Evangelisasi, Memperdalam Iman

SEKALI peristiwa, saya bezuk di Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon (Sulawesi Utara). Ketika saya hendak mendoakan bapak yang sedang sakit, ternyata di ruangan tersebut, sudah banyak orang berkumpul di sana. Tiba-tiba satu di antara mereka berkata, “Pastor, kami dari kelompok Wilayah Rohani St. Anastasia“ stasi Kawiley paroki Lembean.

Dalam hati, saya kaget dan kagum atas semangat mereka untuk sehati-seperasaan dengan salah satu anggota jemaat yang sakit (menderita).  Semangat kebersamaan itu mengingatkan kita akan jemaat pada Gereja Perdana, “Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya” (Kis. 4: 34-35).

Evangelisasi: Tugas Para Misionaris
Evangelisasi merupakan  proses penyebaran Kabar Gembira (euangelion = Injil; Yun) tentang Kerajaan Allah kepada orang yang belum mengenal Injil. Pada masa itu, orang berlomba-lomba untuk membaptis sebanyak mungkin orang, seperti yang diamanatkan oleh Yesus, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28: 19 – 20). Evangelisasi ini dilakukan oleh para misionaris (misi atau  zending). Mereka diutus dari negeri seberang untuk mempertobatkan orang-orang yang belum mengenal Tuhan.

Film yang berjudul  “The Mission” tentunya amat tepat untuk melukiskan suasana para misionaris (utusan)  mewartakan Kabar Gembira tersebut. Pengalaman ini barangkali masih dialami oleh umat beriman generasi pertama. Mereka mempunyai kenangan indah dengan para pastor berjubah hitam dan berjenggot panjang. Mereka masih menggunakan kuda jika mengadakan kunjungan dari stasi ke stasi. Para misionaris meninggalkan kampung halamannya untuk hidup bersama-sama dengan jemaan pribumi. Untuk menjalani karya misi, mereka memiliki prinsip one way ticket, yaitu setelah memasuki sebuah daerah misi, tidak pikir untuk kembali ke kampung halamannya.

Para misionaris telah meletakkan pondasi yang kuat bagi iman jemaat awal. Mereka menanamkan pengajaran iman seperti katekese, yang membuat umat memiliki iman militan. Dan para misionaris menerapkan prinsip regenerasi, seperti yang dibuat oleh Yesus, “Berkali-kali Yesus mengatakan bahwa waktunya sudah dekat”.

Yesus telah menyiapkan para rasul untuk tugas pewartaan.  Para misionaris membuka Seminari-seminari untuk menyemai para calon imam, karena Gereja harus hidup terus, tatkala mereka harus kembali negeri asal atau menikmati masa tua di negeri di mana mereka berkarya sebagai misionaris.

Evangelisasi: Memperdalam Iman
Setelah iman ditanamkan, benih-benih itu pun bertumbuh dengan subur. Tentu saja tidak semua benih bertumbuh seperti yang diharapkan. Ada yang tumbuh dengan suburnya, namun juga ada benih yang terhimpit dan mati (Bdk.  Luk 8: 4 – 15).

Perjuangan umat dalam menghadapi himpitan-tantangan-kendala tersebut malah membuat iman mereka tumbuh subur. Tertullianus (160 – 240) , salah seorang  dari Bapa-bapa Gereja berkata, “Darah para martir telah menjadi benih Gereja.” Hingga hari ini, kesaksian iman (bhs. Yunani: martyrion) terus berlangsung dan mereka memperdalam iman dalam lingkungan mereka.

Umat berkumpul dalam wilayah rohani untuk saling berbagi. Dalam pendalaman iman (PKS, P.I: Adven, Prapaskah maupun mingguan), mengingatkan kita akan kegiatan jemaat Gereja Purba, “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar.Tunjukkanlah kasihmu dalam saling membantu …”(Ef. 4: 2).

Hidup iman tidak sekadar sharing dan pendalaman iman namun harus diwujudnyatakan dalam tindakan. “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati”( Yak. 2: 17)  yang disebut alm. Mgr. Alexander Djajasiswaja Pr  sebagai upaya pengalihan dari altar ke pasar.

Inilah yang juga dialami umat dari wilayah-wilayah rohani. Ketika ada Peringatan santo / santa pelindung, mereka membuat acara yang semua terlibat di dalamnya. Ada “fanatisme positif” dari setiap anggota wilayah rohani tersebut.

Dalam wilayah rohani tersebut, mereka kenal satu dengan yang lain bagaian saudara. Jika ada teman wilayah yang sakit maupun mendapatkan masalah, maka ada rasa saling menguatkan. Dan tentunya segala kegiatan mereka memuncak dalam Ekaristi, yang merupakan sumber kehidupan rohani (15 Agustus 2012)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: