Frans Seda Award 2014 Gagas Seminar tentang Pluralisme di Atma Jaya Jakarta

AULA Yustinus lantai 15 siang, Selasa (3/6) lalu dipenuhi peserta seminar dengan berbagai latar belakang: mahasiswa, guru baik sekolah menengah maupun universitas, wakil dari organisasi kemasyarakatan, dan pejabat kampus. Seminar bertajuk “Pluralisme Masyarakat Menuju Indonesia Satu” ini diselenggarakan dalam rangkaian Frans Seda Award 2014.

Hadir tiga pembicara dari tiga bidang berbeda: Anies Bawesdan dari dunia pendidikan yang sekarang juga aktif di dunia politik, Slamet Effendy Yusuf dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dan Romo Benny Susetyo Pr, mantan Sekretaris Eksekutif Komisi HAK (Hubungan Agama dan Kepercayaan) KWI yang sekarang mulai aktif di LSM.

Moderator Kristiawan dari Yayasan Tifa membuka seminar dengan menyinggung kasus kekerasan yang sekarang marak diberitakan yaitu penganiayaan terhadap umat yang sedang doa rosario dan latihan koor di Sleman.

Slamet Effendy Yusuf menyatakan peristiwa tersebut merupakan penyimpangan, bukan penerapan ajaran agama Islam karena Islam mengakui keberagaman masyarakat. “Keberagamanan ini kehendak Tuhan,” jelasnya, “para penyerang itu pasti bukan orang NU karena Nadhiyin tidak pakai jubah seperti mereka,” imbuhnya.

Sedangkan Romo Benny Susetyo menyoroti keteladanan yang diberikan tokoh Frans Seda.
“Frans Seda mengajarkan bahwa kemanusiaan dan keadilan menjadi dasar dari pluralisme. Keindonesian dijalankan dengan totalitas,” paparnya.

Atma Jaya seminar pluralisme dalam rangka Frans Seda Award 2014

Frans Seda Award 2014: Seminar tentang pluralisme digagas panitia Frans Seda Award 2014 di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta, 3 Juni 2014. (Sesawi.Net/Royani Lim)

Selain itu, Mgr. Soegijapranata juga menyatakan bahwa multi kultural perlu menjadi dasar pendidikan dalam keluarga. “Kalau pemimpin tidak punya habitus tersebut, maka multi kultural hanyalah omong kosong,” tegas Romo Benny.

Anies Bawesdan mengulas tentang keteladanan pemimpin yang menjadi Indonesia seutuhnya, tanpa kehilangan identitas budayanya. Pendidikan diyakininya sebagai faktor penting dalam membentuk sikap penghargaan terhadap pluralisme.

“Tantangan lain yang kita hadapi sekarang adalah penurunan kedisiplinan. Orang yang harusnya taat kepada hukum berubah menjadi taat kepada petugas hukum. Melanggar aturan dianggap normal,” papar Anies.

“Indonesia dirancang untuk melindungi hidup warga negara, bukan minoritas ataupun mayoritas. Intoleransi wajib dihukum, bukan sekedar boleh dihukum seperti sekarang ini,” demikian kata penggagas program Indonesia Mengajar ini.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.