Every Man For Himself

Ayat bacaan:Yohanes 5:7
======================
Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.”

mementingkan diri sendiri

“Sumbangan lagi, sumbangan lagi… nanti dulu deh, untuk beli mobil saja belum cukup..” kata seseorang pada suatu kali ketika melihat peminta sumbangan tengah berada tidak jauh darinya. Ia mungkin hanya bercanda, tetapi itu adalah gambaran sebagian besar orang yang selalu merasa kekurangan dan tidak pernah merasa cukup. Kita cenderung menimbun dan menimbun dan merasa rugi untuk menabur. Bahkan perpuluhan pun menjadi perdebatan, apakah harus tepat 10% atau serelanya. Begitu banyak masalah di sekitar kita, begitu banyak orang yang butuh bantuan di sekeliling kita, itu faktanya. Padahal seandainya saja orang-orang percaya mengikuti apa yang disuarakan Kristus mengenai saling tolong menolong, sekiranya kita mengimani betul bagaimana kasih Allah, maka rasanya jumlah orang yang menderita bisa menurun dengan sangat drastis. Dalam hal kerohanian pun begitu. Kita semua ingin selamat, tidak satupun dari kita yang ingin berakhir dalam penyesalan kekal, namun berapa banyak di antara kita yang peduli kepada nasib begitu banyak saudara-saudara kita lainnya? Every man for himself, yang penting kita selamat. Itu pola pikir dunia yang sayangnya banyak pula dianut oleh orang-orang percaya. Dan itu bukanlah sebuah sikap yang diinginkan oleh Tuhan dari anak-anakNya.

Mari kita lihat lagi kisah kedatangan Yesus ke kolam Betesda dalam Yohanes 5:1-18. Kolam Betesda adalah tempat dimana orang-orang sakit bisa berharap untuk disembuhkan. Ada malaikat-malaikat yang muncul sewaktu-waktu di sana, dan begitu air diguncangkan oleh para malaikat itu, maka orang sakit yang pertama kali masuk menceburkan diri ke kolam akan sembuh, apapun penyakitnya. Tidaklah heran jika ada begitu banyak orang sakit berada di setiap serambi atau koridor yang menuju ke kolam. Jika kemarin yang saya angkat menjadi tulisan adalah kepedulian Yesus terhadap orang-orang berdosa, maka hari ini mari kita lihat bagaimana sifat mementingkan diri sendiri sudah berlangsung sejak dahulu kala.

Ketika itu ada seorang yang sudah mengalami sakit selam 38 tahun lamanya (ay 5) dan Yesus pun hadir menemuinya seraya bertanya, “Maukah engkau sembuh?” (ay 6). Lihatlah bagaimana jawaban orang tersebut: “Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.” (ay 7). Seperti itulah manusia pada umumnya, yang hanya peduli kepada keselamatan diri sendiri tanpa mau memikirkan orang lain. Apa yang terjadi jika ada yang sembuh? Sepertinya mereka akan langsung pulang tanpa mempedulikan orang lain yang menderita disana. Mengapa tidak bergantian saja? Karena seperti itulah gambaran sifat banyak orang, hanya mementingkan dirinya sendiri. Every man for himself.

Hal seperti itu tidaklah diinginkan oleh Tuhan. Kita diselamatkan untuk menyelamatkan. Karena itulah Yesus sendiri memberi Amanat Agung yang bisa kita baca dalam Matius 28:18-20. Sikap mementingkan diri sendiri tidaklah menggambarkan pribadi Allah sama sekali, dan itu pun tidak sesuai dengan perintah agar kita bisa menjadi terang dan garam di dunia ini. Jika kita melihat bagaimana cara hidup jemaat mula-mula seperti yang tertulis dalam kitab Kisah Para Rasul, kita akan melihat sendiri betapa cara hidup kita saat ini begitu jauh melenceng dari sikap mereka. Jemaat mula-mula memiliki kepedulian yang besar terhadap saudara-saudara mereka. Alkitab menyatakannya seperti ini: “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” (Kisah Para Rasul 2:44-45). Dan hal ini kemudian diulangi lagi dalam Pasal berikutnya. “Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama” (4:32). Tidak heran jika dikatakan “tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka” (ay 34), dan dengan demikian Tuhan berkenan dan terus menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. (2:47).

Bayangkan jika semua orang percaya memiliki sikap seperti itu, saya yakin kita akan melihat kebangunan rohani dan pemulihan secara besar-besaran di dunia ini. Selama sikap mementingkan diri sendiri masih menjadi bagian dalam hidup kita, maka jangan berharap kita mampu melihat hal tersebut. Yesus sendiri menginginkan kita untuk mengasihi sesama kita seperti halnya Dia sendiri mengasihi kita. (Yohanes 13:34). Hanya dengan cara itulah kita mampu memenuhi hukum Kristus. Paulus mengingatkan kita: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2). Yohanes pun mengingatkan hal yang sama: “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (1 Yohanes 3:17). Ya, bagaimana kita bisa mengaku sebagai anak-anak Allah yang memiliki kasih Allah dalam diri kita jika kita masih berhitung untung rugi dalam membantu sesama kita? Bagaimana kita bisa memproklamirkan diri sebagai pengikut Kristus jika kita masih tega berdiam diri melihat orang-orang yang ditimpa kesulitan? Itu bukan gambaran anak-anak Tuhan seperti yang Dia kehendaki. Oleh karena itu, mari kita hari ini lebih peka terhadap kesulitan saudara-saudara kita, tanpa memandang siapa mereka dan dari mana mereka berasal. Ingatlah bahwa Tuhan mengasihi mereka semua, sama seperti Tuhan mengasihi kita, dan kita diminta untuk mau berempati dan menolong mereka sebesar-besar kemampuan kita. Perhatikan sekeliling anda, adakah orang yang tengah kesulitan? Jika ada, mengapa tidak mulai mengulurkan tangan dan menyampaikan kasih Kristus kepada mereka saat ini juga?

Tuhan mencukupi bahkan memberi kelimpahan kepada kita, pakailah itu untuk memberkati sesama

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.