. Demikianlah, orang bijak mengatakan. Yang dimaksud dengan pengendalian ini adalah pengendalian bidang cita rasa dan ucapan manusia.

Dari kodratnya, lidah manusia selalu menyukai rasa manis, ingin menikmati yang enak, serta mencecap yang lezat. Namun kembali kata sang bijak, memuaskan lidah dengan segala makanan yang enak berarti memanjakan tubuh kepada sikap lamban dan malas bahkan menumpulkan kepekaan jiwa akan Yang Adikodrati.

Kepekaan jiwa kita tumpul lantaran kebanyakan makan justru mendorong nafsu dan amarah. Jika jiwa manusia panas, garang dan menyukai kekerasan, bagaimana mungkin Tuhan bisa kita temukan. Bagaimana mungkin membangun manusia baru jika orang masih gampang bernafsu. Bagaimana mungkin menemukan Tuhan dalam kegarangan hati, kekerasan jiwa dan kepenuhan ego. Karenanya, kenikmatan lidah merupakan satu dari tujuh akar kejahatan atau dosa yang mematikan. Maka setiap agama menawarkan hidup bersahaja, puasa dan askese, matiraga – pengendalian diri.

Bagi sang bijak, tidak mungkin orang mengabdi kenikmatan lidah sembari berusaha mendekati dan menyenangkan Tuhan. Orang tak mugkin mengabdi dua tuan. Kita tidak mengatakan bahwa Tuhan salah ketika menciptakan beragam bahan makanan serta kenikmatan mencecap masakan. Kita juga tidak menghalangi tehnologi makanan.

Naluri dasar
Ini soal kebebasan menguasai dan mengendalikan selera makan kita. Aturan serta ritual agama soal makanan adalah design spiritual, gaya hidup yang mengajari kita untuk mengontrol basic instict kita itu. Kebebasan yang ditawarkan aturan agama adalah kebebasan seorang atlit yang mendisplinkan tubuhnya agar dia bebas melakukan gerakan fisik yang umumya kita tidak mampu. Kita tidak diarahkan untuk menolak atau membunuhnya, melainkan mengontrol dan mengaturnya. Dengan demikian kita tidak diatur oleh keinginan makan melainkan mengendalikan, menguduskannya dengan mendedikasikan hidup kita pada gaya hidup sebagaimana yang dimaksud Tuhan.

Orang yang terikat keduniawaian memikirkan bagaimana kenikmatan itu kian bertambah, bagi diri mereka sendiri. Sulit dipercaya, mereka yang menggelembungkan ego tulus membangun aksi pengorbanan, cinta kasih, belas kasihan, empati atau kemurahan hati. Sama sulitnya membangkitkan rasa solidaritas dan kepekaan kepada yang miskin, pedih tersingkir bila orang tak bisa lepas bebas dari makanan berlemak dan kursi empuk. Ia yang tak mampu mengendalikan lidahnya selalu dalam keraguan, kekacauan pikiran, pertentangan batin dan kebingungan.

Ulat jati

Betapa tidak kacau dan bingung. Dari subuh hingga subuh lagi, hidupnya dijejali keinginan untuk pengembaraan lidah. Memang dalam jumlah kelimpahan makanan, kita masih amat kurang. Masih banyak orang Indonesia mengalami kekurangan makan. Namun dalam soal jenis masakan, Indonesia memang tak pernah kekurangan.

Di Pantura saja kita menemukan banyak sekali menu. Di saat pagi orang bisa mencari garang asem atau soto. Siang beralih fokus ke swieke kodok Purwodadi. Sore ke pojok gang mencari siomay, tahu campur. Malam menggoyang lidah dengan sate, lontong atau ikan bakar. Tengah malam bikin mie rebus. Belum lagi segala camilan, segala kacang-kacangan, jajan pasar, wedang plung, ronde hingga enthung jati.

Kita ingat catatan sejarah bangsa Roma yang pernah diwarnai orang-orang kemaruk menikmati kemenangan, menggoyang lidah, gelojoh mabuk pesta-pora, hidangan serta kenikmatan lidah. Demi mereguk kenikmatan lidah, makanan yang telah masuk ke perut dikirik-kirik lagi hingga muntahlah segala makanan itu dan mulai melanjutkan pesta pora. Pesta telah menjadi gaya hidup baik pribadi maupun sosial. Ia bukan soal kaya dan miskin. Ia menjadi sejenis pemenuhan kebutuhan tertentu.

Bila pesta pora telah menjadi gaya hidup, kiranya sulit membicarakan aspek kebersahajaan. Bila keserakahan dan budaya konsumtif merajalela, kesederhanaan apalagi kesederhaan gaya hidup yang merupakan hakikat pembangunan individu dan pembangunan sosial (the very purpose of individual and social developtment) kiranya amat jauh. Bila kelimpahan menjadi norma, orang dihargai karena kemewahan, orang bernilai karena kepunyaan. Apapun rela dilakukan untuk memiliki dalam kelimpahan.

Budaya alternatif
Di tengah pola budaya yang demikian, kita perlu mengembangkan budaya alternatif. Maksud budaya alternatif adalah suatu pola pandang dan perilaku yang menjadi tandingan terhadap pola pandang dan perilaku yang berlaku umum dalam masyarakat. Dengan membangun dan mengembangkan budaya alternatif, akar-akar yang menyebabkan kerusakan masyarakat dan kehancuran lingkungan, korupsi, kekerasan dan penyelewengan kekuasaan diharapkan dapat diatasi. Sejalan dengannya, secara bertahap keadaban publik terbangun dan kesejahteraan umum terwujud.

Meski mengatakan budaya alternatif itu tidak berarti suatu yang baru. Hidup bersahaja adalah gaya hidup yang postmodern sekaligus amat kuno. Kita perlu menemukan gaya hidup bersahaja yang sesuai dengan diri. Selanjutnya action please…. Kini bila gaya hidup bersahaja tidak kita awali, kita tidak tahu bagaimana membangun bangsa ini bersih dari korupsi. Kalau hidup konsumeris dan gelojoh tidak kita rem, kita tidak tahu lagi bagaimana membangun budaya jujur.

Kita tahu kenapa para rahib rajin berpuasa baik puasa makan maupun puasa wicara. Karena puasa adalah latihan kesehatan rohani yang menyegarkan dan membahagiakan. Dengan puasa makan, orang dilatih bersyukur dan solider dengan mereka yang kurang makan. Dua puluh tahun yang lalu kurang lebih 600 juta kekurangan pangan. Kini mungkin tak kurang dari satu miliar orang menganga menanti makanan. Orang makin sadar sumber daya alam ini begitu luas dan tak terhitung, kenapa banyak orang merasakan sumber alam kian terbatas.

Simon Garfunkel
Dengan banyak menghabiskan waktu dalam diam dan hening, mereka menyadarkan betapa hebat kemampuan kata-kata. Kata-kata, mantra memiliki kuasa, kemampuan yang ampuh. Sejak kecil kita terbiasa bicara dan mengobral kata. Kita jarang membiasakan diri dengan keheningan, berdiam diri dan mendengarkan. Kita ingat keluhan tahun 60-an, Simon dan Garfunkel, “People hearing without listening, people talking without speaking”.

Dengan hening kita juga tahu bahwa lidah bukan hanya untuk mengobrol dan mengumbar kata hampa melainkan berharga untuk wicara wawan hati dengan Allah dan menyanyikan lagu pujian dan bersyukur karena namaNya. Allah bersahabat dengan keheningan, demikian Bunda Teresa Kalkuta mengatakan. Setelah kita mampu mendengar duka gembira zaman, menangkap suara lembut Allah dalam keheningan kita, lidah menyampaikan warta gembira. Amsal mengatakan, lidah lembut adalah pohon kehidupan tetapi lidah curang melukai hati. Juga melukai hati Allah.

Dengan hening orang kian tajam dengan gerak panca indera. Seseorang pernah mengatakan prayer is talking; meditation is listening. Dengan menyebut kata listening seolah suatu proses yang pasif semata. Memfokuskan pikiran dalam kesadaran yang rileks pasti bukanlah proses yang pasif. Dari sana mengalirlah konsentrasi, kedamaian, kesadaran yang lebih mendalam tentang hidup dan perasaan bahkan juga penyembuhan. Orang bukan saja sembuh dari keterbelengguan indera. Ia menjadi manusia merdeka.

Kredit foto: Ilustrasi garang asem (AGS Food)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.