Galau (1)

Ayat bacaan: Matius 14:31
=====================
“Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”

Galau mengacu kepada kondisi hati atau perasaan yang sedih, gelisah, bingung, bimbang dan sejenisnya. Perasaan tidak enak yang bikin orang yang merasakannya jadi malas untuk ngapa-ngapain. Anehnya, industri hiburan terus mengarahkan generasi muda untuk terbiasa dengan galau, bahkan menjadikannya sebagai sebuah gaya hidup yang cool. Tidak heran kalau kita menemukan generasi galau dalam beberapa tahun belakangan ini. Ironis, karena galau bukanlah sesuatu yang membawa dampak positif bagi kita. Tanpa didorong oleh industri pun sebenarnya perasaan galau ini sudah berpotensi mengganggu atau merusak hidup kita. Galau, atau keraguan, kebimbangan, seringkali menyusup masuk dalam momen-momen penting di kehidupan kita. Jika tidak waspada, hati kita bisa dengan mudah dipenuhi oleh berbagai keraguan yang akan membuat performa atau produktivitas kita menurun. Hal ini harus disikapi sejak awal, sebelum kebimbangan menguasai diri kita dan membuat kita lemah. Dan ya, itu termasuk dalam hal keimanan.

Betapa bahayanya apabila sifat gampang galau ini merasuki keimanan kita. Dan itu terjadi pada banyak orang. Mereka percaya Kristus, sangat mengenal Firman Tuhan, tidak jarang sudah berulang kali mengalami bukti besarnya kuasa Tuhan baik dalam hidup mereka sendiri maupun lewat orang lain yang mereka kenal, tetapi iman mereka masih saja terlalu lemah untuk bisa teguh dalam iman. Mereka terus naik turun antara percaya dan ragu. Hari ini ditolong Tuhan, besok sudah bimbang lagi. Hari ini percaya, besok galau. Adakah diantara orang yang anda kenal bermasalah seperti ini? Atau mungkin anda juga masih naik turun seperti itu sampai sekarang. Susah sekali bagi mereka untuk bisa sepenuhnya percaya, tapi mudah sekali untuk bimbang atau galau. Padahal kebimbangan tidak mendatangkan keuntungan apapun melainkan justru merugikan karena membuat kita semakin jauh dari mengalami Tuhan.

Kita bisa berkaca dari peristiwa yang di alami oleh Petrus dan murid-murid Yesus lainnya dalam Matius 14:22-33. Pada suatu malam mereka tengah diombang ambingkan gelombang di tengah danau. Antara jam 3 sampai jam 6 pagi, Yesus pun datang menghampiri mereka dengan berjalan di atas air. Mereka semua kaget dan ketakutan mengira hantulah yang datang. (ay 26). Yesus pun kemudian menenangkan mereka, namun Petrus masih meragukan bahwa itu adalah Yesus. “Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” (ay 28). Yesus memanggilnya, dan Petrus pun mengalami peristiwa ajaib dengan berjalan di atas air. Ia terus berjalan di atas air menghampiri Yesus. (ay 29). Apa yang terjadi kemudian? Ternyata di tengah-tengah danau itu angin mulai membuatnya takut. Imannya memudar, dan ia kemudian mulai tenggelam. Seketika itu pula Petrus lalu berteriak minta tolong pada Yesus. Yesus kemudian menegurnya. “Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Matius 14:31). Petrus kemudian diselamatkan, dan mereka menaiki kapal. Seketika itu pula angin reda. (ay 32).

Ini kesaksian hidup Petrus dan para murid Yesus yang tidak asing lagi bagi kita. Mari kita lihat lebih dekat apa yang terjadi saat itu. Perhatikan bahwa apa yang dialami Petrus pada mulanya luar biasa. Petrus sudah mengalami keajaiban dengan berjalan di atas air. Bukankah itu sudah menjadi bukti kuasa Tuhan yang tidak terbatas? Tapi ketika rasa bimbang mulai timbul disertai rasa takut, maka ia pun mulai tenggelam. Lihatlah bahwa saat tengah mengalami Tuhan pun orang tetap saja bisa galau kalau pikirannya tidak dikendalikan dengan baik. Berawal luar biasa, tapi kemudian kebimbangan membuat iman memudar lantas membuatnya tenggelam.

Ini sebuah gambaran jelas bagaimana kebimbangan bisa menghancurkan kita. Seperti Petrus, kita pun bisa mengalami perkara-perkara besar dan ajaib dalam hidup kita, ketika kita taat pada Tuhan. Tapi lihatlah ketika kita mulai mengandalkan perasaan yang seringkali bias dan dipenuhi kebimbangan, maka kita pun akan tenggelam. Perhatikan dengan baik bahwa hal ini terjadi pada Petrus, yang notabene merupakan murid Tuhan yang tentu percaya kepadaNya. Bahkan Yesus sendiri saat menegur Petrus mengatakan : “Hai orang yang kurang percaya,” bukan “Hai orang yang tidak percaya”. Kurang percaya itu artinya sebenarnya percaya, tapi kurang besar tingkat percayanya.

Hal inilah yang sering memperlambat pertumbuhan iman kita orang percaya. Kita bukannya tidak percaya, tapi kurang. Kurang besar, kurang kokoh, kurang stabil atau labil. Naik turun, maju mundur, goyah atau goyang. Bukan saja yang tidak percaya yang gagal menerima janji Tuhan, tapi yang tanggung seperti itu pun sama. Ketahuilah bahwa iblis raja tipu muslihat sangat suka memanfaatkan kebimbangan manusia untuk masuk dan menghancurkan diri kita dari dalam. Iblis akan selalu berusaha menghabisi iman kita dengan cara menyerang kita lewat kebimbangan demi kebimbangan. Kebimbangan akan membuat kita ragu-ragu dalam melangkah, dan bisa menimbulkan ketidakpercayaan. Ketidakpercayaan ini akan mengarah pada ketidaktaatan, dan akhirnya kita pun akan tenggelam dan berakhir sia-sia.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.