Forum Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se Indonesia ke-X di Bandung: Internet dalam Perspektif Paus (3)

PKKI-X sudah menyelesaikan dinamika pertemuan hari ke-3. Saya sampaikan reportase dan catatan saya atas dinamika dari sesi ke sesi di hari ke-3 PKKI-X berikut ini. 

Audio-visual untuk pewartaan

PKKI hari ke-3 dimulai dengan paparan para panelis tentang penggunaan sarana audio-visual untuk katekese oleh Romo YI. Iswarahadi SJ. Lalu, Romo C. Putranta SJ  melanjutkannya dengan memaparkan ajaran Paus Yohanes Paulus II serta Paus Benediktus XVI tentang pemakaian sarana komunikasi sosial untuk tugas perutusan Gereja. 

Berikut catatan saya atas paparan para panelis. Catatan ini tidak sesuai urutan paparan namun merupakan rangkaian gagasan yang saya tangkap. Rangkuman saya atas paparan mereka. 

Romo  C. Putranto mengawali paparannya dengan merujuk pada pengalaman Paulus yang bermimpi ada orang Macedonia melambai-lambai minta tolong. Mimpi itu menggerakkan Paulus yang semula mewarta di daerah Palestina dan Asia kecil saja untuk berani menyeberang mewarta di daerah Yunani dan Eropa. Romo Putranto menyebut langkah kecil ini ternyata merupakan langkah besar dalam perkembangan Kekristenan selanjutnya. 

Merujuk pengalaman Paulus, Romo C. Putranto menyebut era digital, terkhusus dunia internet, sebagai benua baru. Ia meyakinkan bahwa kita harus berani menyeberang menuju benua baru tersebut. Keyakinan dan keberanian itu, menurut Romo Putranto, didorong oleh ajaran Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI. Dalam keyakinan Rm. Putranto, kedua Paus yang sudah mengalami zaman internet itu seakan mendorong: jangan takut, masukilah benua baru itu. 

40 tahun setelah KV II, Gereja mengajak umat beriman untuk tidak takut memanfaatkan internet: Tinggal di belakang akibat ketakutan akan teknologi atau oleh suatu sebab lain merupakan sikap yang tidak dapat diterima, mengingat begitu banyaknya kemungkinan positif yang terkandung dalam internet (2002, Pernyataan Pontifical Commision for Social Communications). 

Memasuki benua baru internet, bukan berarti sekedar menggunakan instrumen-instrumen digital, namun juga merasuki budaya baru di benua baru tersebut. 

Romo Putranto menyebut adanya dua cara pandang Gereja yang saling melengkapi terhadap alat-alat komunikasi modern.

  • Cara pandang pertama adalah cara pandang instrumentalisasi, yaitu cara pandang yang melihat media komunikasi modern sebagai sarana penting untuk melaksanakan tugas misioner Gereja, yaitu mewartakan Injil.
  • Cara pandangan kedua adalah cara pandang perjumpaan, yaitu cara pandang yang melihat media komunikasi modern sebagai aeropagus baru zaman ini, di mana berlangsung secara nyata evangelisasi budaya-budaya baru. Media komunikasi modern menghasilkan budaya baru, dan ke situlah Injil harus dipertemukan. 

Kedua cara pandang yang saling melengkapi tersebut mengajak Umat Beriman untuk ikut aktif bukan hanya menggunakan media komunikasi digital dan internet, namun sekaligus juga berdialog dengannya yaitu dengan aktif mengisinya. 

Untuk itu, sebagaimana dituturkan oleh Romo Iswarahadi, kita harus menggali, mengenali dan memahami bahasa-bahasa baru dan cara berkomunikasi baru di benua baru era digital sekarang ini. Menurut Rm. Iswarahadi, permasalahan pokok pewartaan di zaman ini bukanlah alat komunikasi apa yang harus kita pakai  melainkan cara komunikasi macam apakah yang perlu kita pakai agar pewartaan iman mengena bagi umat yang hidup di zaman digital itu.  (Bersambung)

Photo credit: Dok. Panitia (Teresia Lumi)

Artikel terkait:

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.