(Don’t Be) The Angriest Man (2)

(sambungan)

Daud mengajarkan bagaimana kita sebaiknya bersikap ketika sedang marah. “Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam.” (Mazmur 4:5). Diam, itu sangatlah efektif untuk meredam kemarahan. Seringkali kemarahan semakin tersulut karena kita membiarkan mulut kita mengeluarkan berbagai kata-kata bagai menyiramkan bensin ke bara api. Oleh karena itu tips dari Daud ini sangat baik untuk kita ingat dan lakukan saat kita mulai merasa panas dalam hati.

Masih dari Mazmur, perhatikan ayat berikut: “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.” (Mazmur 37:8). Kita diingatkan untuk segera meredakan kemarahan dan mendinginkan hati secepat mungkin, karena ada banyak kejahatan yang mengintip di balik sebuah kemarahan. Jangan membiarkan diri kita terbakar emosi berlarut-larut, karena eskalasi kemarahan itu biasanya akan terus meningkat jika tidak segera kita redam, dan pada akhirnya ada banyak perbuatan yang akan kita buat, yang pada suatu saat akan kita sesali juga pada akhirnya.

Mari kita lihat kelanjutan ayat dalam Mazmur 37 di atas. Setelah Daud mengatakan bahwa kemarahan itu tidak akan membawa manfaat apa-apa selain mengarah kepada berbagai tindak kejahatan, demikian bunyi ayat berikutnya: “Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri.” (Mazmur 37:9). Orang-orang yang berbuat jahat tidak akan mewarisi apa-apa selain kebinasaan yang kekal. Dan ini sejalan dengan apa yang dikatakan Yesus setelahnya: “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” (Matius 5:5). Orang yang mudah dipenuhi kemarahan tidak mampu menguasai diri mereka dan hanya akan menuai kehancuran, sebaliknya orang yang lemah lembut akan memperoleh banyak hal, bahkan dikatakan orang yang demikian akan memiliki bumi.

Lemah lembut merupakan satu dari sekian banyak buah Roh seperti yang tertulis dalam Galatia. “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” (Galatia 5:22). Tetapi bagaimana mungkin kita bisa lemah lembut ketika ada orang-orang yang memang membuat kita kesal atau emosi? Bukan salah kita dong kalau kita marah? Itu mungkin yang kita pikirkan. Tetapi dengarlah bahwa apa yang dikatakan dengan lemah lembut adalah orang yang memiliki hati tunduk kepada kehendak Tuhan dalam hidupnya. Penundukan berbicara luas dalam berbagai aspek, baik pikiran, tindakan, perkataan atau perbuatan. Dan semuanya seharusnya tunduk ke dalam tuntunan Tuhan, lewat Roh Kudus yang tinggal diam di dalam diri kita. Ketaatan kita untuk tunduk kepada Roh Allah, kerelaan kita untuk hidup dipimpin Roh Kudus akan menghasilkan buah-buah yang sangat baik, dimana beberapa diantaranya adalah kelemah lembutan dan penguasaan diri. “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” (ay 25). Inilah yang akan membuat kita mampu terus hidup dengan lemah lembut walaupun hal-hal yang sangat berpotensi mampu membangkitkan amarah mungkin terus mendatangi kita.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.