From RHO-ers: “Konek” sama TUHAN

From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Keluaran 34:29
——————————–

“Ketika Musa turun dari gunung Sinai – kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun dari gunung itu – tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN.”

Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang wajahnya seperti “bersinar”? Saya pernah, orang itu adalah seorang hamba Tuhan (Pendeta) sederhana di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Kudus nama kota itu. Pertama kali saya bertemu dengannya adalah di tahun 2002 ketika ia sedang melayani di gereja saya, di Jakarta. Penampilan-nya sederhana, rambutnya berwarna putih ke-abu-abu-an, menyiratkan usia-nya yang sudah tidak muda lagi, ditambah dengan senyum simpul-nya yang men-transfer kehangatan pada setiap orang yang melihatnya, genggaman tangan-nya mantap ketika memberikan salam kepada jemaat, dan yang paling mengesankan saya ialah: di dalam pemberitaan firman, ia sungguh-sungguh memancarkan “cahaya” kemuliaan Tuhan. Bahkan ketika ia sudah berhenti memberitakan firman, “cahaya” itu masih bersinar di wajahnya!

Saya percaya ia tidak menyadari sama sekali bahwa wajahnya memancarkan “sinar” kemuliaan Tuhan. Sama seperti Musa yang tidak mengetahui bahwa “kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN”. Di sinilah sebenarnya “kunci” jawaban mengapa ia dan Musa bisa bercahaya wajahnya; “oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN.”

Baik Pendeta ini maupun Musa, mereka adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Tinggi, mereka tidak merindukan apapun di dunia ini, selain merindukan berada di dekat Tuhan. Berada di dekat Tuhan dan Tuhan berada di dekat mereka adalah hal yang utama dalam hidup ini bagi mereka. Keberadaan mereka di dekat Tuhan dan keberadaan Tuhan di dekat mereka, seolah-olah membuat mereka “kenyang” dengan hal-hal yang jasmani dan fana. Alkitab mencatat, “Musa ada di sana [di gunung Sinai] bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman [the Ten Commandments].” (Keluaran 34:28)

Luar biasa! 40 hari dan 40 malam tanpa roti untuk dimakan dan tanpa air untuk diminum, hanya ia dan Tuhan – alone with God! – di gunung itu menikmati kebersamaan, dan Musa kenyang! Sungguh indah ketika kita bisa memiliki bobot relasi yang sedemikian dalam dan intimnya dengan Tuhan. Daud berkata, “Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu. Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu. Sebab pada-Mu ada sumber hayat [fountain of life], di dalam terang-Mu kami melihat terang.” (Mazmur 36:8-10)

Mari kenyangkan jiwamu, datanglah mendekat pada-Nya, jalinlah relasi dengan-Nya, dan nikmatilah limpah anugerah-Nya bagimu dan bagiku! Bagaimana caranya? Sebuah lirik lagu Sekolah Minggu menjawabnya: “Baca kitab Suci, doa tiap hari, kalau mau tumbuh”. Amin.

Westminster Larger Catechism (Katekismus Besar Westminster)
Q. 1. What is the chief and highest end of man?
(P.1. Apakah pencapaian terpuncak dan terutama dari seorang manusia?)

A. Man’s chief and highest end is to glorify God, and fully to
enjoy him forever.
(J. Pencapaian terutama dan terpuncak manusia adalah untuk memuliakan Tuhan, dan sepenuh-penuhnya menikmati Tuhan selama-lamanya.)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.