Filosofi Mrapen Grobogan

Perapian Mrapen by Solo Pos

DI Jawa Tengah, kita mengenal Kabupaten Grobogan, satu daerah yang terberkati karena memiliki pesona keajaiban alam. Kita mengenal Mrapen dan Bledug Kuwu.

Nama Mrapen sendiri merupakan pertanda bahwa di situ ada tempat perapian. Ini dikatakan pertanda alam yang menakjubkan karena perapian itu tidak pernah padam. Ia bersumber dari sumber api di kedalaman yang tak pernah habis. Siang malam menyala terus bahkan dalam cuaca buruk sekalipun. Ia penghangat di cuaca dingin; terang di malam gelap. Tak heran api PON dan api perayaan Waisak Umat Budhha diusung dari Api Mrapen ini.

Seperti kebanyakan tempat yang “ajaib”, muncullah legenda yang kadang lebih memikat ketimbang penjelasan rasional. Tempat itu, seturut salah satu legenda, muncul sekitar runtuhnya Kerajaan Majapahit dan menjelang berdirinya Kasultanan Demak Bintoro.

Sunan Kalijaga mendapat tugas mengurusi pemindahan benda-benda pusaka Prabu Udara atau Prabu Brawijaya VII yang telah direbut Raden Patah. Dalam perjalanan ke Demak itulah, rombongan Sunan Kalijaga dijegal rombongan Bango Mampang, kepala perampok. Dalam pertarungan yang sublim, Sang Bango Mampang menyerah tanpa daya pada Sunan Kalijaga.

Selanjutnya kelompok Bango Mampanglah yang menangani pemindahan benda pusaka itu. Namun di sekitar Pegunungan Kendeng bagian barat; perjalanan mulai tersendat; semangat juang pasukan runtuh dan anggota pasukan pun mulai berjatuhan.

Menyadari situasi genting itu, Sunan Kalijaga mengheningkan cipta. Ia harus bisa menguasai diri dalam keadaan apapun. Harmoni spiritual juga dijaga agar bisa menguasai materi. Keseimbangan fisik dan spiritualnya harus menjamin kesejahteraan pasukan itu. Maka ia mengucapkan takbir tiga kali dan menancapkan tongkat ke tanah. Dari lobang bekas terancapnya tongkat itu, muncullah api yang menyembur dan kini terkenal dengan api abadi Mrapen.

Demokrasi tak pernah jatuh dari langit
Sunan Kalijaga adalah pemimpin dengan visi ke depan membawa apa yang berharga untuk membangun Kerajaan Demak. Kerajaan yang besar, merdeka dan sejahtera. Tatkala berhadapan dengan tantangan dari luar dan keputusasaan dari dalam, ia dengan berani beradaptasi merangkul dunia yang bergolak (confidently adapted to embrace a changing world).

Dengan tongkatnya, ia menghadirkan api. Kenapa tongkat? Kenapa api? Untuk mengesankan pengikutnya? Untuk menakuti Bango Mampang?

Di banyak kepercayaan, api dan cahaya adalah lambang kehadiran Ilahi. Untuk membangun bangsa baru, orang memerlukan energi ilahi yang memampukan bangsa itu menjadi cahaya bagi bangsa lainnya. Inilah salah satu pusaka yang diperlukan. Bangsa kita pun percaya akan peran Tuhan yang selalu menopang sebagaimana terumus dalam Pancasila.

Api bukanlah objek yang bisa dipegang. Api merupakan kemampuan untuk membakar, membebaskan dan mentransformasi. Inilah spirit gladi diri. Kita percaya Tuhan namun tak semua urusan manusia harus mengikutsertakan yang kasat mata. Kita toh tak bisa selalu lari pada Tuhan tanpa menggembleng kemampuan kita.

Manusia memiliki otonomi dalam tata kehidupan.

Banyak soal cukup disinari dengan otak yang sehat dan kemampuan dialog yang bersahaja. Manusia memiliki kemampuan yang tak terbatas dalam dirinya walau sering terjadi orang tidak percaya pada dirinya sendiri. Orang tidak percaya bahwa tubuh dan raga ini mampu melakukan keajaiban di luar yang dipikirkannya sendiri.

Kemakmuran tidak jatuh dari langit atau dihadiahkan sebagai barang gratis. Untuk membangun negeri makmur, kita tidak cukup mengandalkan pemindahan barang-barang, impor dari negeri lain. Apa yang baik dari negeri lain entah itu barang, ide, konsep, sistem tidak bisa begitu saja diadopsi sebagai pola negara baru.

Kemakmuran adalah usaha keras, keberanian menghadapi susah derita serta perjuangan setiap insannya. Kemakmuran tak hanya bergantung pada pemimpinnya. Apalagi pemimpin yang berambisi merampok. Ia harus dijaga. Sikap-sikapnya sebagai pengemban kuajiban harus dituangkan dalam undang-undang yang bersih dan murni dari ambisi pribadi. Hanya bangsa yang berani menggembleng diri yang mampu mencapai kemenangan besar. Mukjijat zaman ini menyertakan juga gladi diri, keberanian, usaha, stamina, taktik dan keahlian.

Membangun negeri baru memerlukan prasyarat kecerdasan. Kebodohan, kesempitan pikir memacu orang pada sikap hantam kromo, mental instan sikap sok kuasa, gengsi kumalungkung, adigang adigung adiguna. Karena kurangnya perpektif orang lari kepada kekerasan. Kekerasan adalah sebentuk kebodohan. Kecerdasan itu api dan perlu dicapai dengan semangat yang berapi-api.

Para founding fathers kita memahami bahwa negara yang demokratis bukanlah suatu yang sekali jadi. Kita pernah mengalami kerajaan-kerajaan lokal, pemerintahan kolonial Belanda dan penjajahan Jepang. Pada awal negara merdeka, kita pernah mengalami demokrasi terpimpin, model pemerintahan di bawah komando serta demokrasi Pancasila. Memang tidak mudah mengadopsi sistem demokrasi untuk negara yang berpenduduk 240 juta, negeri majemuk dan kepulauan seperti Indonesia ini. Namun pendiri bangsa ini berfikir agar jangan sampai negara ini berdasarkan pemerintahan tangan besi dan suka merampok ala Bango Mampang.

Treasure hunter
Tongkat adalah simbol talenta, martabat dan kemampuan untuk memimpin. Seorang pemimpin mesti memberikan energi positif kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain dengan ambisi heroik, keinginan yang suci (energised himself and others through heroic ambitions/holy desires). Ia membuka talenta dalam diri orang lain sebagaimana dalam diri. Akhirnya terbangun lingkungan yang saling terikat dan menyemangati dengan loyalitas, afeksi dan mutual support.

Seorang pemimpin tidak hanya datang untuk memberikan sesuatu yang berharga. Ia memang memiliki sesuatu yang berharga seperti visi misi. Akan tetapi itu tidak banyak berguna apabila tidak disampaikan dalam bahasa dan bentuk kultural yang bisa dipahami. Oleh karenanya perlulah pemimpin berperan seperti treasure hunter. Ia berperan dalam mencari harta karun yang telah ada di dalam kultur, konteks dan rakyat yang dihadapinya. Seperti seorang bidan, ia membantu rakyat untuk membuka harta karun yang bisa berkontribusi untuk kesejahteraan manusia dan kebudayaan. Dan harapannya akan mengubah (transformatif) hidup mereka. Karena pemimpin tidak bisa menggalinya seorang diri, ia bekerjasama dengan siapapun yang kompeten menggali harta harun itu.

Dengan memperlihatkan pemimpin sebagai treasure hunter, ini membuka wawasan bahwa pemimpin tidak selalu datang dengan barang jadi, yang siap dipakai. Ia justru membawa harapan dan janji, jika rakyat berani menggali harta karun mereka sendiri, jika sungguh bekerja keras, mereka akan menemukan harta karun yang dapat menstransformasi kehidupan mereka sendiri. Warta sukacitanya terletak pada deklarasi bahwa harta karun itu ada dan rakyat mau menggalinya penuh api.

“Api Mrapen sekarang ini makin mengecil kok, Mas” ungkap seorang yang tinggal di sekitar Api Mrapen itu.

Mengecil? Pertanda apa dari bangsa manusia ini…

Kredit foto: Perapian abadi di Mrapen, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah (Solo Pos)

 

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.