Formalitas dan Basa-basi itu Mematikan, Mrk 7: 1-13

< ![endif]-->

“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.  Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”(Mrk.15:6-8) 

BANYAK orang pada zaman sekarang lebih melihat Gereja bukan sebagai persaudaraan dalam cintakasih atau persaudaraan dalam iman, tetapi sebagai organisasi (kumpulan), sebagai lembaga rohani yang memiliki kepemimpinan dan banyak aturan-aturan. Akibatnya, peraturan dan tatalahir dipandang lebih penting daripada hidup rohani.

Kehidupan beriman dan hidup Gereja sering kali dinilai dari tata-lahir atau segi yang kelihatan saja. Hubungan pribadi dengan Tuhan kerapkali kurang mendapat perhatian. Orang merasa kalau sudah melakukan doa bersama secara rutin dalam lingkungan sudah merasa mantap dan beres.

Padahal dari pengalaman, meskipun umat sudah menjalankan ibadat secara rutin, toh banyak Umat masih merasakan bahwa hidup imannya masih kering. Mengapa? Karena meskipun umat telah berdoa secara lahiriah, tetapi kalau tidak disertai dengan iman dan motivasi yang tulus dan benar, sebenarnya belum berjumpa dengan Tuhan.

Mengikuti misa di Taom, Siem Reap, Kamboja

Alasan praktis yang kerap kali kurang disadari mengapa umat melaksanakan ibadat, doa dan Ekaristi di lingkungan atau di Gereja pada hari Minggu, yaitu karena sudah dijadwalkan, sudah jadi aturan, diperintahkan oleh pamong lingkungan atau karena ada undangan dari keluarga dengan ujub tertentu.

Dengan demikian perjumpaan dengan Tuhan sulit terjadi dalam hidup umat, karena apa yang dilaksanakan dalam ibadat belum dihayati: bernyanyi dan berdoa kurang dihayati apa maknanya. Banyak kali pertemuan-pertemuan membahas perikop Kitab Suci dan nyanyian rohani serta renungan kerap kali hanya dipandang sebagai acara yang harus terlaksana, meskipun tidak dipahamai maknanya. Lebih berbahaya lagi kalau hidup beriman lalu menjadi agama kolektif, agama satu lingkungan atau sekampung, Karena agama kolektif lebih ditentukan kebiasaan atau tradisi-tradisi atau adat tatacara yang sudah mapan, atau perintah-perintah dari pimpinan, tanpa mau memahami ajaran yang benar.

Ciri-ciri ibadat yang tidak basa-basi dan tidak formalistis, yaitu kalau orang mulai menghayati arti ibadat yang dilaksanakan, apa yang menjadi pesan Tuhan yang disampaikan lewat Kitab Suci. Akibatnya, Roh Tuhan sedikit demi sedikit pasti akan meresapi hati dan jiwa umat yang menjalankan ibadat. Dan ciri penting dari cara hidup beriman yang benar, yaitu kalau umat semakin menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup sehari-hari. Kehadiran Tuhan yang dialami ini akan mengubah hidup kita, membuka wawasan kita dan semakin membuahkan cintakasih persaudaraan.

Photo credit: Misa bersama umat katolik Stasi Tayom, Siem Reap, Kamboja dengan Romo Stephanus “Panus” Winarta SJ (Mathias Hariyadi)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.