Forum Pertemuan Kateketik Antar Keuskupan se-Indonesia X di Bandung: Berangkat dari Praksis dan Pengalaman (2)

HADIR sebagai narasumber dalam pertemuan ini adalah Idi Subandy Ibrahim.

Bapak Idi Subandy Ibrahim memaparkan bahwa sekarang ini kita sedang berada di tengah revolusi teknologi komunikasi dan informasi yang sedang mentransformasikan tatanan sosial dan budaya di seluruh dunia. Teknologi-teknologi baru pun berkombinasi dan berkonvergensi untuk menciptakan sistem media yang mampu menjangkau jarak-jarak yang jauh tetapi juga menyediakan sejumlah besar peluang untuk tujuan-tujuan yang sangat spesifik.

Inilah yang disebut Pak Idi sebagi situasi budaya multimedia: tempat menyatunya layanan telekomunikasi, informasi dan audiovisual. Dalam ruang keluarga dan lingkungan budaya media seperti ini, sebuah generasi sedang lahir: ‘Generasi sesak media’. Generasi ini berciri interaktif dan egaliter namun Kebutuhan untuk diakui (to be recognized).

Tentang penggunaan teknologi dalam hidup menggereja, Pak Idi mengatakan: bagi mereka yang optimis, teknologi media baru seperti internet dilihat sebagai peluang baru bagi terbukanya partisipasi demokrasi dan komunitas, kreativitas, ekspresi diri dan ruang bermain. Namun bagi yang pesimis, mereka mengeluhkan mengenai matinya masa kanak-kanak, kepolosan dan redupnya nilai-nilai, budaya, dan otoritas tradisional.

Meskipun tetap mengkritisi budaya baru di era digital sekarang ini,

Pak Idi juga melihat peluang kuat penggunaan media internet demi tujuan keagamaan, sebab dengan internet orang bisa: Membaca tentang agama; Berbicara dengan orang lain tentang agama; men-download dan up-load teks-teks dan dokumen-dokumen keagamaan; Membeli buku dan artefak keagamaan; Melihat imej pemimpin agama mereka, menonton video-klip dan mendengar musik reliigus, khotbah, doa, terstimoni dan wacana keagamaan; Melakukan ‘tur virtual’ ke galeri-galeri seni religius atau interior bangunan-bangunan suci; Menelurusi naskah Kitab Suci dengan menggunakan indeks elektronik; Menemukan pusat-pusat religius dan guru-guru spiritual; Meminta doa-doa perantara dan petuah-petuah dari otorias religius; Berpartisipasi dalam ritual, meditasi dan ziarah virtual dan masih banyak lagi.

Disimpulkan bahwa berkatekese di era digital sekarang ini perlu memperhatikan 3 hal:

  • Melibatkan keluarga sebagai basis hidup setiap manusia;
  • Mengakui keberadaan/eksistensi anak muda yang punya kecerdasan digital;
  • Menampilkan figur teladan bagi manusia di era digital. (Bersambung)

Photo credit: Dokumentasi Panitia PKKI ke-10 (Teresia Lumi)

Artikel terkait:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.