(Don’t Be) The Angriest Man (3)

(sambungan)

Kembali kepada perihal marah, Paulus mengingatkan kita juga akan hal ini. “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:26-27). Marah boleh-boleh saja, tapi ingatlah bahwa dalam amarah kita jangan sampai berbuat dosa. Kemarahan bisa menjadi sebuah sarana iblis untuk menghancurkan kita. Jangan sampai marah kita berlarut-larut terlalu lama, karena itu bisa dimanfaatkan iblis. Yakobus mengingatkan agar kita “lambat untuk marah.” (Yakobus 1:19). Untuk hal ini, Yakobus punya alasan yang menarik. Perhatikan ayat berikutnya: “sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” (ay 20). Orang yang sedang dilanda kemarahan meluap-luap tidak akan dapat melakukan hal yang baik, yang berkenan di hadapan Allah.

Hampir setiap hari kita melihat di televisi atau media-media lainnya bagaimana orang yang dikuasai kemarahan terlihat sangat buruk dan mengerikan. Air wajah yang sadis dan kejam itu sama sekali tidak menarik siapapun. Apalagi ketika mereka mengamuk dan merusak, menganiaya atau bahkan membunuh. selain itu mengekspos kebodohan diri sendiri tapi juga membuat apa yang kita imani menjadi terlihat sangat buruk. Memupuk amarah bisa membuat kita justru menjadi batu sandungan bagi orang untuk mengenal pribadi Kristus yang sebenarnya. Orang diluar sana sudah terlalu

Janganlah jadi orang yang cepat emosi, karena kemarahan yang terlalu sering dan tidak terkendali akan merusak hidup kita, menghancurkan masa depan kita bahkan orang lain, dan merugikan banyak orang, termasuk diri kita sendiri. Jangan terburu nafsu untuk marah ketika anda tidak sependapat dengan orang lain atau ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan anda. Yakobus, Daud dan Paulus sudah memberikan sebuah tips-tips yang sangat luar biasa untuk mencegah kita dari melakukan kebodohan yang merugikan, merusak atau menghancurkan diri kita sendiri dan orang lain. Disamping itu juga merupakan tips penting agar kita tidak mempermalukan diri sendiri.

Adalah sangat sulit sebenarnya untuk marah tanpa berbuat dosa, maka adalah sangat baik jika kita lambat untuk marah dan sedapat mungkin menenangkan diri kita secepatnya sebelum emosi kita meluap naik. Ketika menghadapi suatu kondisi yang tidak sesuai dengan pendapat atau pikiran anda, biasakan diri anda untuk mendengar sesuatu secara lengkap terlebih dahulu (cepat mendengar), jangan terlalu cepat menghakimi, menuduh dan menyimpulkan sesuatu (lambat berkata-kata) dan jangan terburu nafsu untuk meluapkan kemarahan. (lambat untuk marah).

Kembali kepada ilustrasi renungan ini yang dimulai dengan film “The Angriest Man in Brooklyn”, pada akhirnya si orang paling emosian ini bisa mengatasi sifat gampang marah dan menjalani sisa hidupnya dengan bahagia disamping orang-orang terdekat yang ia kasihi. Bagi saya, film ini mengajarkan kita tentang keburukan sifat gampang emosi yang tidak terkendali dan mengingatkan kita akan bahaya yang mungkin terjadi disana. Bukankah jauh lebih indah menjalani hidup dengan rasa bahagia, senang dan tenang ketimbang memenuhinya dengan kemarahan?

Jika anda orang percaya yang termasuk mudah terpancing emosi, waspadai betul saat anda mulai merasakannya. Ingatlah bahwa kemarahan itu seperti api, yang mulanya kecil tapi kemudian membesar sampai tidak lagi bisa dikendalikan. Segera kontrol emosi atau kemarahan itu secepatnya sebelum pada suatu ketika kemarahan itu sudah tidak lagi terkendali dan mendatangkan kerugian bagi banyak pihak.

Control your anger before your anger controls you

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.