Financial Planning: Jangan Terlena Ambisi Ingin Kaya Mendadak (2)

Yanto Wibisono Gerakan Ayo Sekolah 2PADA bagian lain, Rosina Simon juga memberi perhatian besar atas apa yang sekarang ini menjadi ‘penyakit sosial’ orang Indonesia yakni ambisi ingin kaya mendadak. Ia justru mempertanyakan, apakah kaya mendadak itu mungkin? Tentu saja ada pengecualian, misalnya, nembus undian berhadiah yang tak terduga.

 

Namun, umumnya orang terbius oleh bujukan teman atau relasi yang menawarkan program-progam “bisa kaya mendadak” melalui mekanisme investasi. Menurut Rosina yang sudah malang-melintang di dunia perbankan sekian tahun lamanya, justru segala tawaran dengan aneka jurus bisa kaya mendadak itu harus dicurigai.

 

Cukup dengan satu pertanyaan: apa benar demikian? “Semakin tinggi tawaran keuntungannya, maka juga akan semakin tinggi pula risiko kehilangannya,” demikian Rosina Simon.

 

Yang paling penting dalam hidup ini, kata dia selanjutnya, adalah bisa disiplin diri dengan ‘bujet’ financial yang dimilikinya. “Kalau pos pengeluaran sudah habis, jangan sesekali membongkar pos tabungan,” tandasnya.

 

Berikutnya dia lalu membeberkan semacam kiat pribadi untuk berani mengatakan “tidak” kepada diri sendiri dalam hal-hal berikut ini:

·         Jajan atau makan di luar (restoran, food court)

·         Pengeluaran ekstra untuk membiayai hobi (main golf, koleksi sepatu atau tas)

·         Pesta ulang tahun keluarga (anak, suami, istri)

·         Liburan luar kota atau bahkan ke luar negeri

·         Biaya perawatan diri yang sifatnya kosmetika (pedicure, facial, cream bath)

·         Hiburan visual (TV kabel)

 

Semua itu masuk dalam kategori “bisa ditunda” bahkan tak perlu “dibeli”.  Hidup  tetap bisa bisa berlangsung tanpa harus terlebih dahulu memenuhi kebutuhan sekunder tersebut.

Sementara yang masuk dalam kategori “tak bisa ditunda lagi” adalah sebagai berikut:

·         Makan-minum sehari-hari

·         Biaya pendidikan anak (bila sudah berkeluarga dan punya keturunan)

·         PPh

·         Bayar listrik dan air juga telepon

·         Bayar cicilan KPR

·         Bayar premi asuransi jiwa dan kesehatan

 

Menjalani hidup sosial, demikian keyakinan Rosina Simon, akhirnya juga akan membawa kita pada konsep mengenai hidup bahagia itu sendiri. Banyak orang sering dengan gampang ‘menyamakan’ hidup bahagia sama dengan hidup serba berkecukupan dan bahkan melimpah.

 

Padahal belum tentu juga.  Ada aspek lain yang perlu dikembangkan yakni semangat berbagi.

 

Yang perlu dikembangkan adalah bagaimana kita semua bisa memiliki ‘ruang hati’ di dalam diri masing-masing untuk bisa berbicara tentang the gift of sharing. “Dan itu bisa saja dalam bentuk uang, waktu, sumbangan keahlian, bakat, atau senyuman semata,” tambah dia.

Yanto Wibisono Gerakan Ayo Sekolah 

Jadi, mari sekarang latihan memulai hari ini dengan sebuah senyuman untuk orang lain. “Itu karena simply daily acts –seperti senyuman—can make a big difference in life,” tandasnya.

 

Sebelumnya tampillah  Nixon J. Silfanus, pendiri IndoPremier Securities. Berikutnya adalah Yanto Wibisono, Managing Director PT Marein Tbk dan co-founder Gerakan Ayo Sekolah.

 

Yang menarik dari paparan Yanto Wibisono adalah bagaimana dia menjalani jalan panjang hingga akhirnya semua mimpinya terwujudkan dan sampai pada tahapan financial freedom.

Bahkan saat masih menjadi mahasiswa pun, Yanto sudah berani “menggambar” peta masa depannya lengkap dengan rentetan kalkulasi finansialnya.

 

Salah satu cara yang dia tempuh adalah membagi porsi kue penghasilannya dengan criteria sebagai berikut: 40 % untuk kebutuhan primer, 10 % untuk kebutuhan sekunder dan optional, sementara 50 % dipakai untuk investasi. (Selesai)

 

 Tautan:  Financial Planning: Jangan Punya Kartu Kredit Kalau tak Mampu Bayar Tunai (1)

Loading...

Published by Renungan Iman Katolik

Merenungkan sabda Tuhan di saat hening di pagi hari akan menjaga hati dan pikiran kita dari kuasa roh jahat. Berkah Dalem...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.