For the Love of Money (1)

Ayat bacaan: 1 Timotius 6:10
====================
“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

Masih ingat dengan reality show The Apprentice? Theme song dari acara ini adalah sebuah lagu berjudul “For the Love of Money” yang dinyanyikan oleh The O’Jays dan memuncaki tangga lagu populer di tahun 1973. Lagu ini menceritakan bagaimana sebagian orang sanggup melakukan banyak kejahatan dan tega merugikan orang lain atas dasar cinta mereka yang begitu besar terhadap uang seperti mencuri dari orang tua, saudara, menjual diri dan berbagai tindak kriminal lainnya. Cinta uang bisa membuat orang lupa diri sendiri dan lupa orang lain. Lagu ini terinspirasi dari sebuah ayat yang rasanya tidak lagi asing bagi kita yaitu dari 1 Timotius 6:10 yang berbunyi “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

Sebagian orang mengira bahwa Tuhan tidak menginginkan anak-anaknya boleh kaya alias harus hidup miskin. Tapi tentu saja bukan itu yang Tuhan mau. Dia ingin anak-anakNya bahkan hidup berkelimpahan. Apa yang penting kita perhatikan adalah dimana hati kita berada, apakah mengarah kepada Tuhan atau berpusat pada harta. Mengapa? “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Lukas 12:34). Selain itu Yesus juga mengingatkan bahwa tidak seorangpun bisa mengabdi kepada dua tuan. Jadi kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mengabdi kepada Tuhan tapi di sisi lain kita pun menghambakan diri pada mamon atau dewa uang, seperti yang dicatat dalam Matius 6:24 dan Lukas 16:13.

Kalau kita hubungkan dengan ayat bacaan kita hari ini, yang menjadi sumber permasalahannya bukanlah uang, tetapi cinta uang. ‘Money’ is not the root of all evils, but ‘the love of money’ is. Banyak orang yang menyangka bahwa uang merupakan sumber kebahagiaan. Mereka terus memburu uang, mengabdikan diri atau menghamba kepada uang, menggantungkan segenap hidupnya beserta semua tujuannya untuk memiliki harta sebanyak-banyaknya. Ada teman saya yang bercerita bahwa kekasihnya diperlakukan buruk oleh sang ibu karena sedang tidak mempunyai mobil. Seorang lainnya menceritakan bahwa saat ia mengutarakan kesiapannya untuk menikah, si ibu dengan dingin berkata “kamu sudah siap menderita kalau memilih dia?” Yang satu orang percaya, yang satu tidak, tapi lihatlah bahwa perilaku yang berakar pada kekayaan ada pada keduanya. Kedua ibu ini menganggap bahwa anaknya akan mendapat jaminan bahagia kalau punya suami kaya raya, tanpa melihat hati dan kegigihan dari calon pasangan anaknya. Mengapa kedua ibu ini tidak menilai calon menantunya dari hati, keseriusan dan kerajinan serta kejujuran mereka dalam bekerja? Karena mereka meletakkan hati dan hidup mereka pada uang. Bahkan ada ibu yang tega ‘menjual’ anaknya kepada pria yang tidak baik karena ia melihat kekayaan hartanya. All for the love of money.

Tidaklah sulit sebenarnya untuk melihat betapa benarnya ayat bacaan kita hari ini. Kalau kita mulai baca dari ayat sebelumnya, bunyinya seperti ini: “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.  Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Timotius 6:9-10). Kita melihat kejatuhan tokoh-tokoh dunia, selebritis bahkan hamba Tuhan karena tidak tahan melihat silaunya harta. Para pemimpin yang terkena kasus korupsi di negara kita saja sudah begitu banyak yang bisa dijadikan contoh. Tadinya mereka punya karir gemilang, punya kemampuan baik untuk berperan besar bagi bangsa, tetapi mereka harus menanggung konsekuensi berat dengan menghabiskan sebagian besar dari umurnya di balik tembok penjara. Orang-orang yang tadinya tampak gagah atau anggun sekarang terlihat terkulai lemas, tertunduk malu bahkan menangis tersedu-sedu karena keliru menyikapi hidup. Ada pula yang hatinya sudah terlanjur kena kontaminasi sangat berat sehingga masih bisa cengengesan dan tampil bak superstar meski sudah menjadi tersangka bahkan terpidana dalam kasus penipuan yang merugikan rakyat. Hanya karena cinta uang, memikirkan kepentingan sesaat untuk dunia yang fana lantas rela mengorbankan keselamatan yang kekal. Kalaupun dengan menghalalkan segala cara kita bisa kaya-raya, apakah itu berguna di akhirat? Apakah uang itu bisa membeli keadilan dari Tuhan? Semua itu pada akhirnya akan sia-sia, apabila kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan dengan semua berkat yang Tuhan titipkan kepada kita.

Berpikir secara duniawi akan membuat kita terus mencari pemenuhan kepuasan hanya untuk dunia saja. Padahal apalah artinya 70-80 tahun, itupun kalau beruntung bisa punya umur panjang, dibandingkan sesuatu yang kekal yang pasti akan kita hadapi pada fase selanjutnya? Kalau cinta uang merupakan akar dari segala kejahatan, the root of all evils, dan bisa membuat kita kehilangan keselamatan dan menyiksa diri sendiri dengan berbagai duka bahkan sejak masih hidup di dunia, mengapa kita masih saja keliru dalam mencari kebahagiaan? Sumber permasalahannya secara umum terletak pada kemalasan atau keengganan kita untuk mengerti firman Tuhan dan pada saat yang sama terus terbuai dengan segala bentuk paham-paham atau cara berpikir dunia yang terus membombardir kita dari segala arah.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.