From RHO-ers: Penundaan

From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Amsal 21:25
—————————

“Si pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja.”

Ada sebuah legenda tua dari seorang puteri yang kalah karena ia MENUNDA membuat sebuah keputusan. Menurut ceritanya, sang puteri diperbolehkan untuk berjalan-jalan di sebuah padang yang dipenuhi dengan perhiasan yang indah; dan ia diperkenankan untuk mengambil satu, tetapi hanya satu yang boleh ia simpan.

Ia diperbolehkan untuk berjalan melalui padang itu hanya untuk SEKALI saja. Dan ia hanya dapat berjalan maju dan tidak boleh mundur lagi (demikian juga dengan kehidupan).

Saat ia memulai perjalanan-nya, ia melihat berlian, rubi, permata dan safir yang bersinar di bawah sinar matahari. Ia juga melihat mutiara sebesar buah ceri. Di mana pun ia melihat, ia melihat perhiasan bersinar dengan indahnya. Namun, ia berpikir bahwa ia tidak seharusnya memilih terlalu cepat karena tentunya mereka [perhiasan tersebut] akan makin bersinar dan besar.

Tetapi, sambil ia meneruskan perjalanan, keindahan perhiasan itu semakin memudar. Mereka [perhiasan itu] juga tampak semakin mengecil. Jadi, ia menunda pilihannya. Ia mengharapkan sesuatu yang lebih besar. Setelah beberapa saat, ia sudah mendekati ujung daripada padang itu. Namun, sekarang yang tampak hanyalah kaca-kaca murahan dan tidak berharga untuk dimiliki. Jadi, ia tidak memilih satu pun. Sebelum ia mengetahuinya, sang puteri keluar dari Padang Perhiasan, dan ia belum memilih satu pun [!] Dan, saat itu semuanya sudah terlambat.

Kehidupan bisa menjadi seperti kisah legenda di atas bagi para penunda. Besok, dan besok. Namun, besok mungkin tidak akan pernah datang. Seekor burung di tangan sebenarnya lebih berharga daripada dua ekor burung di semak-semak.

Diambil dari: “Saya akan melakukannya… BESOK!”, Karya: Jerry & Kirsti Newcombe

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.