Fwd: 10Mei

“Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan”
(Kis 18:9-18; Yoh 16:20-23a)
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap,
tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu
akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat
ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat
lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia
telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi
dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira
dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari
padamu. Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa
kepada-Ku” (Yoh 16:20-23a), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Rekan-rekan perempuan yang pernah mengandung serta melahirkan anak
pertama kiranya dapat dengan mudah merenungkan atau merefleksikan
bacaan hari ini. Saya berkali-kali telah mendengarkan kisah bagaimana
seorang ibu menceriterakan pengalaman pertama melahirkan anaknya.
Konon sungguh menakutkan dan penuh kekhawatiran ketika akan melahirkan
anaknya, dan pada saat sedang melahirkan pun disertai penderitaan dan
pengorbanan. Namun penderitaan dan pengorbanan tersebut hanya sesaat
saja jika dibandingkan dengan kegembiraan ketika anak lahir dengan
selamat, dan apalagi bayi yang dilahirkan sungguh sehat dan mempesona.
Yesus menggambarkan kesetiaan iman kepadaNya bagaikan pengalaman
seorang perempuan yang sedang melahirkan: “Seorang perempuan
berdukacita pada saat melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan
anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan
bahwa seorang anak manusia dilahirkan di dunia”. Yang dimaksudkan
dengan perumpamaan ini kiranya adalah bahwa keutamaan-keutamaan atau
nilai-nilai kehidupan yang menyelamatkan dan membahagiakan jiwa
manusia lahir dari penderitaan dan perjuangan sebagai konsekwensi
kesetiaan hidup beriman, pada panggilan dan tugas pengutusan. Buah Roh
seperti sabar lahir ketika orang setia menunggu, buah Roh rendah hati
lahir ketika orang diejek dan direndahkan menerima apa adanya tanpa
melawan, buah Roh saleh lahir ketika orang tekun melaksanakan tugas
meskipun untuk itu harus bekerja keras, dst.. Maka dengan ini kami
berharap kepada para orangtua untuk tidak memanjakan anak-anaknya,
melainkan didiklah untuk berani berjuang dan bekerja keras sedini
mungkin sesuai dengan kemampuan dan kemungkinan. Kepada para guru atau
pendidik di sekolah-sekolah kami harapkan mendidik dan membina peserta
didik sesuai dengan motto yang dicanangkan UNESCO dalam memasuki
millennium ketiga, yaitu: learning to be, learning to learn, learning
to do, learning to live together.
•       "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab
Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menjamah dan
menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini.” (Kis 18:9-10),
demikian firman Tuhan kepada Paulus. Pesan ‘jangan takut’ dari Tuhan
senantiasa disampaikan kepada orang-orang pilihanNya dalam rangka
mewartakan kabar baik atau firman Tuhan alias senantiasa melakukan apa
yang baik dan benar. Kami percaya di dunia ini orang baik lebih banyak
daripada orang jahat, maka janganlah takut melaksanakan tugas
pengutusan dari Tuhan apa pun, meskipun diutus ke tempat atau
pekerjaan sulit dan berat. Selama bertugas di kantor KWI sebagai
Sekretaris MNPK/Komdik KWI saya memiliki pengalaman pergi dan bertugas
sendirian ke luar negeri untuk rapat-rapat atau lokakarya, dimana
bahasa Negara yang saya tuju tak saya ketahui. Misalnya di Beirut saya
diberitahu bahwa kedatangan di bandara akan dijemput oleh sopir yang
hanya dapat berbicara dengan bahasa Arab, demikian pegawai imigrasi.
Maka saat ini kami gunakan bahasa tubuh, yaitu dengan gerakan anggota
tubuh kita. Kami berharap kepada segenap umat beriman untuk mewartakan
kabar baik atau firman Tuhan pertama-tama dan terutama dengan dan
melalui bahasa tubuh alias dalam dan melalui tindakan atau perilaku.
Dimana dimungkinkan mewartakan kabar baik atau firman Tuhan melalui
kata-kata atau omongan, hendaknya disampaikan dengan rendah hati dan
lemah lembut. Ketika anda sebagai pewarta kabar baik atau firman Tuhan
harus menghadapi aneka ejekan dan pelecehan, hendaknya disikapi dengan
rendah hati dan lemah lembut, seraya bersyukur bahwa boleh
berpartisipasi dalam penderitaan Yesus. Atau ketika menghadapi
kesulitan dan tantangan, tataplah Yesus yang tergantung di kayu salib.
“Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan
sorak-sorai! Sebab TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang
besar atas seluruh bumi.Ia menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasa
kita, suku-suku bangsa ke bawah kaki kita,Ia memilih bagi kita tanah
pusaka kita, kebanggaan Yakub yang dikasihi-Nya.” (Mzm 47:2-5)
Ign 10 Mei 2013

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.