Duduk Dekat Kaki Kristus dalam Adorasi Ekaristi Abadi

Minggu, 17 Juli 2016
Minggu Biasa XVI
Kej 18:1-10a; Mzm 15:2-3ab.3cd-4ab.5; Kol 1:24-28; Luk 10:38-42

… Tetapi Tuhan menjawabnya, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, padahal hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

HAL terpenting yang bisa kita renungkan dari bacaan Injil hari ini adalah bahwa kita semua butuh waktu berkontemplasi dan tinggal sedekat mungkin dengan Yesus Kristus sepanjang waktu dengan duduk dekat kaki-Nya. Sungguh, tanpa saat sendiri bersama-Nya, kita akan mati lemas tak berdaya!

Tentu, kita dipanggil untuk melayani seperti Marta. Namun kita harus melayani dengan kedalaman spirit kontemplasi dan doa. Kasih pelayanan sejati selalu bersifat kontemplatif dan memungkinkan kita melayani sesama terutama kaum papa.

Maka, seperti Maria, kita juga butuh waktu yang memungkinkan kita duduk di dekat kaki Yesus Kristus. Di sana kita memandang Dia, membiarkan Dia memandang kita, dan kita mendengarkan Dia.

Jauh lebih penting dari yang dapat kita buat untuk Kristus adalah berada bersama-Nya dan Dia akan bersama kita. Marta melakukan semua yang baik dengan tugasnya. Namun Maria, dengan mendengarkan Dia, membiarkan Dia melayaninya, menjadi sahabat dekat dan mesra, itulah bagian yang terbaik. Maka Yesus memuji dia karena ia telah memilih bagian yang terbaik.

Dalam Injil hari ini, Yesus Kristus mengajar kita bahwa hal terbesar yang dapat kita buat untuk-Nya, dan itu hal yang diperlukan, yakni membiarkan Dia menguasai hati kita sepenuhnya, menempatkan diri kita pada kaki-Nya, dan mendengarkan sabda-Nya. Apa yang dapat kita lakukan agar dapat mencontoh Maria dekat tinggal sedekat mungkin pada-Nya sepanjang waktu, duduk dekat kaki-Nya, memandang Dia, membiarkan Dia memandang kita, dan mendengarkan Dia?

Dalam pengalaman saya, dan sebagaimana diajarkan Gereja Katolik, kontemplasi paling berdaya guna agar kita bisa tinggal sedekat mungkin dengan Yesus Kristus sepanjang waktu adalah saat Adorasi Ekaristi Abadi. Tentu, yang terutama adalah Ekaristi. Menurut St. Ireneus dari Lyon, cara berpikir kita harus selaras dengan Ekaristi dan Ekaristi meneuhkan cara berpikir kita. Bahkan Gereja Katolik mengajarkan bahwa “Ekaristi adalah sumber dan puncak hidip Kristiani kita” (Lumen Gentium 11).

Sangat mengagumkan bahwa tiga Paus terakhir memiliki kepedulian pada Adorasi Ekaristi Abadi. St. Johanes Paulus II mengajarkan kepada kita, bahwa Ekaristi adalah jantung misteri kehidupan Gereja. Gereja hidup dari Ekaristi” (Ecclesia de Eucharistia 1). Kita dapat mengalami bahwa Ekaristi adalah jantung Gereja dalam Adorasi Ekaristi Abadi. Itulah sebabnya, St. Johanes Paulus II selalu mendorong dan meneguhkan kita untuk ber-Adorasi Ekaristi Abadi. Dalam Ensikliknya Dominicae Cenae (24 Februari 1980), beliau menulis, “Semoga Adorasi kita tak pernah berhenti!” Ia bahkan memulai Adorasi Ekaristi Abadi di Basilika St. Petrus di Roma pada tanggal 2 Desember 1981. Ia berharap bahwa Adorasi Ekaristi Abadi juga diselenggarakan di paroki-paroki dan komunitas Kristiani di seluruh dunia. Lagi, beliau berkata dalam Kongres Ekaristi Internasional ke-45 di Sevilla, Spanyol, tahun 1993, “Saya berharap agar Adorasi Ekaristi Abadi diselenggarakan di semua paroki dan komunitas Kristiani di seluruh dunia.”

Paus Benediktus XVI dalam Eksortasi Apostoliknya, Sacramentum Caritatis, juga merekomendasikan agar di setiap paroki disediakan gereja atau ruang doa khusus untuk Adorasi Abadi. Paus Emeritus Benediktus XVI juga menulis, “Saya ingin mengungkapkan penghargaan dan dukungan kepada semua yang anggota-anggotanya mendedikasikan waktu yang penting untuk Adorasi Ekaristi. Mereka melayani sebagai ragi kontemplasi bagi seluruh Gereja dengan menempatkan Kristus sebagai pusat hidup mereka.” (SCar 67).

Sangat menarik pula bahwa Paus Fransiskus menulis “Tanpa saat adorasi yang panjang, perjumpaan dalam doa dengan Sang Sabda, percakapan yang jujur dengan Tuhan, karya-karya kita akan mudah hampa tanpa makna; kita kehilangan energi akibat kelelahan dan kesulitan, dan semangat kita menjadi pudar. Gereja sangat membutuhkan nafas doa yang mendalam, dan  merupakan kegembiraan saya adanya kelompok-kelompok yang membaktikan diri secara khusus dengan doa dan permohonan, pembacaan penuh doa akan Sabda Allah dan Adorasi Ekaristi Abadi yang berkembang di setiap tingkat kehidupan menggereja” (EG 262). Lagi Paus menulis, “Betapa baiknya duduk di hadapan salib atau berlutut di hadapan Sakramen Mahakudus dan hadir begitu saja di hadapan-Nya! Betapa sangat indahnya ketika Dia kembali menyentuh hidup kita dan mendorong kita untuk membagikan kehidupan baru-Nya!” (EG 264)

Sungguh, waktu yang kita habiskan bersama Yesus Kristus dalam Adorasi Ekaristi Abadi mengubah hidup kita. Hal itu mengingatkan kita bahwa segala sesuatu dalam hidup kita memiliki tujuan saat kita berada dekat bersama-Nya.

Maka, marilah kita membangun komitmen untuk 30 menit atau bila mungkin 1 jam bersama Yesus Kristus dalam Adorasi Ekaristi Abadi. Mari kita mohon pada-Nya agar membantu kita melihat nilai abadi dari hal-hal biasa yang kita buat dan kita melakukannya denga cinta yang istimewa.

Tuhan Yesus Kristus, Dikau mengingatkan kami bahwa dengan memilih-Mu, kami sungguh memilih yang terbaik. Dikau pun datang pada kami hingga sukacita-Mu ada dalam kami, dan sukacita kami sempurna. Semoga kami memiliki kasih pelayanan sejati yang selalu kontemplatif hingga kami pun dengan murah hati melayani sesama terutama yang papa kini dan selamanya. Amin.

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.