Ekonomi Sumber Daya Hayati untuk Indonesia: Melihat Negeri Kita (2)

INDONESIA memiliki potensi untuk memenuhi semua kebutuhan pangan dan energi dari pengembangan sumber daya hayati nasional. Pertama, Indonesia terletak di khatulistiwa, artinya potensi produksi biomassa tumbuhannya termasuk yang paling  tinggi di dunia. Kedua, Indonesia memiliki banyak penduduk, sumber daya yang sangat diperlukan dalam ekonomi berbasis sumber daya hayati.

Saat ini kita punya cukup ilmu pengetahuan untuk merancang strategi yang bahkan dapat lebih baik daripada alam sendiri. Saat ini kita punya akses terhadap segala jenis tumbuhan, hewan, dan teknologi yang ada di dunia yang dapat digunakan untuk mengembangkan sumber daya hayati. 

Tapi sepertinya pemerintah Indonesia tidak berkomitmen mengembangkan sumber daya hayati untuk kesejahteraan masyarakat. Alih fungsi lahan pertanian terus mengurangi potensi produksi pangan dan energi, terutama di daerah padat penduduk. Izin perusakan hutan untuk perkebunan kelapa sawit terus dikeluarkan, yang artinya keragaman hayati hutan hujan tropis diganti dengan kebun monokultur yang merusak ekosistem.

Bahkan pemerintah tidak terlihat mendengarkan laporan FAO yang menyatakan praktek pertanian skala kecil, berbasis komunitas, dan memperhatikan ekologi lebih berhasil daripada pertanian konvensional, terutama di daerah tropis7. Kita perlu mencari alternatif untuk pengembangan sumber daya hayati yang lebih baik. 

Belajar dan bekerja

Banyak hal yang dapat dipelajari dari contoh yang baik. Saya ingin menceritakan kisah salah satu pahlawan yang saya kagumi, Willie Smits. Willie adalah warga negara Indonesia kelahiran Belanda yang dikenal melalui kiprahnya dalam Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) dan Yayasan Masarang.

Berawal dari keprihatinan terhadap nasib orangutan di Kalimantan, Willie dan timnya mengusahakan suaka orangutan di sebelah utara Balikpapan dan mengajak warga lokal berperan aktif. Proyek itu diberi nama Samboja Lestari8. Mereka merancang dan mengerjakan proyek di padang ilalang yang dulunya hutan, dan dalam waktu singkat mengembalikan lahan itu menjadi hutan.

Warga bertani, beternak, dan menyadap nira dari banyak pohon aren yang sengaja ditanam di sana. Nira kemudian difermentasi dan disuling, dengan demikian warga bisa mendapatkan bahan bakar memasak dan transportasi tanpa harus menebang pohon.

Hutan dengan 70 pohon aren per hektar dapat menghasilkan 24.000 liter etanol per tahun9. Hutan aren berbeda dengan kebun sawit yang monokultur, hutan aren dapat dipenuhi dengan pohon buah atau kayu yang dapat menghasilkan produk yang dibutuhkan manusia. Selain untuk dijadikan alkohol, nira dapat dipekatkan menjadi sirup atau dikristalkan menjadi gula aren yang lebih menyehatkan bila dibandingkan dengan gula tebu. Ada kelebihan lain dari sistem hutan aren yaitu penyadapan nira harus dilakukan oleh manusia dan tidak dapat dimekanisasi.

Artinya ada lapangan pekerjaan yang besar bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan tersebut. Masih banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari karya Willie Smits dan timnya, saya mengajak pembaca untuk melihat sendiri tautan-tautan yang ada di akhir artikel.

Permaculture

Berbicara lebih lanjut mengenai desain dan strategi dalam pengembangan sumber daya hayati, saya sangat menganjurkan sebuah ilmu desain yang bernama permaculture10. Konsep ini dikembangkan oleh Bill Mollison dan David Holmgren dari Australia sejak tiga dekade yang lalu. Permaculture adalah sebuah ilmu desain yang komprehensif, menghubungkan semua pengetahuan dan teknologi yang ada untuk mewujudkan habitat manusia yang lestari. Sampai saat ini sudah banyak sekali contoh proyek demonstrasi permaculture yang ada di dunia.

Gerakan permaculture dilakukan melalui pendekatan positif, artinya daripada menyesali kerusakan hutan lebih baik menumbuhkan hutan yang lebih baik dari sebelumnya. Daripada menunggu pemerintah melakukan sesuatu, lebih baik kita memulainya sendiri. Saya pikir itu adalah pendekatan paling tepat bagi pengembangan sumber daya hayati di Indonesia sekarang. (Selesai)

Artikel terkait: Ekonomi Sumber Daya Hayati untuk Indonesia (1)

Photo credit: Grojogan Sewu Tawangmangu, Karanganyar, Jateng (Mathias Hariyadi)

Referensi

  1. United Nations. 2010. World Population Prospects, The 2010 Revision. http://bit.ly/P938EL
  2. Larsen, J. Meat Consumption in China Now Double That in the United States. http://bit.ly/P91Qtl
  3. Brown, L. 2011. Can The United States Feed China. http://bit.ly/P93ZVT
  4. Brown, L. 2010. Eroding Soils and Shrinking Cropland. http://bit.ly/P93fQo
  5. Brown, L. 2011. The Great Food Crisis of 2011. http://bit.ly/P94oHR
  6. International Energy Agency. 2010. http://bit.ly/R35Xuo
  7. Kent, R. 2011. The Need for Sustainable Agriculture. http://bit.ly/OSsSCZ
  8. Smits, W. 2009. How to restore a rainforest. http://bit.ly/NWCKtF
  9. Smits, W. 2011. The Amazing Power of Sugar Palms. http://bit.ly/NWDm2c
  10. Permaculture Research Institute Australia. http://bit.ly/xgfbOR

5 pencarian oleh pembaca:

  1. cerita tentang tokoh tokoh kebaikan hewan atau binatang disebut
  2. mazmur 145:9-14
  3. Permaculture adalah
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: