Fokus yang Keliru

Ayat bacaan: Matius 16:8
===================
“Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Hai orang-orang yang kurang percaya!”

Tahun yang baru saja kita lalui bukanlah tahun yang gampang. Selain masalah ekonomi yang secara global dirasakan banyak negara, kondisi politik, sosial, keamanan dan sebagainya juga belumlah sesuai seperti yang kita harapkan. Jika kita mengacu kepada situasi saat ini, tentu akan mudah bagi kita untuk cemas, kuatir atau bahkan takut. Takut adalah sesuatu yang manusiawi? Mungkin benar. Ada kalanya rasa takut akan sesuatu bisa positif dalam artian membuat kita lebih hati-hati dan lebih giat berusaha. Tetapi rasa takut terus menerus secara berlebihan sama sekali tidak produktif dan hanya akan menambah masalah saja. Sayangnya ada banyak orang yang lebih suka memanjakan rasa takutnya, mempergunakan energi yang ada untuk merasa takut ketimbang memakainya untuk mencari solusi dan memperkuat hubungan dengan Tuhan. Kita terlalu sibuk melihat masalah dan lupa bahwa sepanjang hidup kita, campur tangan Tuhan ternyata sudah berulang kali melepaskan kita dari masalah tersebut. Kalau dulu Tuhan bisa, kenapa sekarang tidak? Kita melupakan itu. Kepanikan membuat iman kita justru melemah. Padahal sebagian besar kekuatiran biasanya tidak terbukti atau terjadi. Kalau itu kita biarkan, kita sendiri yang rugi. Bukan cuma kita tapi orang lain pun bisa terkena dampaknya. Alih-alih menjadi berkat, jangan-jangan kita malah jadi batu sandungan.

Masalah mudah takut lantas lupa akan pertolongan Tuhan di masa lalu agaknya klasik alias sudah terjadi sejak dahulu, tidak terkecuali para murid Yesus. Padahal kalau dipikir-pikir, apa yang harus mereka takutkan kalau Yesus ada tepat disamping mereka secara fisik? Tapi tetap saja mereka cepat merasa cemas. Mereka sudah begitu banyak menyaksikan mukjizat yang dilakukan Yesus. Misalnya, mereka pernah menyaksikan bagaimana Yesus mampu membuat 5 roti dan 2 ikan menjadi cukup untuk memberi makan 5000 orang laki-laki, belum termasuk wanita dan anak-anak. Tapi mereka masih juga memperbincangkan soal kelupaan mereka membawa roti ketika menyeberangi danau.

Kisah ini bisa dilihat dalam perikop pembuka di Matius 16. Ketika itu Yesus mengingatkan mereka agar waspada terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Para murid bereaksi seperti ini. “Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak membawa roti.” (Matius 16:7). Lihatlah, belum apa-apa mereka sudah menunjukkan kecemasannya dengan mengaitkan ucapan Yesus dengan kealpaan mereka membawa roti. Maka Yesus pun menegur mereka. “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Hai orang-orang yang kurang percaya! Belum juga kamu mengerti? Tidak kamu ingat lagi akan lima roti untuk lima ribu orang itu dan berapa bakul roti kamu kumpulkan kemudian?” (ay :8-9).

Mari kita perhatikan perkataan Yesus “Hai orang-orang yang kurang percaya!” Kalimat yang sama dikatakan Yesus ketika angin ribut melanda perahu yang sedang Dia tumpangi bersama murid-muridNya. Para murid ketakutan melihat angin ribut dan gelombang badai. Dan Yesus menegur dengan kalimat yang sama: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?”(Matius 8:26). Berulang kali Yesus mengingatkan, berulang kali pula para murid ketakutan. Bukankah hal yang sama masih saja terjadi pada kita hari ini, masih sering diliputi ketakutan meski sudah menerima Yesus sebagai Juru Selamat? Coba bayangkan jika kita ada di pihak Yesus, tidakkah itu mengecewakan dan mendukakan hatiNya? Kita mengaku percaya, tetapi iman kita tidak cukup kuat untuk benar-benar percaya secara nyata. Kita mengaku punya Yesus, tapi kita terus saja dibelenggu ketakutan. Murid-murid Yesus seperti itu, kita pun sama. Meski kita sudah berulang kali menyaksikan kebaikan Tuhan melepaskan kita dari berbagai masalah, tetap saja kita takut dan takut lagi dalam menatap hidup. Itu tidak boleh kita biarkan berlarut-larut.

Benar, kita tidak boleh terbelenggu dengan masa lalu dan terus menatap ke depan. Tapi kita harus bisa belajar dari pengalaman-pengalaman di masa lalu. Termasuk pula didalamnya untuk jangan melupakan segala berkat dan mukjizat Tuhan yang sudah pernah Dia lakukan dalam sejarah panjang manusia, bahkan dalam kehidupan kita masing-masing atau orang-orang yang dekat dengan kita. Kalau Tuhan mampu melakukan itu di masa lalu, sekarang pun Dia sanggup, di masa depan pun Dia tetap sanggup. Tuhan pasti tahu kesulitan kita saat ini dan perjalanan menuju ke depan. Dia ingin agar kita tahu betul bahwa penyertaanNya lebih dari sanggup untuk mengangkat kita lebih tinggi dari persoalan dan krisis yang terjadi nyata saat ini. Bahkan Tuhan sudah mengatakan bahwa di dalam kelemahan kita justru kuasaNya menjadi sempurna. (2 Korintus 12:9). Dan itu seharusnya bisa menyadarkan kita betapa cukupnya karunia Tuhan bagi kita. Kalau mau lihat lebih banyak bukti, bacalah Alkitab anda. Berbagai kisah dalam Alkitab, seperti kisah bangsa Israel di masa Musa adalah bukti kuat akan kuasa Tuhan. Berbagai kesaksian yang dialami banyak orang hingga hari ini pun bisa menjadi bukti nyata bahwa Tuhan masih terus bekerja hingga kini.

Tuhan Yesus menegur para murid yang malah mengarahkan pandangan kepada tidak adanya roti lantas melupakan keberadaanNya. Ada Aku disini, kok kamu malah sibuk tentang tidak ada roti? Bukannya mendengar perkataanKu tapi malah melihat masalah. Seperti itu kira-kira kata Yesus. Mungkin memang sudah menjadi sifat dasar manusia untuk mudah cemas, tapi justru karena itulah baik bagi kita untuk mengingatkan diri sendiri tentang segala sesuatu yang pernah dibuat Tuhan di waktu lalu. Kita harus tetap percaya dengan iman yang teguh, terus bersyukur dan memuliakan Tuhan, bertekun dalam doa, rajin membaca, merenungi dan melakukan firman Tuhan, sambil terus melakukan pekerjaan dan tanggung jawab kita dengan sebaik mungkin. Percayalah, Tuhan tidak akan membiarkan satu pun anak-anakNya terlantar. Jika ada diantara anda yang diliputi kekuatiran hari ini, serahkanlah semuanya pada Tuhan dan pegang janjiNya. “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). Mumpung masih di bulan pertama tahun yang baru, mari kita isi tahun ini dengan kepercayaan penuh kepadaNya. Hari ini juga, marilah kita belajar dari bukti penyertaan Tuhan di masa lalu agar kita kuat melangkah ke depan tanpa rasa takut dan gentar.

“Jangan takut, percaya saja!” (Markus 5:36)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.