Duri-duri yang Dilunakkan

murid sekolah

SELAIN ketertarikan saya pada hidup doa dan hal rohani, saya melihat diri saya punya banyak kelemahan yang membuat saya harus berperang setiap saat. Beberapa sifat buruk yang saya harus kalahkan adalah ketidaksabaran, keras kepala dan egois.

Sifat-sifat ini telah menghambat saya menjalankan kehidupan batin yang bersih seperti yang saya inginkan. Seringkali saya menyesali apa yang saya lakukan dan yang saya katakan karena semua itu hanya menghasilkan dosa. Kerap saya melakukannya tanpa sadar. Saya menyebutnya duri-duri, seperti yang dikatakan St Paulus tentang kelemahannya.

Karena tugas saya adalah pendidik di sekolah, maka seharusnya saya dapat bersikap lemah lembut, sabar, tidak mementingkan ego dan penuh perhatian terhadap murid-murid kecil saya. Hampir 16 tahun saya mengajar di berbagai tempat, selama itupula Tuhan sabar mendidik saya dengan tanganNya sendiri. Karakter buruk saya diperbaiki dan dipoles dengan beragam pengalaman sehingga lama-kelamaan saya melihat ada perbedaan dalam diri saya.

Saya ingat bagaimana Tuhan mengajar kelembutan melalui seorang murid kecil saya. Seperti yang sudah saya ungkapkan saya cenderung tidak sabar terhadap murid.

Suatu ketika saya mendapat seorang murid yang agak luar biasa di kelas saya. Sejak masuk hari pertama anak perempuan cantik ini terlihat menyendiri tidak punya teman.

Dari beberapa teman guru saya tahu bahwa anak ini tidak mempunyai keluarga yang lengkap. Ayah dan ibunya bercerai dan ia tinggal bersama ibunya yang bekerja sejak pagi jam lima sampai malam. Sehari-hari ia diurus oleh tantenya yang tinggal di rumah itu bersama ibunya.

Maka bagai sebuah layangan putus bocah kecil umur tujuh tahun ini terbang melayang sendirian. Perawakannya kurus, berwajah manis, dengan rambut agak kecoklatan. Pakaian seragamnya tampak agak kebesaran di dibadannya. Ia tidak terlalu bisa berbahasa Indonesia jadi sehari-hari ia menggunakan bahasa Inggris.

Barangkali latar belakang keluarga yang menyedihkan seperti itu membuatnya bersikap tak peduli dan membangkang. Suatu kali ia datang pada saya pada jam istirahat dan mengatakan ia tidak membawa bekal apa-apa. Sebagai guru yang sudah lama mengenal karakter anak, saya lalu menanyakan dimana tasnya. Entah mengapa saya ingin memeriksa isi tasnya, mana tahu ada makanan yang ia lupa.

Namun anak ini ketakutan lalu tiba-tiba mengatakan kalau ia membawa makanan tetapi sudah habis. Mendengar jawaban yang berubah-ubah maka saya putuskan memeriksa kotak makanannya dan saya dapati kosong.

Saya bertanya dimana makanan ini sebab saya masih melihat ada sisa-sisa nasi sedikit. Anak ini menjawab makanannnya sudah ia buang ke tempat sampah. Oh ..Tuhan!

Betapa sedihnya saya karena saat itu saya marah kepadanya. Kemudian saya berpikir kemarahan saya akan membuat dia menjauhi dan takut. Tetapi apa yang terjadi keesokan harinya membuat saya terkejut. Anak in datang dan memeluk saya dengan erat lalu mengatakan ia merindukan saya. Tentu bukan kata-kata palsu orang dewasa tetpi meluncur dari mulut seoarng anak yang amat jujur dan polos.

Karena terharu saya langsung membalas pelukannya dan merasakan betapa anak ini sangat membutuhkan perhatian. Sejak itu saya menjadi sahabatnya dan menjadi orang pertama yang selalu ada di dekatnya terutama saat ia sendirian.

Dari peristiwa itu saya melihat Tuhan turun tangan mendidik saya dan mengubah saya. Dia mengijinkan saya mengalami pertemuan dengan seorang murid yang entah mengapa diatur Kepala Sekolah untuk ada di kelas saya.

Mahkluk kecil lemah dengan nasib yang kurang beruntung inilah yang mengajari saya rasa empati, simpati, kesabaran dan mematikan ego sebagai manusia dewasa. Ada banyak kali Tuhan menyapa, menegur dan memperbaiki kelemahan saya dengan peristiwa sehari-hari.

Jika berjumpa dengan murid-murid, saya berpikir merekalah guru sejati bagi saya. Mereka mengajari saya bagaimana memafkan, mengajari saya cinta kasih, mengajari saya bagaimana menghargai mahkluk ciptaan Tuhan, mengajari saya mengalahkan ego oarng dewasa yang ingin selalu dihormati/dihargai/dipuji.

Doa: Syukur kepada Allah yang tak pernah lelah membentuk hidup saya dan begitu sabar terhadap kelemahan-kelemahan saya. Amin

Kredit foto: Ilustrasi (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.